DEFINISI
Persalinan dengan janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada difundus dan bokong berada di bagian bawah. Kavum uteri
KLASIFIKASI
1. Letak bokong (Frank Breech)
Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas sehingga ujungnya terdapat setinggi bahu atau kepala janin dan yang teraba pada pemeriksaan dalam hanya bokong
2. Letak sungsang sempurna (Complete Breech)
Letak bokong dimana kedua kaki ada disamping bokong
3. Letak sungsang tidak sempurna (Incomplete Breech)
Adalah letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga ada kaki atau lutut, terdiri dari :
Kedua kaki = Letak kaki sempurna
Satu kaki = Letak kaki tidak sempurna
Kedua lutut = Letak lutut sempurna
Satu lutut = Letak lutut tidak sempurna
FREKUENSI
Dua setengah sampai tiga persen dimana 75% adalah complete breech presentation dan 25% adalah incomplete breech presentation.
ETIOLOGI
1. Fiksasi kepala pada pintu atas panggul tidak baik atau tidak ada, misalnya pada panggul sempit, hidrosefalus, anensefali, plasenta previa, tumor pelvis, dll
2. Janin mudah bergerak, seperti pada hidramnion, multipara, janin kecil (prematur)
3. Gemeli (kehamilan ganda)
4. Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus; bikornis, mioma uteri
5. Janin sudah lama mati
6. Sebab yang tidak diketahui
PENGKAJIAN DASAR DATA KLIEN
AKTIVITAS/ISTIRAHAT.
Melaporkan keletihan, kurang energi.
Letargi, penurunan penampilan.
SIRKULASI.
Tekanan darah dapat meningkat.
Mungkin menerima magnesium sulfat untuk hipertensi karena kehamilan.
ELIMINASI.
Distensi usus atau kandung kemih mungkin ada.
INTEGRITAS EGO.
Mungkin sangat cemas dan ketakutan.
NYERI/KETIDAKNYAMANAN.
Mungkin menerima narkotik atau anesthesia peridural pada awal proses persalinan.
Mungkin menunjukkan persalinan palsu di rumah.
Kontraksi jarang, dengan insensitas ringan sampai sedang (kurang dari tiga kontraksi dalam periode 10 mnt).
Dapat terjadi sebelum awitan persalinan (disfungsi fase laten primer) atau setelah persalinan terjadi (disfungsi fase aktif sekunder).
Fase laten persalinan dapat memanjang: 20 jam atau lebih lama pada nulipara (rata-rata adalah 8½ jam), atau 14 jam pada multipara (rata-rata adalah 5½ jam).
Tonus istirahat miometrial mungkin 8 mmHg atau kurang, dan kontraksi dapat terukur kurang dari 30 mmHg atau dapat terjadi masing-masing lebih dari 5 menit. Sedangkan, tonus istirahat dapat lebih besar dari 15 mmHg, pada peningkatan kontraksi 50 sampai 85 mmHg dengan peningkatan frekuensi dan penurunan intensitas.
KEAMANAN.
Dapat mengalami versi eksternal setelah gestasi 34 minggu dalam upaya untuk mengubah presentase bokong menjadi presentase kepala.
Penurunan janin mungkin kurang dari 1 cm/jam pada nulipara atau kurang dari 2cm/jam pada multipara (penurunan dengan durasi yang lebih lama [protracted]). Tidak ada kemajuan yang terjadi dalam 1 jam atau lebih untuk nulipara atau dalam 30 menit pada multipara (penghentian penurunan).
Pemeriksaan vagina dapat menunjukkan janin dalam malposisi (mis. dagu, wajah, atau posisi kening).
Serviks mungkin kaku/”tidak siap’.
Dilatasi mungki kurang dari 1,2 cm/jam pada primipara atau kurang dari 1,5 cm/jam untuk multipara, pada fase aktif (fase aktif protaksi).
SEKSUALITAS.
Dapat primigravida atau grand multipara.
Uterus mungkin distensi berlebihan karena hidramnion, gestasi multiple, janin besar, atau grand multiparitas.
Dapat mengalami tumor uterus tidak teridentifikasi.
DIAGNOSIS
1. Palpasi
Kepala teraba di fundus, bagian bawah bokong dan punggung di kiri atau di kanan
2. Auskultasi
DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat
3. Pemeriksaan dalam
Dapat teraba os sakrum, tuber ischii dan anus, kadang-kadang kaki (pada letak kaki)
4. Pemeriksaan foto rontgen : bayangan kepada di fundus
MEKANISME PERSALINAN
Mekanisme persalinan hampir sama dengan letak kepala, hanya disini yang memasuki p.a.p adalah bokong. Persalinan berlangsung agak lama, kerena bokong dibandingkan kepala lebih lembek, jadi kurang kuat menekan, sehingga pembukaan agak lama.
Bokong masuk kedalam rongga panggul dengan garis pangkal paha melintang atau miring. Setelah menyentuh dasar panggul terjadi putaran paksi dalam, sehingga dipintu bawah panggul garis panggul paha menempati diameter anteposterior dan trochanter depan berada dibawah simfisis. Kemudian terjadi fleksi lateral pada badan janin, sehingga trochanter belakang melewati perineum dan lahirlah seluruh bokong diikuti oleh kedua kaki. Setelah bokong lahir terjadi putaran paksi luar dengan perut janin berada diposterior yang memungkinkan bahu melewati pintu atas panggul dengan garis terbesar bahu melintang atau miring. Terjadi putaran paksi dalam pada bahu, sehingga bahu depan berada dibawah simfisis dan bahu belakang melewati perineum. Pada saat tersebut kepala masuk ke dalam rongga panggul dengan sutura sagitalis melintang atau miring. Di dalam rongga panggul terjadi putaran paksi dalam kepala, sehingga muka memutar ke posterior dan oksiput ke arah simfisis. Dengan suboksiput sebagai hipomoklion, maka dagu, mulut, hidung, dahi dan seluruh kepala lahir berturut-turut melewati perineum. Ada perbedaan nyata antara kelahiran janin dalam presentasi kepala dan kelahiran janin dalam letak sungsang. Pada presentasi kepala, yang lahir lebih dulu ialah bagian janin yang terbesar, sehingga bila kepala telah lahir, kelahiran badan tidak memberi kesulitan. Sebaliknya pada letak sungsang, berturut-turut lahir bagian-bagian yang makin lama makin besar, dimulai dari lahirnya bokong, bahu kemudian kepala. Dengan demikian meskipun bokong dan bahu telah lahir, hal tersebut belum menjamin bahwa kelahiran kepala juga berlangsung dengan lancar.
PROGNOSIS
Bagi ibu
Kemungkinan robekan pada perineum lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi
Bagi anak
Prognosa tidak begitu baik, karena dapat terjadi hipoksia atau perdarahan dalam tengkorak akibat terjepitnya tali pusat antara kepala dan panggul pada waktu kepala memasuki rongga panggul serta akibat retraksi uterus yang dapat menyebabkan lepasnya plasenta sebelum kepala lahir. Kelahiran kepala janin yang lebih lama dari 8 menit setelah umbilikus dilahirkan akan membahayakan kehidupan janin. Selain itu bila janin bernapas sebelum hidung dan mulut lahir dapat membahayakan karena mukus yang terhisap dapat menyumbat jalan napas. Bahaya asfiksia janin juga terjadi akibat tali pusat yang menumbung, hal ini sering dijumpai pada presentasi bokong kaki sempurna atau bokong kaki tidak sempurna, tetapi jarang dijumpai pada presentasi bokong.
Perlakuan kepala janin terjadi karena kepala harus melewati panggul dalam waktu yang lebih singkat sehingga tidak ada waktu bagi kepala menyesuaikan diri dengan besar dan bentuk panggul. Kompresi dan dekompresi kepala terjadi dengan cepat, sehingga mudah menimbulkan luka pada kepala dan perdarahan dalam tengkorak.
PENANGANAN
Dalam kehamilan
Karena kita tahu bahwa prognosa bagi anak tidak begitu baik, maka diusahakan mengubah letak janin dengan VERSI LUAR. Tujuannya untuk mengubah letaknya menjadi letak kepala.
Hal ini dilakukan pada primi dengan kehamilan 34 – 38 minggu, multi dengan usia kehamilan 36 – 38 minggu, dan tidak ada panggul sempit, gemeli, atau plasenta previa.
Syarat :
• Pembukaan kurang dari 5 cm
• DJJ dalam keadaan baik
• Ketuban masih ada
• Bokong belum turun atau masuk p.a.p
Teknik :
1. Lebih dahulu lepaskan bokong dari p.a.p dan ibu berada dalam posisi Trendelenburg
2. Tangan kiri letakkan dikepala dan tangan kanan pada bokong
3. Putar ke arah muka/perut janin
4. Lalu tukar tangan kiri diletakkan dibokong dan tangan kanan di kepala
5. Setelah berhasil pasang gurita dan observasi tensi, DJJ serta keluhan
Kontraindikasi :
1. Panggul sempit
2. Perdarahan antepartum
3. Hipertensi
4. Hamil kembar
5. Plasenta previa
Dalam persalinan
Syarat :
• Terjadi kemajuan dalam persalinan dan tidak ada tanda-tanda bahaya mengancam kehidupan janin maka tindakan untuk mempercepat kelahiran tidak diperlukan
• Pastikan tidak ada indikasi untuk seksio sesaria, mis : panggul sempit, plasenta previa, tumor dalam rongga panggul, dll
Tehnik pelaksanaan :
Terdiri atas partus spontan dan manual aid (manual hilfe). Waktu memimpin persalinan letak sungsang harus diingat bahwa ada 2 fase :
Fase I : Fase menunggu
Lakukan pengawasan kemajuan persalinan terutama kemajuan pembukaan dan penurunan bokong.. setelah bokong lahir, tidak boleh dilakukan dorongan Kristeller karena dapat mengakibatkan kedua tangan menjungkit ke atas dan kepala terdorong ke bawah diantara lengan (nuchae arm) sehingga menyulitkan kelahiran lengan dan bahu.
Fase II : Fase untuk bertindak cepat
Saat kepala masuk dalam rongga panggul, tali pusat akan tertekan antara kepala janin dan panggul ibu. Dengan demikian lahirnya bahu dan kepala tidak boleh memakan waktu lama dan diusahakan bayi sudah lahir seluruhnya dalam waktu 8 menit setelah umbilikus lahir. Setelah umbilikus lahir, tali pusat ditarik sedikit sehingga kendor untuk mencegah teregangnya tali pusat dan tali pusat terjepit antara kepala dan panggul.
Cara melahirkan bahu dan lengan :
Cara klasik (Deventer)
Pegang bokong dengan menggunakan ibu jari berdampingan pada os sakrum dan jari lain di lipat paha. Kemudian janin ditarik ke bawah, sehingga skapula berada di bawah simfisis. Lalu lahirkan bahu dan lengan belakang, kemudian lengan depan. Pada dasarnya lengan kiri dilahirkan oleh tangan kiri penolong dan begitu sebaliknya. Cara klasik ini terutama dilakukan apabila lengan depan menjungkit ke atas atau berada di belakang leher janin
Cara Lovset
Setelah sumbu bahu janin berada dalam ukuran muka belakang, tubuhnya ditarik ke bawah lalu dilahirkan bahu serta lengan belakang. Setelah itu janin diputar 90o sehingga bahu depan menjadi bahu belakang, lalu dikeluarkan seperti biasa.
Cara Mueller
Tarik janin vertikal ke bawah lalu dilahirkan bahu dan lengan depan. Cara melahirkan bahu-lengan depan bisa spontan atau dikait dengan satu jari menyapu muka. Lahirkan bahu belakang dengan menarik kaki ke atas lalu bahu – lengan belakang dikait menyapu kepala.
Cara Bracht
Bokong ditangkap, tangan diletakkan pada paha dan sakrum, kemudian dilakukan hiperlordosis tubuh janin ke arah perut ibu, sehingga lambat laun badan bagian atas, bahu, lengan dan kepala janin dapat dilahirkan. Biasanya hal ini dilakukan pada janin kecil dan multipara
Cara Potter
Dikeluarkan dulu lengan dan bahu depan dengan menarik janin ke bawah dan menekan dengan 2 jari pada skapula. Badan janin diangkat ke atas untuk melahirkan lengan dan bahu belakang dengan menekan skapula belakang
Cara Melahirkan Kepala :
Mauriceau (veit smellie)
Masukkan jari-jari dalam mulut (muka mengarah ke kiri = jari kiri, begitu sebaliknya). Letakkan anak menunggang pada lengan sementara tangan lain memegang pada tengkuk, lalu tarik ke bawah sampai rambut dan kepala dilahirkan. Kegunaan jari dalam mulut, hanya untuk menambah fleksi kepala.
De snoo
Tangan kiri menadah perut dan dada serta 2 jari diletakkan di leher (menunggang kuda). Tangan kanan menolong menekan di atas simfisis. Perbedaannya dengan Mauriceau ialah disini tangan tidak dimasukkan dalam vagina
Wigand Martin – Winckel
Satu tangan (kiri) dalam jalan lahir dengan telunjuk dalam mulut janin sedang jari tengah dan ibu jari pada rahang bawah. Tangan lain menekan di atas simfisis atau fundus
Naujoks
Satu tangan memegang leher janin dari depan, tangan lain memegang leher pada bahu, tarik janin ke bawah dengan bantuan dorongan dari atas simfisis
Cara praque terbalik
Dilakukan pada ubun-ubun kecil terletak sebelah belakang. Satu tangan memegang bahu janin dari belakang, tangan lain memegang kaki lalu menarik janin ke arah perut ibu dengan kuat.
Cara reposisi Nuchae Arms :
1. satu tangan menjungkit
janin diputar 90 derajat ke arah mana tangan menunjuk, sehingga tangan akan terlepas menyapu kepala
2. kedua tangan menjungkit
untuk tangan pertama seperti di atas dan untuk tangan kedua diputar berlawanan arah 180 derajat.
Kepala sulit lahir (after coming head)
1. bila janin masih hidup lahirkan kepala dengan ekstraksi forcep (cunam piper)
2. bila janin sudah meninggal dilakukan embriotomi (kraniotomi)
Bila letak sungsang pada janin besar dan disproporsi sefalopelvik meskipun ringan, merupakan indikasi mutlak untuk melakukan seksio sesaria. Seksio juga perlu dipertimbangkan pada primitua, wanita dengan riwayat infertilitas dan pada wanita dengan obstetrik yang kurang baik. Ekstraksi kaki atau bokong hanya dilakukan bila dalam kala II terdapat tanda-tanda bahaya bagi ibu atau janin, atau bila kala II berlangsung lama.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d tekanan mekanik dari bagian presentasi.
2. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi.
3. Cemas b.d krisis situasi.
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d diaforesis hebat.
5. Resiko cedera terhadap maternal b.d keletihan ibu.
6. Resiko kerusakan integritas kulit kepala b.d kemajuan cepat dari persalinan.
7. Resiko cedera terhadap janin b.d hipoksi jaringan.
8. Resiko kerusakan pertukaran gas b.d kompressi mekanis kepala/tali pusat.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d tekanan mekanik dari bagian presentasi.
Tujuan :
o Mengungkapkan penurunan nyeri.
o Menggunakan teknik yang tepat untuk mempertahankan control, istirahat diantara kontraksi
Intervensi :
Kaji derajat ketidaknyamanan melalui isyarat verbal dan non verbal. Kaji implikasi pribadi dan budaya dari nyeri.
R/ : sikap terhadap nyeri dan reaksi terhadap nyeri adalah individual dan berdasarkan pengalaman masa lalu, latar belakang buday, dan konsep diri.
Kaji kebutuhan klien terhadap sentuhan fisik selama kontraksi.
R/ : sentuhan dapat bertindak sebagai distraksi, memberikan dukungan untuk tenang, dan dorongan, serta dapat mempertahankan control/penurunan nyeri.
Bantu klien dan pelatih dengan mengubah bernafas lebih cepat.
R/ : mengarahkan kembali dan memfokuskan perhatian; membantu menurunkan persepsi nyeri dalam korteks serebri.
Berikan lingkungan tenang ysng dengan ventilasi adekuat, lampu redup, dan tidak ada petugas yang tidak dibutuhkan. Lakukan prosedur keperawatan di antara kontraksi.
R/ : lingkungan yang tidak menimbulkan pengalihan memberikan kesempatan optimal untuk istirahat dan relaksasi di antara kontraksi.
Pantau dilatasi serviks, catat penonjolan perineal atau penampilan vagina.
R/ : tingkat ketidaknyamanan meningkat sesuai dilatasi serviks, janin turun, dan rupture pembuluh darah kecil.
2. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi.
Tujuan : mengungkapkan dalam istilah sederhana patofisiologis dan implikasi situasi klinisnya.
Intervensi :
Jelaskan factor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus terhadap penyebab.
R/ : memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan memahami dan mengatasi situasi.
Kaji tingkat pengetahuan klien/pasangan, kesiapan, dan kemampuan belajar.
R/ : menurunkan ansietas dan stress, yang dapat menghambat pembelajaran dan memberikan klarifikasi untuk meningkatkan pemahaman serta mengembangkan rencana perawatan individu.
3. Cemas b.d krisis situasi.
Tujuan :
o Menyatakan menyadari ansietasnya.
o Tampak rileks dan menyatakan bahwa kecemasan dikurangi ke tingkat yang dapat diatasi.
o Mengungkapkan perhatian yang realistis berhubungan dengan proses konseling genetik/diagnosa prenatal.
o Mengidentifikasi dan menggunakan sumber/system pendukung secara efektif.
Intervensi :
Kaji sifat, sumber dan manifestasi kecemasan.
R/ : mengidentifikasi perhatian pada bagian khusus dan menentukan arah dan kemungkinan pilihan/intervensi.
Kembangkan sikap berbagi rasa secara terus menerus.
R/ : kesempatan bagi klien/pasangan untuk memulai pemecahan situasi.
Kunjungi pasangan setelah prosedur konseling. Berikan bimbingan antisipasi dalam hal perubahan fisik/psikologis.
R/ : kunjungan tindak lanjut oleh perawata primer dapat menghilangkan kecemasan/depresi pada pasangan.
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d diaforesis.
Tujuan : mempertahankan keseimbangan cairan, dibuktikan dengan membrane mukosa lembab, haluaran urine tetap dan nadi dapat diraba.
Intervensi :
Pertahankan haluaran/masukan akurat, tes urine terhadap keton, dan kaji pernafasan terhadap bau buah.
R/ : penurunan haluaran urine dan peningkatan BJ urine menunjukkan dehidrasi. Ketidakadekuatan masukan glukosa mengakibatkan pemecahan lemak dan adanya keton.
Pantau tanda vital. Catat laporan pusing pada perubahan posisi.
R/ : peningkatan frekuensi nadi dan suhu serta perubahan tekanan darah ortostatik dapat menandakan penurunan volume sirkulasi.
Kaji bibir dan membrane mukosa oral dan derajat saliva.
R/ : membrane mukosa/bibir yang kering dan penurunan saliva adalah indicator lanjut dari dehidrasi.
Perthatikan respons DDJ abnormal.
R/ : dapat menunjukkan efek dehidrasi maternal dan penurunan perfusi.
KOLABORASI
Berikan cairan intravena.
R/ : larutan parenteral mengandung elektrolit dan glukosa dapat memperbaiki atau mencegah ketidak seimbangan maternal dan janin serta dapat menurunkan keletihan maternal.
5. Resiko cedera terhadap maternal b.d keletihan ibu.
Tujuan : mencapai dilatasi serviks sedikitnya 1,2 cm/jam untuk primipara, 1,5 cm/jam untuk multipara pada fase aktif, dengan penurunan janin sedikitnya 1 cm/jam untuk primipara, 2 cm/jam untuk multipara.
Intervensi :
Tinjau ulang riwayat persalinan, awitan dan durasi.
R/ : membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab, kebutuhan pemeriksaan diagnostikdan intervensi yang tepat.
Evaluasi tingkat keletihan yang menyertai, serta aktivitas dan istirahat,sebelum awitan persalinan.
R/ : kelelahan ibu yang berlebihan menimbulkan disfungsi sekunder, atau mungkin akibat dari persalinan lama/persalinan palsu.
Catat kondisi serviks.
R/ : serviks kaku atau tidak siap akan dilatasi, menghambat penurunan janin/kemajuan persalinan.
Catat penonjolan, posisi janin dan presentasi janin.
R/ : indikator kemajuan persalinan ini dapat mengidentifikasi timbulnya penyebab persalinan lama. Seperti contoh, presentasi bokong tidak seefektif lebarnya dilatasi serviks pada presentasi verteks.
6. Resiko kerusakan integritas kulit kepala b.d kemajuan cepat dari persalinan.
Tujuan : bebas dari laserasi/robekan.
Intervensi :
Kaji tingkat persiapan dan penegtahuan. Berikan informasi yang perlu mengenai proses persalinan dan teknik pernafasan/relaksasi.
R/ : informasi membantu perawat mengatasi situasi secara efektif, meningkatkan kerjasama dengan klien yang perlu dalam tindakan darurat dan menurunkan resiko cedera.
Lakukan maneuver Leopold untuk menentukan posisi janin. Bila presentase abnormal atau posisi terdeteksi, atur untuk pemindahan segera sesuai kebutuhan.
R/ : bila presentase dan posisi selain verteks/oksiput anterior, komplikasi dapat timbul sehingga transportasi ke RS atau lingkungan kelahiran adalah penting.
Hentikan oksitosin bila diberikan.
R/ : menurunkan stimulasi uterus; dapat meningkatkan relaksasi uterus antara kontraksi.
KOLABORASI
Berikan tekanan perlahan terhadap kepala janin, menyokong perineum dengan tangan lain. Memudahkan kelahiran bahu dengan penarikan ke atas perlahan.
R/ : membantu mencegah kepala janin lahir terlalu cepat, yang dapat meningkatkan laserasi jalan lahir.
7. Resti cedera terhadap janin b.d persalinan lama.
Tujuan : menunjukkan DDJ dan variasi denyut per denyut dalam batas normal, tidak ada perubahan periodic yangtidak menyenangkan dalam respon terhadap kontraksi uterus.
Intervensi :
Melakukan maneuver Leopold untuk menentukan posisi janin, berbaring dan presentase.
R/ : berbaring transversal atau presentase bokong memerlukan kelahiran sesaria. Abnormalitas lain, seperti presentase wajah, dagu dan posterior juga dapat memerlukan intervensi khusus untuk mencegah persalinan yang lama.
Catat kemajuan persalinan.
R/ : persalinan lama/disfungsional dengan perpanjangan fase laten dapat menimbulkan masalah kelelahan pada ibu, stress berat, infeksi dan hemoragi karena atoni/rupture uterus, menempatkan janin pada resiko lebih tinggi terhadap hipoksia dan cedera.
Dapatkan data dasar DDJ secara manual dan/elektronik. Pantau dengan sering, perhatikan variasi DDJ dan perubahan periodic pada respons terhadap kontraksi uterus.
R/ : menurunkan stimulasi uterus; dapat meningkatkan relaksasi uterus antara kontraksi.
8. Resiko kerusakan pertukaran gas b.d kompresi mekanis kepala/tali pusat.
Tujuan : mempertahankan control pola pernafasan dan menggunakan posisi yang meningkatkan aliran balik vena/sirkulasi plasenta.
Intervensi :
Kaji station janin, presentasi dan posisi. Bila posisi janin pada posisi posterior oksiput tempatkan klien menyamping.
R/ : selama persalinan tahap II, janin rentan pada bradikardia dan hipoksia, yang dihubungkan dengan stimulasi vagal selama kompresi kepala. Posisi rekumben lateral memudahkan rotasi dari posisi posterior oksiput (OP) ke posisi anterior oksiput (AO).
Posisikan klien pada rekumben lateral atau posisi tegak atau miring dari sisi ke sisi sesuai indikasi.
R/ : meningkatkan perfusi plasenta, mencegah sindrom hipotensif supine, dan memindahkan tekanan dari bagian presentasi tali pusat, meningkatkan oksigenase janin dan memperbaiki pola DDJ.
Kaji pola pernafasan klien. Perhatikan laporan sensasi kesemutan dari wajah atau tangan, pusing, atau spasme karpopedal.
R/ : mengidentifikasi pola pernafasan tidak efektif (tidak tepat).
Biarkan klien bernafas ke dalam kedua telapak tangan yang ditelungkupkan di depan hidung dan mulut atau kedalam kantung kertas kecil, sesuai indikasi.
R/ : meningkatkan kadar karbon dioksida dan memperbaiki alkalosis respiratori yang disebabkan oleh hiperventilasi.
Kaji DDJ janin, dengan fetoskop atau monitor janin, selama dan setelah setiap kontraksi atau upaya mendorong.
R/ : deselerasi dini karena stimulasi vagal dan kompresi kepala harus kembali pada pola dasar di antara kontraksi.
Perhatikan variabilitas DDJ jangka pendek dan jangka panjang.
R/ : rata-rata perubahan denyut per denyut harus direntang dari 6 sampai 10 dpm, menandakan integritas SSP janin.
DAFTAR PUSTAKA
1. Doengoes, M.E, 2001, Perencanaan Perawatan Maternal/Bayi, EGC, Jakarta.
2. Mochtar, R, 1998, Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta.
3. Wikujosastro, H, 1997, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar