Selasa, 28 Desember 2010

ABSES OTAK

Pengertian
Kumpulan dari unsure-unsur infeksi adalam jaringan otak dan merupakan implikasi yang berhubungan dengan beberapa bentuk meningitis.
Etiologi
o Terjadi melalui inflasi otak langsung dari trauma intracranial
o Melalui penyebaran infeksi dari daerah lain seperti sinus telinga, gigi (infeksi sinus pranasal,otitis media, sepsis gigi)
o Melalui penyebaran infeksi dari organ lain (abses paru-paru, endokarditis infektif)
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik dari abses otak diakibatkan oleh perubahan dinamika intracranial (edema, pergeseran otak), infeksi atau lokasi abses. Sakit kepala biasanya memburuk pada pagi hari, adalah gejala paling lanjut pasien. Muntah juga umum terjadi.Tanda neurologik local (kelemahan ekstremitas, penurunan penglihatan, kejang dapat terjadi bergantung pada tempat abses). Terdapat perubahan pada status mental pasien, seperti ditunjukkanpada perilaku lethargi, peka atau perilaku disorientasi. Demam mungkin ada mungkin juga tidak.
Evaluasi Diagnostik
Pengulangan pengkajian neurologik dan pengkajian pasien terus –menerus penting untuk menentukan letak abses setelah evolusi dan resolusi lesi-lesi supuratif dan dalam menentukan waktu yang optimal untuk dilaksanakan intervensi pembedahan.
Penatalaksanaan
Sasaran penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan abses. Abses otak diobati dengan terapi anti mikroba diberikan untuk menghilangkan organisme sebagai penyebab atau menurunkan perkembangan virus. Dosis besar melalui intravena biasanya ditentukan praoperatif untuk menembus jaringan otak dan abses otak.
o Kortikosteroid dapat diberikan untuk menolong menurunkan radang edema serebral jika pasien memperlihatkan adanya peningkatan deficit neurologik.
o Obat-obat antikonvulsan ( feritidin, fenobarbital ) dapat diberikan sebagai profil aksis mencegah terjadinya kejang.
o Abses yang luas dapat diobati dengan terapi antimikroba yang tepat dengan pamantauan ketet melalui CT Scan

Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi sekunder b/d penyebaran sumber infeksi.
2. Perubahan perfusi serebral b/d peningkatan TIK
3. Nyeri akut b/d adanya proses infeksi/inflamasi
4. Perubahan persepsi sensorik b/d perubahan struktur selular korteks sensoris
5. Mobilitas fisik b/d kerusakan neuromuscular

Dx I
Tujuan : Pasien akan mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti
penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
Intervensi :
1. Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan
R/ : Pada fase awal , isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui dosis AB yang cocok telah diberikan untuk menurunkan risiko penyebaran pada orang lain
2. Pertahankan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik bagi pasien, pengunjung maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan
R/ : Menurunkan risiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi.
3. Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi
R/ : Timbulnya tanda klinis yang terus-menerus merupakan indikasi perkembangan penyebab pathogen yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu/berbulan-bulan terjadi penebaran secara hematogen/sepsis
4. Teliti adanya keluhan nyeri dada, berkembangnya nadi yang tidak teratur/diorifania atau demam yang terus-menerus
R/ : Infeksi sekunder dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut.
5. Auskultasi bunyi napas. Pantau kecepatan pernapasan dan usaha pernapasan
R/ : Adanya ronkhimengi, takipnea,dan peningkatan kerja pernapasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi sekret dan risiko terjadinya infeksi pernapasan
6. Ubah posisi pasien dengan teratur dan anjurkan untuk melakukan napas dalam
R/ : Mobilisasi sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan risiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan
7. Catat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau)
R/ : Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan risiko terhadap infeksi kandung kemih/ginjal/awitan sepsis
8. Sertifikasi kontak yang beresiko terhadap perkembangan proses infeksi serebral dan anjurkan mereka untuk meminta pengobatan
R/ : Orang-orang dengan kontak pernapasan memerlukan terapi AB profilaksis untuk mencegah penyebaran infeksi
9. Berikan terapi antibiotic IV sesuai indikasi : penisilin-g, ampisili, kloramfenikol, gentamisin, amfeterisin B.
R/ : Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu. Catatan : obat intratekal mungkin di indikasikan untuk basilus gram-negatif, jamur,amuba.

10. Siapkan untuk intervensi pembedah sesuai indikasi
R/ : Mungkin memerlukan drainase dari adanya abses otak atau pelepasan “pirau ventrikel “untuk mencegah rupture mengontrol penyebaran infeksi.

Dx II
Tujuan : Pasien akan mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/ membaik dan fungsi motorik/sensorik dengan :
- Mendemostrasikan tanda-tanda vital stabil
- Melaporkan tak adanya penurunan berat sakit kepala
- Mendemonstrasikan tak adanya perbaikan kognitif dan tanda peningkatan
TIK.
Intervensi :
1. Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau TTV sesuai indikasi setelah dilakukan punksi lumbal
R/ : Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya risiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
2. Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS
R/ : Pengkajian, kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK atau sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran luasnya dan perkembangan dari kerusakan serebral.
3. Kaji adanya rigiditas nukal, gemetar, gelisah yang meningkat, peka rangsang dan adanya serangan kejang
R/ : Merupakan indikasi adanya iritasi meningeal dan mungkin juga terjadi dalam periode akut penyembuhan dari trauma otak.
4. Pantau TTV : TD, catat serangan hipertensi sistolik yang terus-menerus dan tekanan nadi yang melebar.
R/ : Normalnya, autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan konstan sebagai dampak adanya fluktuasi pada TD sistemik kehilangan fungsi autoregulasi mungkin mengikuti kerusakan vaskuler serebral lokal atau difusi yang menimbulkan peningkatan TIK. Fenomena ini dengan penurunan tekanan diastolic (tekanan nadi yang melebar) terjadi, yang mencerminkan trauma /tekanan batang otak pada tidak adanya penyakit jantung yang mendasari.
5. Pantau frekuensi/irama jantung
R/ : Perubahan pola frekuensi (tersering atau bradikardi) dan disritmia dapat terjadi yang mencerminkan trauma /tekanan batang otak pada tidak adanya penyakit jantung yang mendasari.
6. Pantau pernapasan, catat pola dan irama pernapasan, seperti adanya periode apnea setelah hiperventilasi yang disebut pernapasan cheyne-stokes
R/ : Tipe dari pola pernafasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK /daerah serbral yang terkena dan mungkin merupakan indikasi perlunya untuk melakukan inkubasi dengan disertai pemasangan ventilator mekanik.
7. Pantau suhu dan juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi penggunaan selimut. Lakukan kompres hangat jika ada demam. Tutupi ekstermitas dengan selimut ketika selimut hipotermia digunakan
R/ : Demam biasanya erhubungan denagan proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus terjadipeningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen (trauma dengan menggigil) yang dapat meningkatkan TIK .
8. Pantau masukan dan keluaran. Catat karakteristik urine,turgor kulit, keadaan membrane mukosa.
R/ : Hipertermia meningkatakan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan risiko dehidrasi,terutama jika tingkat kesadaran menurun/ munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral
9. Bantu pasien untuk berkemih/membatasi batuk, muntah, mengejan. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas selama pergerakan/perpindahan di tempat tidur.
R/ : Aktifitas seperti ini akan meningkatkan TIK. Ekshalasi selama perubahan posisi tersebut dapat mencegah pengaruh maneuver valsalva
10. Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman seperti : masase punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut.
R/ : Meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi yang berlebihan
11. Berikan waktu istirahat antara aktivitas perawatan dan batasi lamanya tindakan tersebut
R/ : Mencegah kelelahan berlebihan. Aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dapat meningkatkan TIK dengan menghasilkan akumulatif stimulus
12. Anjurkan keluarga untuk berbicara dengan pasien jika diperlukan
R/ : Mendengar suara yang menyenangkan dari orang yang terdekat/keluarga tampaknya mempengaruhi relaksasi pada beberapa pasien dan mungkin dapat menurunkan TIK.
13. Tinggikan kepala tempat tidur sekitar 15-45o sesuai toleransi/indikasi. Jaga kepala pasien tetap berada pada posisi netral
R/ : Peningkata aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK
14. Berikan cairan IV dengan alat control khusus. Batasi pemasukan cairan dan berikan larutan hipertonik/elektrolit sesuai indikasi
R/ : Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK. Restriksi, cairan mungkin diperlukan untuki mengurangi cairan tubuh total dan selanjutnya akan menurunkan elemen serebral terutama saat munculnya SIADH


15. Pantau gas darah arteri. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.
R/ : Terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk/meningkatkan iskemik serebral.
16. Gunakan selimut hipotermia
R/ : Membantu dalam mengontrol/menstabilkan peningkatan suhu eksteren, menurunkan kebutuhan metabolic/resiko kejang dan meningkatkan keamanan pasien.
17. Berikan obat sesuai indikasi, seperti :
a. Steroid, deksametason, metal prednium (medrol)
b. Klorpromazine (thorazine)
c. Asetaminofen (Tylesol), baik oral maupun rectal.
R/ : a. Dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral, dapat juga menurunkan resiko terjadinya fenomena rebound ketika menggunakan manitol
b. Obat pilihan dalam mengatasi kelainan postur tubuh atau menggigil yang dapat meningkatkan TIK (dapat menurunkan ambang kejang) berbagai pencetus terjadinya toksisitas dilantin.
c. Menurunkan metabolisme seluler/menurunkan konsumsi oksigen dan resiko kejang.

Dx III
a. Tujuan : Pasien akan melaporkan nyeri hilang/ terkontrol, menunjukan postur rileks dan mampu tidur/istirahat yang tepat.
b. Intervensi :
1. Berikan lingkungan tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi
R/ : Menurunkan reaksi terhadap stimulus dari luar atau sensitivitas cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
2. Tingkatkan tirah baring, bantulah perawatan yang penting.
R/ : Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri
3. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dan diatas mata
R/ : Meningkatkan vasokonstriksi penumpulan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri
4. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman seperti kepala agak tinggi sedikit pada meningitis
R/ : Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut
5. Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan masase otot daerah leher/bahu
R/ : Dapat mambantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
6. Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher, punggung, jika tidak ada demam
R/ : Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit/rasa tidak nyaman
7. Berikan analgetik, seperti asetaminofen, kodein
R/ : Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat mungkin merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidak-aturan dalam pemeriksaan neurologist

Dx IV

a. Tujuan :
Pasien akan :
1. Melakukan kembali/mempertahankan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi
2. Mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu
3. Mendemonstrasikan perubahan perilaku gaya hidup untuk mengkompensasi deficit basil
b. Intervensi
1. Evaluasi pantau secara teratur perubahan orientasi, kemampuan berbicara atau perasaan afektif, sensorik dan proses pikir.
R/ : Fungsi serebral, bagian atas biasanya terpengaruh lebih dulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi. Kerusakan dapat terjadi saat trauma awal atau kadang-kadang berkembang refleksnya akibat dari pembengkakan/perdarahan. Perubahan motorik, persepsi, kognitif dan kepribadian mungkinberkembang dan menetap dengan perbaikan respon secara perlahan-lahan atau tetap bertahan secara terus-menerus pada derajat tertentu.
2. Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan, panas/dingin, ben tajam/tumpul, dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh. Perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang lain.
R/ : Informasi penting untuk keamanan pasien. Semua system sensorik dapat terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan atau penurunan sensitivitas atau kehilangan sensasi/kemampuan untuk menerima dan berespons secara sesuai pada suatu stimulasi.
3. Observasi respon halusinasi
R/ : Respons individu mungkin berubah-ubah namun umumnya seperti emosi yang labil, frustasi, apatis dan muncul tingkah laku impulsive selama proses penyembuhan dari trauma kepala. Pencatatan terhadap tingkah laku memberikan informasi yang diperlukan untuk perkembangan proses rehabilitasi.
4. catat adanya perubahan yang spesifik dalam hal kemampuan seperti memusatkan kedua mata dengan menggunakan instruksi verbal dalam hal kemampuan dengan jawaban “ya” atau “tidak”, maka sendiri dengan tangan dominant pasien.
R/ : Membantu melokalisasi daerah otak yang mengalami gangguan dan mengidentifikasi tanda perkembangan terhadap peningkatan fungsi neurologist.
5. hilangkan suara bising/stimulasi yang berlebihan sesuai kebutuhan.
R/ : Menurunkan ansietas, respon emosi yang berlebihan/bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan
6. Bicara dengan suara yang lembut dan peka. Gunakankalimat yang pendek dan pertahankan kontak mata.
R/ : Pasien mungkin mengalami keterbatasan perhatian/pemahaman selama dalam masa akut dan penyembuhan dan tindakana ini membantu pasien untuk memunculkan komunikasi.
7. Pastikan /validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik. Orientasikan kembali pasien secara teratur pada lingkungan, sikap dan tindakan yang akan dilakukan terutama jika penglihatannya terganggu.
R/ : Membantu pasien untuk memisahkan pada realitas dari perubahan persepsi. Gangguan fungsi kognitif dan atau penurunan penglihatan dapat menjadi potensi timbulnya disorientasi dan ansietas.
8. Berikan stimulasi yang bermanfaat secara verbal (berbincang-bincang dengan pasien), penerimaan (seperti terhadap kopi, minyak tertentu), taktil (sentuhan, memegang tangan pasien) dan pendengaran (dengan tape, TV, radio, pengunjung, dan sebagainya) terdiri isolasi baik secara fisik atau psikologis.
R/ : Pilihan masukan sensorik secara cermat bermanfaat untuk menstimulasi pasien dengan baik selama melatih kembali fungsi kognitifnya.
9. berikan lingkungan terstruktur termasuk terapi aktivitas. Buatkan jadwal untuk pasien (jika memungkinkan) dan tinjau kembali secara teratur.
10. Buat jadwal istirahat yang adekuat/periode tidur tanpa ada ganguan
11. Gunakan penerangan siang atau malam hari
12. Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas.
13. Berikan keamanan terhadap pasien, seperti memberi bantuan pada penghalang tempat tidur, membantu saat berjalan melindungi dari benda tajam dan panas. Catat adanya penurunan persepsi pada catatan dan letakkan pad tempat tidur pasien.
14. Temukan cara lain untuk menanggulangi penurunan persepsi sensorik ini, seperti mengatur hidup, membuat catatan pribadi mengenai daerah tubuh yang terkena, makanan yang menguntungkan terhadap penglihatan, menggambarkan bagian tubuh yang terkena trauma.
15. rujuk pada ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi kognitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar