PENDAHULUAN
Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang biasa disebut labiopalatoskisis. Kelainan ini diduga terjadi akibat infeksi virus yang diderita ibu pada kehamilan trimester 1. jika hanya terjadi sumbing pada bibir, bayi tidak akan mengalami banyak gangguan karena masih dapat diberi minum dengan dot biasa. Bayi dapat mengisap dot dengan baik asal dotnya diletakan dibagian bibir yang tidak sumbing.
Kelainan bibir ini dapat segera diperbaiki dengan pembedahan. Bila sumbing mencakup pula palatum mole atau palatum durum, bayi akan mengalami kesukaran minum, walaupun bayi dapat menghisap naun bahaya terdesak mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan mengalami gangguan pertumbuhan karena sering menderita infeksi saluran pernafasan akibat aspirasi.keadaan umu yang kurang baik juga akan menunda tindakan untuk meperbaiki kelainan tersebut.
A. DEFINISI
Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing pada bibir) yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit (Fitri Purwanto, 2001).
Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada wajah ( Suryadi SKP, 2001).
Berdasarkan ketiga pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa labio palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.
B. ETIOLOGI
Faktor Heriditer
Sebagai faktor yang sudah dipastikan. Gilarsi : 75% dari factor keturunan resesif dan 25% bersifat dominan.
Mutasi gen.
Kelainan kromosom
Faktor Eksternal / Lingkungan :
Faktor usia ibu
Obat-obatan. Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin, Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid
Nutrisi
Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella
Radiasi
Stres emosional
Trauma, (trimester pertama)
C. PATOFISIOLOGI
Kelainan sumbing selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Berbeda pada kelainan bibir yg terlihat jelas secara estetik, kelainan sumbing langit2 lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan, minum, dan bicara. Pada kondisi normal, langit2 menutup rongga antara mulut dan hidung. Pada bayi yang langit2nya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak.Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurang dan jelas berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya selain juga mudah terkena infeksi saluran nafas atas karena terbukanya palatum tidak ada batas antara hidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga.
D. MANIFESTASI KLINIS
Pada labio palatoschizis
Distorsi pada hidung
Tampak sebagian atau keduanya
Adanya celah pada bibir
Pada palato skisis:
• Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan atau foramen incisive
• Adanya rongga pada hidung
• Distorsi hidung
• Teraba celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari
• Kesukaran dalam menghisap atau makan
E. KOMPLIKASI
Gangguan bicara dan pendengaran
Terjadinya otitis media
Asirasi
Distress pernafasan
Risiko infeksi saluran nafas
Pertumbuhan dan perkembangan terhambat
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Foto rontgen
Pemeriksaan fisisk
MRI untuk evaluasi abnormal
G. PEMERIKSAAN TERAPEUTIK
Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan
Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat
Mencegah komplikasi
Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan
Pembedahan: pada labio sebelum kecacatan palato; perbaikan dengan pembedahan usia 2-3 hari atua sampai usia beberapa minggu prosthesis intraoral atau ekstraoral untuk mencegah kolaps maxilaris, merangsang pertumbuhan tulang, dan membantu dalam perkembangan bicara dan makan, dapat dilakukan sebelum penbedahan perbaikan.
Pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitaspenutupan adalah untuk perkembangan bicara.
H. PENATALAKSANAAN
Pada bayi yang langit-langitnya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak.Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurang. Untuk membantu keadaan ini biasanya pada saat bayi baru lahir di pasang:
Pemasangan selang Nasogastric tube, adalah selang yang dimasukkan melalui hidung..berfungsi untuk memasukkan susu langsung ke dalam lambung untuk memenuhi intake makanan.
Pemasangan Obturator yang terbuat dari bahan akrilik yg elastis, semacam gigi tiruan tapi lebih lunak, jd pembuatannya khusus dan memerlukan pencetakan di mulut bayi. Beberapa ahli beranggarapan obturator menghambat pertumbuhan wajah pasien, tp beberapa menganggap justru mengarahkan. Pada center2 cleft spt Harapan Kita di Jakarta dan Cleft Centre di Bandung, dilakukan pembuatan obturator, karena pasien rajin kontrol sehingga memungkinkan dilakukan penggerindaan oburator tiap satu atau dua minggu sekali kontrol dan tiap beberapa bulan dilakukan pencetakan ulang, dibuatkan yg baru sesuai dg pertumbuhan pasien.
Pemberian dot khusus, dot ini bisa dibeli di apotik2 besar. Dot ini bentuknya lebih panjang dan lubangnya lebih lebar daripada dot biasa; tujuannya dot yang panjang menutupi lubang di langit2 mulut; susu bisa langsung masuk ke kerongkongan; karena daya hisap bayi yang rendah, maka lubang dibuat sedikit lebih besar.
operasi, dengan beberapa tahap, sebagai berikut :
Penjelasan kepada orangtuanya
Umur 3 bulan (rule over ten) : Operasi bibir dan alanasi(hidung), evaluasi telinga.
Umur 10-12 bulan : Qperasi palato/celah langit-langit, evaluasi pendengaran dan telinga.
Umur 1-4 tahun : Evaluasi bicara, speech theraphist setelah 3 bulan pasca operasi
Umur 4 tahun : Dipertimbangkan repalatoraphy atau/dan Pharyngoplasty
Umur 6 tahun : Evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran.
Umur 9-10 tahun : Alveolar bone graft (penambahan tulang pada celah gusi)
Umur 12-13 tahun : Final touch, perbaikan-perbaikan bila diperlukan.
Umur 17 tahun : Evaluasi tulang-tulang muka, bila diperlukan advancementosteotomy LeFORTI
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh atau tidak efektif dalam meneteki ASI b/d ketidakmampuan menelan/kesukaran dalam makan sekunder dari kecacatan dan pembedahan.
Risiko aspirasi b/d ketidakmampuan mengeluarkan sekresi sekunder dari palato skisis
Risiko infeksi b/d kecacatan (sebelum operasi) dan atau insisi pembedahan
Kurang pengetahuan keluarga b/d teknik pemberian makan, dan perawatan dirumah
Nyeri b/d insisi pembedahan
J. INTERVENSI
• Nutrisi yang adekuat dapat dipertahankan yang ditandai adanya peningkatan berat badan dan adaptasi dengan metode makan yang sesuai
• Anak akan bebas dari aspirasi
• Anak tidak menunjukan tanda-tanda infeksi sebelum dan sesudah operasi, luka tampak bersih, kering dan tidak edema.
• Orang tua dapat memahami dan dapat mendemonstrasikan dengan metode pemberian makan pada anak, pengobatan setelah pembedahan dan, harapan perawat sebelum dan sesudah operasi.
• Rasa nyaman anak dapat dipertahankan yang ditandai dengan anak tidak menangis, tidsk lsbil dan tidak gelisah.
K. IMPLEMENTASI
Mempertahankan nutrisi adekuat
Kaji kemampuan menelan dan mengisap
Gunakan dot botol yang lunak yang besar, atau dot khusus dengan lubang yang sesuai untuk pemberian minum
Tempatkan dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah mendorong makan/minuman kedalam
Berikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan
Tepuk punggung bayi setiap 15ml 30ml minuman yang diminum, tetapi jangan diangkat dot selama bayi menghisap
Berikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan
Jelaskan pada orang tua tentang prosedur operasi, puasa 6 jam dan pemberian infus lainnya
Prosedur perawatan setelah operasi, ranngsangan untuk menelan atau menghisap, dapat menggunakan jari-jari dengan cuci tangan yang bersih atau dot sekitar mulut 7-10 hari, bila sudah toleran berikan minuman pada bayi, dan minuman atau makanan lunak untuk anak sesuai dengan diitnya.
Mencegah aspirasi dan obstruksi jalan napas
o Kaji status pernafasan selama pemberian makan
o Gunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada bibir
o Perhatikan posisi bayi saat memberi makan, tegak atau setengah duduk
o Beri makan secara perlahan
o Lakukan penepukan punggung setelah pemberian minum
Mencegah infeksi
o Berikan posisi yang tepat setelah makan, miring kekanan kepala agak sedikit tinggi supaya makanan tertelan dan mencegah aspirasi yang dapat berakibat pneumonia
o Kaji tanda-tanda infeksi, termasuk drainage, bau dan demam.
o Lakukan perawatan luka dengan hati-hat dengan menggunakan teknik steril
o Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat yang tidak steril, misalnya alat tenun dan lainnya.
o Perhatikan perdarahan, edema, dan drainage
o Hindari gosok gigi pada anak kira-kira 1-2 minggu
Mempersiapkan orang tua untuk menerima keadaan bayi/anak dan perawatan dirumah
Jelaskan prosedur operasi sebelum dan sesudah operasi
Ajarkan pada ornag tua dalam perawatan anak ; cara pemberian makan/minum dengan alat, mencegah infeksi, dan mencegah aspirasi, posisi pada saat pemberian makan/minum, lakukanpenepukan punggung, bersihkan mulut setelah makan
Meningkatkan rasa nyaman
Kaji pola istirahat bayi dan kegelisahan
Tenangkan bayi
Bila klien anak, berikan aktivitas bermain yang sesuai dengan usia dan kondisinya
Berikan analgetik sesuai program
yani sukman
Jumat, 15 Juli 2011
Minggu, 13 Februari 2011
FINAL TIK SEMESTER V
1. SEJARAH PERKEMBANGAN KOMPUTER DALAM KEPERAWATAN
Komputer telah dikenal sekitar lima puluh tahun yang lalu, tetapi rumah sakit lambat dalam menangkap revolusi komputer. Saat ini hampir setiap rumah sakit menggunakan jasa komputer, setidaknya untuk manajemen keuangan.
Perawat terlambat mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan komputer oleh perawat pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an mencakup:
• Automatisasi catatan perawat untuk menjelaskan status dan perawatan pasien.
• Penyimpanan hasil sensus dan gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf.
Sistem pencatatan dengan menggunakan komputer diterapkan pertama kali di rumah sakit El Camino, California pada akhir tahun 1960-an. Di masa itu, komputer digunakan untuk mengolah seluruh data klien yang diperoleh selama klien dirawat di rumah sakit. Tahun 1970-an banyak institusi kesehatan yang mengembangkan Sistem Informasi Manajemennya (SIM) dengan menggunakan komputer. Seiring perkembangan praktik keperawatan, pada tahun 1980-an dibuat software khusus keperawatan untuk mempermudah pendokumentasian yang dikenal dengan istilah Computer-based Patient Record System (CPRS). Di tahun tersebut, microcomputer atau Personal Computer (PC) juga diciptakan. Hal tersebut menjadikan penggunaan komputer lebih mudah digunakan oleh perawat maupun praktisi kesehatan lainnya.
2. SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN DI PUSKESMAS
Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umum, dapat dipastikan membutuhkan keberadaan sistem informasi yang akurat dan handal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanan puskesmas kepada para pengguna (pasien) dan lingkungan terkait. Dengan lingkup pelayanan yang begitu luas, tentunya banyak sekali permasalahan kompleks yang terjadi dalam proses pelayanan di puskesmas. Banyaknya variabel di puskemas turut menentukan kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan lingkungan puskesmas.
Selama ini banyak puskesmas yang masih mengelola data-data kunjungan pasien, data-data arus obat, dan juga membuat pelaporan dengan menggunakan cara-cara yang manual. Selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratan dari pengelolaan data juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Beberapa puskesmas mungkin sudah memakai komputer sebagai alat bantu untuk pengelolaan data, hanya saja sampai sekarang belum banyak program komputer yang secara khusus didesain untuk manajemen data di puskesmas.
SIMPUS dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang secara umum banyak dijumpai di puskesmas. SIMPUS mempunyai tunjuan pengembangan yang jelas, antara lain :
1. Terbangunnya suatu perangkat lunak yang dapat digunakan dengan mudah oleh puskesmas, dengan persyaratan yang seminimal mungkin dari segi perangkat keras maupun dari segi sumber daya manusia yang akan menggunakan perangkat lunak tersebut.
2. Membantu dalam mengolah data puskesmas dan dalam pembuatan berbagai pelaporan yang diperlukan.
3. Terbangunnya suatu sistem database untuk tingkat kabupaten, dengan memanfaatkan data-data kiriman dari puskesmas.
4. Terjaganya data informasi dari puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga dapat dilakukan analisa dan evaluasi untuk berbagai macam penelitian.
5. Terwujudnya unit informatika di Dinas Kesehatan Kabupaten yang mendukung terselenggaranya proses administrasi yang dapat meningkatkan kwalitas pelayanan dan mendukung pengeluaran kebijakan yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.
Berbagai kendala dalam implementasi SIMPUS ataupun program aplikasi yang sudah pernah dialami di berbagai daerah ikut menjadi masukkan untuk menentukan model pengembangan SIMPUS. Kendala-kendala yang secara umum sering dijumpai di puskesmas antara lain :
Kendala di bidang Infrastruktur
Banyak puskesmas yang hanya memiliki satu atau dua komputer, dan biasanya untuk pemakaian sehari-hari di puskesmas sudah kurang mencukupi. Sudah mulai banyak pelaporan-pelaporan yang harus ditulis dengan komputer. Komputer lebih berfungsi sebagai pengganti mesin ketik semata. Selain itu kendala dari sisi sumber daya listrik juga sering menjadi masalah. Puskesmas di daerah-daerah tertentu sudah biasa menjalani pemadaman listrik rutin sehingga pengoperasian komputer menjadi terganggu. Dari segi keamanan, banyak gedung puskesmas yang kurang aman, sering terjadi puskesmas kehilangan perangkat komputer.
Kendala di bidang Manajemen
Masih jarang sekali ditemukan satu orang staf atau petugas atau bahkan unit kerja yang khusus menangani bidang data/komputerisasi. Hal ini dapat dijumpai dari tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan di kabupaten/kota. Pada kondisi seperti ini nantinya akan menjadi masalah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas data-data yang akan ada, baik dari segi pengolahan dan pemeliharaan data, maupun dari segi koordinasi antar bagian.
Kendala di bidang Sumber Daya Manusia
Kendala di bidang SDM ini yang paling sering ditemui di puskesmas. Banyak staf puskesmas yang belum maksimal dalam mengoperasikan komputer. Biasanya kemampuan operasional komputer didapat secara belajar mandiri, sehingga tidak maksimal. Belum lagi dengan pemakaian komputer oleh staf yang kadang-kadang tidak pada fungsi yang sebenarnya.
3. PERAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENDUKUNG MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN DI RUMAHA SAKIT
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa. Artikel ini secara khusus akan membahas perkembangan teknologi informasi untuk mendukung manajemen rekam medis secara lebih efektif dan efisien. Tulisan ini akan dimulai dengan berbagai contoh aplikasi teknologi informasi, faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta refleksi bagi komunitas rekam medis.
B. Aplikasi teknologi informasi untuk mendukung manajemen informasi kesehatan
Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur. Perangkat keras meliputi perangkat input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat outuput yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.
Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah jaringan komputer baik yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network maupun jaringan yang lebih luas, bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur dalam teknologi informasi seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sehingga muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Perangkat PDA (personal digital assistant) yang berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM) merupakan salah satu contoh diantaranya.
4. PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA RISET KEPERAWATAN
Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu perkembangan peradaban manusia mengenai penyampaian informasi. Perkembangan ini dimulai sejak zaman pra sejarah sampai sekarang. Salah satu peran perawat adalah sebagai peneliti. Untuk itu, perawat perlu melakukan riset yang berhubungan isu-isu keperawatan, antara lain: praktik keperawtan, pendidikan keperawatan, dan administrasi keperawatan guna meningkatkan kemampuannya. Untuk memudahkan riset yang dilakukan maka perawat perlu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang sudah ada baik dalam hal pengolahan data, penulisan, penyimpanan, atau pun publikasi hasil riset yang telah perawat lakukan.
Perkembangan teknologi informasi mulai merambah dunia keperawatan. Kebutuhan layanan kesehatan juga termasuk keperawatan yang cepat, efisien dan efektif menjadi tuntutan masyarakat modern saat ini. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istilah telemedicine, telehealth dan telenursing menjadi popular sebagai salah satu model layanan kesehatan.
Teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam bidang perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Dapat juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on line dan Multimedia Distance Learning. Pengolahan data dalam riset keperawatan perlu ketelitian, dengan perhitungan menggunakan teknologi informasi yang sudah ada maka kesalahan dalam perhitungan dapat diminimalkan agar dasar-dasar keilmuan yang nantinya akan menjadi landasan dalam kegiatan praktik klinik, pendidikan, dan menejemen keperawatan dapat diperkuat.
Penggunaan teknologi informasi dalam riset keperawatan juga untuk pendokumentasian hasil riset yang telah dilakukan. Setelah itu, perlu mempublikasikan hasil riset keperawatan sebagai ilmu untuk perawat lain dan masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan isu keperawatan. Semua proses yang dibutuhkan dalam melakukan riset keperawtan pun akan lebih mudah dan efektif.
Seiring dengan pesatnya kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi, perawat juga perlu berpartisipasi memanfaatkan teknologi yang sudah ada agar kegiatan yang dilakukan menjadi lebih efisien, salah satunya untuk riset keperawatan. Penggunaan teknologi informasi dalam riset keperawatan dapat digunakan untuk pengolahan data, penulisan hasil riset, penyimpanan, metode baru dalam pendokumentasian, peningkatan akses informasi, pengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat membantu melakukan perubahan dalam profesionalisasi perawat serta publikasi hasil riset keperawatan.
Sebagai perawat yang mampu mengikuti perkembangan zaman, guna meningkatkan profesionalisme dan kemampuan maka pemanfaatan teknologi harus benar-benar digunakan untuk kegiatan yang dilakukan oleh perawat termasuk melakukan riset.
5. SISTEM INFORMASI KEPERWATAN BERBASIS KOMPUTER
Seiring dengan globalisasi, perkembangan pengetahuan dan teknologi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai berkembang. Perkembangan pengetahuan masyarakat membuat masyarakat lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya.
Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990).
Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan.
Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian yang lengkap.
( Hariyati, RT., th 1999)
Saat ini masih banyak perawat yang belum menyadari bahwa tindakan yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan. Selain itu banyak pihak menyebutkan kurangnya dokumentasi juga disebabkan karena banyak yang tidak tahu data apa saja yang yang harus dimasukkan, dan bagaimana cara mendokumentasi yang benar.( Hariyati, RT., 2002)
Kondisi tersebut di atas membuat perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian pada pelayanan kesehatan pada umumnya dan pelayanan keperawatan pada khususnya. Selain itu dengan tidak ada kontrol pendokumentasian yang benar maka pelayanan yang diberikan kepada pasien akan cenderung kurang baik, dan dapat merugikan pasien
Pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis. Pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak tersedia
Pendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang berupa lembaran-lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang hilang atau terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal ini karena tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan hukum, dengan demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan rentan terhadap gugatan hukum.
Di luar negri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pada rumah sakit yang sudah maju seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam komputer. Dengan informasi yang berbasis dengan komputer diharapkan waktu pengisian form tidak terlalu lama, lebih murah, lebih mudah mencari data yang telah tersimpan dan resiko hilangnya data dapat dikurangi serta dapat menghemat tempat karena dapat tersimpan dalam ruang yang kecil yang berukuran 10 cm x 15 cm x 5 cm . Sistem ini sering dikenal dengan Sistem informasi manjemen.
Sistem informasi merupakan suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem Informasi mempunyai komponen- komponen yaitu proses, prosedur, struktur organisasi, sumber daya manusia, produk, pelanggan, supplier, dan rekanan. (Eko,I. 2001).
Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea & Cococran,1989)
Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995) system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan tentang standar dokumentasi , komunikasi, mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.
Sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan sudah berkembang di luar negri sekitar tahun 1992, di mana pada bulan September 1992, sistem informasi diterapkan pada sistem pelayanan kesehatan Australia khususnya pada pencatatan pasien. (Liaw, T.,1993).
Pemerintah Indonesia sudah mempunyai visi tentang sistem informasi kesehatan nasional yaitu Informasi kesehatan andal 2010(Reliable Health Information 2010 ). (Depkes, 2001). Pada Informasi kesehatan andal tersebut telah direncanakan untuk membangun system informasi di pelayanan kesehatan dalam hal ini Rumah sakit dan dilanjutkan di pelayanan di masyarakat, namun pelaksanaannya belum optimal.
Sistem informasi manajemen keperawatan sampai saat ini juga masih sangat minim di rumah sakit Indonesia. Padahal sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan mempunyai banyak keuntungan jika dilihat dari segi efisien, dan produktifitas.
Dengan sistem dokumentasi yang berbasis komputer pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan cepat dan lengkap. Data yang telah disimpan juga dapat lebih efektive dan dapat menjadi sumber dari penelitian, dapat melihat kelanjutan dari edukasi ke pasien, melihat epidemiologi penyakit serta dapat memperhitungkan biaya dari pelayanan kesehatan.(Liaw,T. 1993). Selain itu dokumentasi keperawatan juga dapat tersimpan dengan aman. Akses untuk mendapat data yang telah tersimpan dapat dilaksanakan lebih cepat dibandingkan bila harus mencari lembaran kertas yang bertumpuk di ruang penyimpanan.
Menurut Herring dan Rochman (1990) diambil dalam Emilia, 2003: beberapa institusi kesehatan yang menerapkan system komputer, setiap perawat dalam tugasnya dapat menghemat sekitar 20-30 menit waktu yang dipakai untuk dokmuntasi keperawatan dan meningkat keakuratan dalam dokumentasi keperawatan.
Dokumentasi keperawatan dengan menggunakan komputer seyogyanya mengikuti prinsip-prinsip pendokumentasian, serta sesuai dengan standar pendokumentasian internasional seperti: ANA, NANDA,NIC (Nursing Interventions Classification, 2000).
Sistem informasi manajemen berbasis komputer dapat menjadi pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan di keperawatan/Decision Support System dan Executive Information System.(Eko,I. 2001) Informasi asuhan keperawatan dalam sistem informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan dalam menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial, penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya. (Udin,and Martin, 1997)
Sistem Informasi manajemen (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Hal ini mengingat komponen-komponen yang ada dalam sistem informasi yang dibutuhkan dalam keperawatan masih banyak kelemahannya.
Kendala SIM yang lain adalah kekahawatiran hilangnya data dalam satu hard-disk. Pada kondisi tersebut hilangnya data telah diantisipasi sebagai perlindungan hukum atas dokumen perusahaan yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1997. Undang-undang ini mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa lembaran kertas, namun sesuai perkembangan tehnologi, lembaran yang sangat penting dapat dialihkan dalam Compact Disk Read Only Memory (CD ROM). CD ROM dapat dibuat kopinya dan disimpan di lain tempat yang aman . Pengalihan ke CD ROM ini bertujuan untuk menghindari hilangnya dokumen karena peristiwa tidak terduga seperti pencurian komputer, dan kebakaran.
Memutuskan untuk menerapkan sistem informasi manajemen berbasis komputer ke dalam sistem praktek keperawatan di Indonesia tidak terlalu mudah. Hal ini karena pihak manajemen harus memperhatikan beberapa aspek yaitu struktur organisasi keperawatan di Indonesia, kemampuan sumber daya keperawatan, sumber dana, proses dan prosedur informasi serta penggunaan dan pemanfaatan bagi perawat dan tim kesehatan lain.
Bagaimana SIM keperawatan di Indonesia ? Sampai saat ini implementasi sistem informasi manajemen baik di rumah sakit maupun di masyarakat masih sangat minim, bahkan masih banyak perawat yang tidak mengenal apa sistem informasi manajemen keperawatan yang berbasis komputer tersebut. Namun seiring dengan perkembangan pengetahuan dan ilmu pengetahuan maka beberapa rumah sakit di Jakarta dan kota lain sudah menerapkan system informasi keperawatan yang berbasis komputer.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia juga mempunyai kontribusi dalam pengembangan system informasi keperawatan. Fakultas ilmu keperawatan telah mempunyai soft-ware system informasi asuhan keperawatan dan system informasi dalam manajemen untuk manajer perawat. Media ini sangat berguna dalam menyokong proses pembelajaran yang menyiapkan peserta didik dalam menyongsong era globalisasi. Dengan mengikuti pembelajaran tersebut peserta didik diharapkan mampu bersaing , namun tentunya tak cukup hanya dalam proses proses pembelajaran di kuliah. Peserta didik harus terus belajar agar dapat mengikuti perkembangan ilmu dan tehnogi keperawatan. Bagaimana dengan anda, siapkah anda memasuki era tehnologi dan era globalisasi.
6. DOKUMENTASI KEPERAWATAN BERBASIS KOMPUTER
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat dimungkinkan bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang lebih baik. Metode pendokumentasian asuhan keperawatan saat sudah mulai menunjukkan perkembangan, dari yang sebelumnya manual, bergeser kearah komputerisasi. Metode pendokumentasian tersebut dengan menggunakan Sistem Informasi Manajemen.
Sistem informasi manajemen berbasis komputer tidak hanya bermanfaat dalam pendokumentasian asuhan keperawatan, namun juga dapat menjadi pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan di keperawatan/Decision Support System dan Executive Information System (Eko,I. 2001). Informasi asuhan keperawatan dalam sistem informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan dalam menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial, penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya. (Udin,and Martin, 1997). Oleh karena itu system sistem informasi manajemen berbasis komputer ini sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh manajemen rumah sakit, dimana aktifitas perawatan dapat termonitor dalam sebuah.
Manfaat lain yang dapat diperoleh dari sistem informasi yang berbasis komputer ini ialah system ini sangat praktis karena mampu menyimpan data yang sangat banyak penuh dalam sebuah kotak kecil / hard disk yang berukuran hanya 15x10x 5 cm. Sistem informasi berbasis komputer juga dirancang untuk mengikuti era globalisasi sehingga perawat di Indonesia tidak tertinggal dengan perawat yang diluar
Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990). Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan. Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian yang lengkap. ( Hariyati, RT., th 1999)
Pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan secara manual atau berbasis komputer. Sampai saat ini sebagian kecil rumah sakit telah menggunakan dokumentasi proses keperawatan berbasis komputer. Namun informasi keperawatan yang tersedia belum terstandarisasi. Namun dengan kemajuan yang pesat pada teknologi informasi maka diharapkan perawat akan memanfaatkan teknologi tersebut pada dokumentasi keperawatan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas asuhan keperawatan. Menurut Holmas (2003) terdapat beberapa keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:
1. Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat diketahui
2. Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan
3. Accessibility & legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi (Ratna Sitorus, 2006)
Komputer telah dikenal sekitar lima puluh tahun yang lalu, tetapi rumah sakit lambat dalam menangkap revolusi komputer. Saat ini hampir setiap rumah sakit menggunakan jasa komputer, setidaknya untuk manajemen keuangan.
Perawat terlambat mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan komputer oleh perawat pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an mencakup:
• Automatisasi catatan perawat untuk menjelaskan status dan perawatan pasien.
• Penyimpanan hasil sensus dan gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf.
Sistem pencatatan dengan menggunakan komputer diterapkan pertama kali di rumah sakit El Camino, California pada akhir tahun 1960-an. Di masa itu, komputer digunakan untuk mengolah seluruh data klien yang diperoleh selama klien dirawat di rumah sakit. Tahun 1970-an banyak institusi kesehatan yang mengembangkan Sistem Informasi Manajemennya (SIM) dengan menggunakan komputer. Seiring perkembangan praktik keperawatan, pada tahun 1980-an dibuat software khusus keperawatan untuk mempermudah pendokumentasian yang dikenal dengan istilah Computer-based Patient Record System (CPRS). Di tahun tersebut, microcomputer atau Personal Computer (PC) juga diciptakan. Hal tersebut menjadikan penggunaan komputer lebih mudah digunakan oleh perawat maupun praktisi kesehatan lainnya.
2. SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN DI PUSKESMAS
Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umum, dapat dipastikan membutuhkan keberadaan sistem informasi yang akurat dan handal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanan puskesmas kepada para pengguna (pasien) dan lingkungan terkait. Dengan lingkup pelayanan yang begitu luas, tentunya banyak sekali permasalahan kompleks yang terjadi dalam proses pelayanan di puskesmas. Banyaknya variabel di puskemas turut menentukan kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan lingkungan puskesmas.
Selama ini banyak puskesmas yang masih mengelola data-data kunjungan pasien, data-data arus obat, dan juga membuat pelaporan dengan menggunakan cara-cara yang manual. Selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratan dari pengelolaan data juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Beberapa puskesmas mungkin sudah memakai komputer sebagai alat bantu untuk pengelolaan data, hanya saja sampai sekarang belum banyak program komputer yang secara khusus didesain untuk manajemen data di puskesmas.
SIMPUS dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang secara umum banyak dijumpai di puskesmas. SIMPUS mempunyai tunjuan pengembangan yang jelas, antara lain :
1. Terbangunnya suatu perangkat lunak yang dapat digunakan dengan mudah oleh puskesmas, dengan persyaratan yang seminimal mungkin dari segi perangkat keras maupun dari segi sumber daya manusia yang akan menggunakan perangkat lunak tersebut.
2. Membantu dalam mengolah data puskesmas dan dalam pembuatan berbagai pelaporan yang diperlukan.
3. Terbangunnya suatu sistem database untuk tingkat kabupaten, dengan memanfaatkan data-data kiriman dari puskesmas.
4. Terjaganya data informasi dari puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga dapat dilakukan analisa dan evaluasi untuk berbagai macam penelitian.
5. Terwujudnya unit informatika di Dinas Kesehatan Kabupaten yang mendukung terselenggaranya proses administrasi yang dapat meningkatkan kwalitas pelayanan dan mendukung pengeluaran kebijakan yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.
Berbagai kendala dalam implementasi SIMPUS ataupun program aplikasi yang sudah pernah dialami di berbagai daerah ikut menjadi masukkan untuk menentukan model pengembangan SIMPUS. Kendala-kendala yang secara umum sering dijumpai di puskesmas antara lain :
Kendala di bidang Infrastruktur
Banyak puskesmas yang hanya memiliki satu atau dua komputer, dan biasanya untuk pemakaian sehari-hari di puskesmas sudah kurang mencukupi. Sudah mulai banyak pelaporan-pelaporan yang harus ditulis dengan komputer. Komputer lebih berfungsi sebagai pengganti mesin ketik semata. Selain itu kendala dari sisi sumber daya listrik juga sering menjadi masalah. Puskesmas di daerah-daerah tertentu sudah biasa menjalani pemadaman listrik rutin sehingga pengoperasian komputer menjadi terganggu. Dari segi keamanan, banyak gedung puskesmas yang kurang aman, sering terjadi puskesmas kehilangan perangkat komputer.
Kendala di bidang Manajemen
Masih jarang sekali ditemukan satu orang staf atau petugas atau bahkan unit kerja yang khusus menangani bidang data/komputerisasi. Hal ini dapat dijumpai dari tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan di kabupaten/kota. Pada kondisi seperti ini nantinya akan menjadi masalah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas data-data yang akan ada, baik dari segi pengolahan dan pemeliharaan data, maupun dari segi koordinasi antar bagian.
Kendala di bidang Sumber Daya Manusia
Kendala di bidang SDM ini yang paling sering ditemui di puskesmas. Banyak staf puskesmas yang belum maksimal dalam mengoperasikan komputer. Biasanya kemampuan operasional komputer didapat secara belajar mandiri, sehingga tidak maksimal. Belum lagi dengan pemakaian komputer oleh staf yang kadang-kadang tidak pada fungsi yang sebenarnya.
3. PERAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENDUKUNG MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN DI RUMAHA SAKIT
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa. Artikel ini secara khusus akan membahas perkembangan teknologi informasi untuk mendukung manajemen rekam medis secara lebih efektif dan efisien. Tulisan ini akan dimulai dengan berbagai contoh aplikasi teknologi informasi, faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta refleksi bagi komunitas rekam medis.
B. Aplikasi teknologi informasi untuk mendukung manajemen informasi kesehatan
Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur. Perangkat keras meliputi perangkat input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat outuput yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.
Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah jaringan komputer baik yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network maupun jaringan yang lebih luas, bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur dalam teknologi informasi seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sehingga muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Perangkat PDA (personal digital assistant) yang berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM) merupakan salah satu contoh diantaranya.
4. PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA RISET KEPERAWATAN
Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu perkembangan peradaban manusia mengenai penyampaian informasi. Perkembangan ini dimulai sejak zaman pra sejarah sampai sekarang. Salah satu peran perawat adalah sebagai peneliti. Untuk itu, perawat perlu melakukan riset yang berhubungan isu-isu keperawatan, antara lain: praktik keperawtan, pendidikan keperawatan, dan administrasi keperawatan guna meningkatkan kemampuannya. Untuk memudahkan riset yang dilakukan maka perawat perlu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang sudah ada baik dalam hal pengolahan data, penulisan, penyimpanan, atau pun publikasi hasil riset yang telah perawat lakukan.
Perkembangan teknologi informasi mulai merambah dunia keperawatan. Kebutuhan layanan kesehatan juga termasuk keperawatan yang cepat, efisien dan efektif menjadi tuntutan masyarakat modern saat ini. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, istilah telemedicine, telehealth dan telenursing menjadi popular sebagai salah satu model layanan kesehatan.
Teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam bidang perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Dapat juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on line dan Multimedia Distance Learning. Pengolahan data dalam riset keperawatan perlu ketelitian, dengan perhitungan menggunakan teknologi informasi yang sudah ada maka kesalahan dalam perhitungan dapat diminimalkan agar dasar-dasar keilmuan yang nantinya akan menjadi landasan dalam kegiatan praktik klinik, pendidikan, dan menejemen keperawatan dapat diperkuat.
Penggunaan teknologi informasi dalam riset keperawatan juga untuk pendokumentasian hasil riset yang telah dilakukan. Setelah itu, perlu mempublikasikan hasil riset keperawatan sebagai ilmu untuk perawat lain dan masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan isu keperawatan. Semua proses yang dibutuhkan dalam melakukan riset keperawtan pun akan lebih mudah dan efektif.
Seiring dengan pesatnya kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi, perawat juga perlu berpartisipasi memanfaatkan teknologi yang sudah ada agar kegiatan yang dilakukan menjadi lebih efisien, salah satunya untuk riset keperawatan. Penggunaan teknologi informasi dalam riset keperawatan dapat digunakan untuk pengolahan data, penulisan hasil riset, penyimpanan, metode baru dalam pendokumentasian, peningkatan akses informasi, pengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat membantu melakukan perubahan dalam profesionalisasi perawat serta publikasi hasil riset keperawatan.
Sebagai perawat yang mampu mengikuti perkembangan zaman, guna meningkatkan profesionalisme dan kemampuan maka pemanfaatan teknologi harus benar-benar digunakan untuk kegiatan yang dilakukan oleh perawat termasuk melakukan riset.
5. SISTEM INFORMASI KEPERWATAN BERBASIS KOMPUTER
Seiring dengan globalisasi, perkembangan pengetahuan dan teknologi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai berkembang. Perkembangan pengetahuan masyarakat membuat masyarakat lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya.
Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990).
Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan.
Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian yang lengkap.
( Hariyati, RT., th 1999)
Saat ini masih banyak perawat yang belum menyadari bahwa tindakan yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan. Selain itu banyak pihak menyebutkan kurangnya dokumentasi juga disebabkan karena banyak yang tidak tahu data apa saja yang yang harus dimasukkan, dan bagaimana cara mendokumentasi yang benar.( Hariyati, RT., 2002)
Kondisi tersebut di atas membuat perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian pada pelayanan kesehatan pada umumnya dan pelayanan keperawatan pada khususnya. Selain itu dengan tidak ada kontrol pendokumentasian yang benar maka pelayanan yang diberikan kepada pasien akan cenderung kurang baik, dan dapat merugikan pasien
Pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis. Pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak tersedia
Pendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang berupa lembaran-lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang hilang atau terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal ini karena tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan hukum, dengan demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan rentan terhadap gugatan hukum.
Di luar negri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pada rumah sakit yang sudah maju seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam komputer. Dengan informasi yang berbasis dengan komputer diharapkan waktu pengisian form tidak terlalu lama, lebih murah, lebih mudah mencari data yang telah tersimpan dan resiko hilangnya data dapat dikurangi serta dapat menghemat tempat karena dapat tersimpan dalam ruang yang kecil yang berukuran 10 cm x 15 cm x 5 cm . Sistem ini sering dikenal dengan Sistem informasi manjemen.
Sistem informasi merupakan suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem Informasi mempunyai komponen- komponen yaitu proses, prosedur, struktur organisasi, sumber daya manusia, produk, pelanggan, supplier, dan rekanan. (Eko,I. 2001).
Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea & Cococran,1989)
Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995) system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan tentang standar dokumentasi , komunikasi, mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.
Sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan sudah berkembang di luar negri sekitar tahun 1992, di mana pada bulan September 1992, sistem informasi diterapkan pada sistem pelayanan kesehatan Australia khususnya pada pencatatan pasien. (Liaw, T.,1993).
Pemerintah Indonesia sudah mempunyai visi tentang sistem informasi kesehatan nasional yaitu Informasi kesehatan andal 2010(Reliable Health Information 2010 ). (Depkes, 2001). Pada Informasi kesehatan andal tersebut telah direncanakan untuk membangun system informasi di pelayanan kesehatan dalam hal ini Rumah sakit dan dilanjutkan di pelayanan di masyarakat, namun pelaksanaannya belum optimal.
Sistem informasi manajemen keperawatan sampai saat ini juga masih sangat minim di rumah sakit Indonesia. Padahal sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan mempunyai banyak keuntungan jika dilihat dari segi efisien, dan produktifitas.
Dengan sistem dokumentasi yang berbasis komputer pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan cepat dan lengkap. Data yang telah disimpan juga dapat lebih efektive dan dapat menjadi sumber dari penelitian, dapat melihat kelanjutan dari edukasi ke pasien, melihat epidemiologi penyakit serta dapat memperhitungkan biaya dari pelayanan kesehatan.(Liaw,T. 1993). Selain itu dokumentasi keperawatan juga dapat tersimpan dengan aman. Akses untuk mendapat data yang telah tersimpan dapat dilaksanakan lebih cepat dibandingkan bila harus mencari lembaran kertas yang bertumpuk di ruang penyimpanan.
Menurut Herring dan Rochman (1990) diambil dalam Emilia, 2003: beberapa institusi kesehatan yang menerapkan system komputer, setiap perawat dalam tugasnya dapat menghemat sekitar 20-30 menit waktu yang dipakai untuk dokmuntasi keperawatan dan meningkat keakuratan dalam dokumentasi keperawatan.
Dokumentasi keperawatan dengan menggunakan komputer seyogyanya mengikuti prinsip-prinsip pendokumentasian, serta sesuai dengan standar pendokumentasian internasional seperti: ANA, NANDA,NIC (Nursing Interventions Classification, 2000).
Sistem informasi manajemen berbasis komputer dapat menjadi pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan di keperawatan/Decision Support System dan Executive Information System.(Eko,I. 2001) Informasi asuhan keperawatan dalam sistem informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan dalam menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial, penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya. (Udin,and Martin, 1997)
Sistem Informasi manajemen (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Hal ini mengingat komponen-komponen yang ada dalam sistem informasi yang dibutuhkan dalam keperawatan masih banyak kelemahannya.
Kendala SIM yang lain adalah kekahawatiran hilangnya data dalam satu hard-disk. Pada kondisi tersebut hilangnya data telah diantisipasi sebagai perlindungan hukum atas dokumen perusahaan yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1997. Undang-undang ini mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa lembaran kertas, namun sesuai perkembangan tehnologi, lembaran yang sangat penting dapat dialihkan dalam Compact Disk Read Only Memory (CD ROM). CD ROM dapat dibuat kopinya dan disimpan di lain tempat yang aman . Pengalihan ke CD ROM ini bertujuan untuk menghindari hilangnya dokumen karena peristiwa tidak terduga seperti pencurian komputer, dan kebakaran.
Memutuskan untuk menerapkan sistem informasi manajemen berbasis komputer ke dalam sistem praktek keperawatan di Indonesia tidak terlalu mudah. Hal ini karena pihak manajemen harus memperhatikan beberapa aspek yaitu struktur organisasi keperawatan di Indonesia, kemampuan sumber daya keperawatan, sumber dana, proses dan prosedur informasi serta penggunaan dan pemanfaatan bagi perawat dan tim kesehatan lain.
Bagaimana SIM keperawatan di Indonesia ? Sampai saat ini implementasi sistem informasi manajemen baik di rumah sakit maupun di masyarakat masih sangat minim, bahkan masih banyak perawat yang tidak mengenal apa sistem informasi manajemen keperawatan yang berbasis komputer tersebut. Namun seiring dengan perkembangan pengetahuan dan ilmu pengetahuan maka beberapa rumah sakit di Jakarta dan kota lain sudah menerapkan system informasi keperawatan yang berbasis komputer.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia juga mempunyai kontribusi dalam pengembangan system informasi keperawatan. Fakultas ilmu keperawatan telah mempunyai soft-ware system informasi asuhan keperawatan dan system informasi dalam manajemen untuk manajer perawat. Media ini sangat berguna dalam menyokong proses pembelajaran yang menyiapkan peserta didik dalam menyongsong era globalisasi. Dengan mengikuti pembelajaran tersebut peserta didik diharapkan mampu bersaing , namun tentunya tak cukup hanya dalam proses proses pembelajaran di kuliah. Peserta didik harus terus belajar agar dapat mengikuti perkembangan ilmu dan tehnogi keperawatan. Bagaimana dengan anda, siapkah anda memasuki era tehnologi dan era globalisasi.
6. DOKUMENTASI KEPERAWATAN BERBASIS KOMPUTER
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat dimungkinkan bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang lebih baik. Metode pendokumentasian asuhan keperawatan saat sudah mulai menunjukkan perkembangan, dari yang sebelumnya manual, bergeser kearah komputerisasi. Metode pendokumentasian tersebut dengan menggunakan Sistem Informasi Manajemen.
Sistem informasi manajemen berbasis komputer tidak hanya bermanfaat dalam pendokumentasian asuhan keperawatan, namun juga dapat menjadi pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan di keperawatan/Decision Support System dan Executive Information System (Eko,I. 2001). Informasi asuhan keperawatan dalam sistem informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan dalam menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial, penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya. (Udin,and Martin, 1997). Oleh karena itu system sistem informasi manajemen berbasis komputer ini sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh manajemen rumah sakit, dimana aktifitas perawatan dapat termonitor dalam sebuah.
Manfaat lain yang dapat diperoleh dari sistem informasi yang berbasis komputer ini ialah system ini sangat praktis karena mampu menyimpan data yang sangat banyak penuh dalam sebuah kotak kecil / hard disk yang berukuran hanya 15x10x 5 cm. Sistem informasi berbasis komputer juga dirancang untuk mengikuti era globalisasi sehingga perawat di Indonesia tidak tertinggal dengan perawat yang diluar
Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990). Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan. Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian yang lengkap. ( Hariyati, RT., th 1999)
Pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan secara manual atau berbasis komputer. Sampai saat ini sebagian kecil rumah sakit telah menggunakan dokumentasi proses keperawatan berbasis komputer. Namun informasi keperawatan yang tersedia belum terstandarisasi. Namun dengan kemajuan yang pesat pada teknologi informasi maka diharapkan perawat akan memanfaatkan teknologi tersebut pada dokumentasi keperawatan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas asuhan keperawatan. Menurut Holmas (2003) terdapat beberapa keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:
1. Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat diketahui
2. Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan
3. Accessibility & legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi (Ratna Sitorus, 2006)
Minggu, 09 Januari 2011
TEKNIK PELAKSANAAN PUNCTI LUMBAL PADA ANAK
a. Pengertian
Puncti lumbal adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan pada tingkat L3-L4 atau L4-L5 untuk menegakkan diagnostic.
b. Tujuan
Prosedur ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Diagnostik : untuk memperoleh cairan serebrospinal bagi pemerikasaan dalam kasus diduga adanya meningitis.
2. Untuk mengurangi tekanan cairan serebrospinal pada hidrosefalus dan meningitis.
3. Untuk memberikan obat, mosalnya penisilin.
4. Untuk memberikan anestesi spinal.
5. Untuk pemeriksaan X-ray dan ventrikel.
c. Indikasi
Indikasi tindakan ini pada :
Meningitis
Ensefalitis
d. Kontraindikasi
Kontraindikasi pada :
Koagulapati
Infeksi yang terlokalisir pada region lumbal
e. Persiapan alat
1. Alat-alat steril :
Sarung tangan steril
Jarum spinal dengan ukuran yang diperlukan
Kasa steril
Spuit 2,5 cc dan jarum
Duk steril
Lidokain 1%
Masker dan pelindung mata
4 selang steril
Penampung cairan serebrospinal
Manometer untuk pengelolaan tekanan
2. Alat-alat non steril :
Betadine
Bengkok
Plester
Korentang
f. Persiapan anak
Klien dan keluarga diberi penjelasan dan kaji persiapan untuk pelaksanaan prosedur
Mengatur posisi klien :
Penting agar anak dicegah untuk tidak bergerak sementara tindakan ini dilakukan dan hal ini dapat dicapai dengan menempatkan anak pada satu sisi
Punggung sejajar dengan tepi meja
Lengan kanan perawat ditempatkan pada lutut anak dengan menggenggam lengan
Tangan kiri perawat ditempatkan sekeliling leher dan melengkungkan punggung. Hal ini memperbesar ruang intravertebral
Cara lin, anak dapat ditempatkan dalam posisi duduk dengan ditopang oleh perawat atau orang tua anak
g. Pelaksanaan
1. Jelaskan prosedur pelaksanaan pada klien dan keluarga
2. Atur posisi klien pada tempat tidur
3. Pilihlah dan berikan tanda pada vertebrata L3-L4 atau L4-L5
4. Pasang perlak pada tempat tidur
5. Dekatkan bengkok pada punggung klien
6. Mencuci tangan dan memasang sarung tangan, masker dan pelindung mata
7. Pasang duk bolong pada daerah yang akan ditusuk
8. Lakukan anestesi daerah tersebut dengan lidokain 1%
9. Jarum spinal ditusukkan diantara ruang dan memasuki subarachnoid, setelah jarum berada didalam spasium subarachnoid, maka lepaskan stilet dan pasanglah manometer untuk mengukur tekanan pembukaan. Jikan aliran cairan serebrospinal yang bebas tidak diperoleh, maka secara perlahan cobalah memutar jarum 180 derajat
10. Dapatkan contoh cairan serebrospinal (1 ml per selang) untuk pemeriksaan laboratorium dan pasang etiket pada specimen
11. Bila selesai lepaskan jarum dan pasanglah perban
12. Perhatikan keadaan umum pasien
13. Klien dibiarkan tengkurap selama kira-kira 4 jam untuk menghindari nyeri kepala post puncti lumbal. Jika nyeri kepala pasca puncti berat, maka kaki tempat tidur dapat dinaikkan dan diberikan cairan glucose dan oksigen. Jika terdapat nyeri di leher, tungkai atau punggung hal ini harus dilaporkan, kemungkinan disebabkan oleh perdarahan ke dalamm theca atau karena infeksi.
14. Alat-alat dibereskan dan mencuci tangan.
h. Evaluasi
Perhatikan keadaan umum dan kenyamanan anak
i. Dokumentasi
Catat warna cairan serebrospinal
Catat waktu pelaksanaan
Catat perawat yang melakukan tindakan
DAFTAR PUSTAKA
Hudok & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis, EGC Jakarta.
Marc Dumas, 1996, Prosedur Kedaruratan, EGC Jakarta.
Rosa M. Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC Jakarta.
Puncti lumbal adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan pada tingkat L3-L4 atau L4-L5 untuk menegakkan diagnostic.
b. Tujuan
Prosedur ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Diagnostik : untuk memperoleh cairan serebrospinal bagi pemerikasaan dalam kasus diduga adanya meningitis.
2. Untuk mengurangi tekanan cairan serebrospinal pada hidrosefalus dan meningitis.
3. Untuk memberikan obat, mosalnya penisilin.
4. Untuk memberikan anestesi spinal.
5. Untuk pemeriksaan X-ray dan ventrikel.
c. Indikasi
Indikasi tindakan ini pada :
Meningitis
Ensefalitis
d. Kontraindikasi
Kontraindikasi pada :
Koagulapati
Infeksi yang terlokalisir pada region lumbal
e. Persiapan alat
1. Alat-alat steril :
Sarung tangan steril
Jarum spinal dengan ukuran yang diperlukan
Kasa steril
Spuit 2,5 cc dan jarum
Duk steril
Lidokain 1%
Masker dan pelindung mata
4 selang steril
Penampung cairan serebrospinal
Manometer untuk pengelolaan tekanan
2. Alat-alat non steril :
Betadine
Bengkok
Plester
Korentang
f. Persiapan anak
Klien dan keluarga diberi penjelasan dan kaji persiapan untuk pelaksanaan prosedur
Mengatur posisi klien :
Penting agar anak dicegah untuk tidak bergerak sementara tindakan ini dilakukan dan hal ini dapat dicapai dengan menempatkan anak pada satu sisi
Punggung sejajar dengan tepi meja
Lengan kanan perawat ditempatkan pada lutut anak dengan menggenggam lengan
Tangan kiri perawat ditempatkan sekeliling leher dan melengkungkan punggung. Hal ini memperbesar ruang intravertebral
Cara lin, anak dapat ditempatkan dalam posisi duduk dengan ditopang oleh perawat atau orang tua anak
g. Pelaksanaan
1. Jelaskan prosedur pelaksanaan pada klien dan keluarga
2. Atur posisi klien pada tempat tidur
3. Pilihlah dan berikan tanda pada vertebrata L3-L4 atau L4-L5
4. Pasang perlak pada tempat tidur
5. Dekatkan bengkok pada punggung klien
6. Mencuci tangan dan memasang sarung tangan, masker dan pelindung mata
7. Pasang duk bolong pada daerah yang akan ditusuk
8. Lakukan anestesi daerah tersebut dengan lidokain 1%
9. Jarum spinal ditusukkan diantara ruang dan memasuki subarachnoid, setelah jarum berada didalam spasium subarachnoid, maka lepaskan stilet dan pasanglah manometer untuk mengukur tekanan pembukaan. Jikan aliran cairan serebrospinal yang bebas tidak diperoleh, maka secara perlahan cobalah memutar jarum 180 derajat
10. Dapatkan contoh cairan serebrospinal (1 ml per selang) untuk pemeriksaan laboratorium dan pasang etiket pada specimen
11. Bila selesai lepaskan jarum dan pasanglah perban
12. Perhatikan keadaan umum pasien
13. Klien dibiarkan tengkurap selama kira-kira 4 jam untuk menghindari nyeri kepala post puncti lumbal. Jika nyeri kepala pasca puncti berat, maka kaki tempat tidur dapat dinaikkan dan diberikan cairan glucose dan oksigen. Jika terdapat nyeri di leher, tungkai atau punggung hal ini harus dilaporkan, kemungkinan disebabkan oleh perdarahan ke dalamm theca atau karena infeksi.
14. Alat-alat dibereskan dan mencuci tangan.
h. Evaluasi
Perhatikan keadaan umum dan kenyamanan anak
i. Dokumentasi
Catat warna cairan serebrospinal
Catat waktu pelaksanaan
Catat perawat yang melakukan tindakan
DAFTAR PUSTAKA
Hudok & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis, EGC Jakarta.
Marc Dumas, 1996, Prosedur Kedaruratan, EGC Jakarta.
Rosa M. Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC Jakarta.
ASKEP DISLOKASI PANGGUL KONGENITAL
I. Konsep Medis
1. Definisi
Dislokasi panggul kongenital adalah deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada saat kelahiran. Kondisi ini bervariasi dari pergeseran minimal ke lateral sampai dislokasi komplet dari kaput femoris keluar asetabulum.
Ada tiga pola yang terlihat : (1) subluxation, kaput femoris berada di asetabulum dan dapat mengalami dislokasi parsial saat pemeriksaan; (2) dislocatable, pinggul dapat dislokasi seluruhnya dengan manipulasi tetapi berada pada lokasi normal pada saat bayi istirahat ; (3) dislocated, pinggul berada dalam posisi dislokasi (paling parah)
2. Etiologi
Etiologinya tak diketahui, faktor penyebab yang diduga berupa tekanan intrauterine abnormal terhadap ekstremitas, presentasi bokong dan laksitas ligamentosa
3. Insiden
Dislokasi panggul congenital terdapat satu antara 1000 kelahiran
Rasio perempuan laki-laki 7 : 1
Insiden meningkat pada kelahiran sungsang
Peningkatan insiden terdapat pula pada saudara kandung dari anak yang terkena
Pinggul kiri lebih sering terkena daripada pinggul kanan
Sering kali berhubungan dengan kondisi lain, seperti dengan spina bifida
Peningkatan insiden terdapat pada Eskimo Kanada dan kelompok Indian Amerika yang menidurkan anak mereka pada ayunan selama bulan-bulan pertama kehidupan
4. Manifestasi klinis
Bayi
Mungkin tanpa gejala yang nyata karena pergeseran femur pada bayi mungkin minimal
Lipatan gluteal asimetris (posisi telungkup)
Panjang kaki yang terkena lebih pendek dari kakinya yang normal
Abduksi pinggul terbatas pada sisi yang sakit
Tanda Galeazzi positif
Manuver Barlow positif
Manuver ortolani positif
Toddler atau anak yang lebih besar
Gaya berjalan seperti bebek (dislokasi bilateral dari pinggul)
Condong ke sisi badan yang menahan beban
Peningkatan lordosis lumbal pada saat berdiri (dislokasi bilateral pada pinggul)
Kaki yang sakit lebih pendek dari kaki yang sehat
Tanda Trendelenburg
5. Komplikasi
Displasia persisten
Dislokasi kambuhan
Nekrosis avaskular latrogenik pada kaput femoris
6. Penatalaksanaan medis
Pengobatan bervariasi berdasarkan beratnya manifestasi klinis dan usia anak. Jika dislokasi dapat dikoreksi dalam beberapa hari sampai minggu pertama kehidupan, displasia ini akan reversibel dengan sempurna dan akan terbentuk pinggul yang normal. Selama periode neonatal mengembalikan dan mempertahankan pinggul pada posisi fleksi dan abduksi didapat dengan menggunakan alat pengoreksi. Pada usia 2 bulan dan 12 sampai 18 bulan, traksi dilanjutkan dengan reduksi terbuka atau tertutup (tergantung pada terjadi tidaknya kontraktur pada otot-otot aduktor dan pergesaran kaput femoris) dan digunakan gips spica.
II. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Kaji tanda-tanda iritasi kulit
Kaji respon anak terhadap traksi dan imobilisasi dalam balutan gips
Saat pascaoperasi, kaji tanda-tanda vital dan tanda-tanda drainase luka
Kali tingkat perkembangan anak
Kaji kesiapan orangtua untuk melakukan perawatan di rumah pada gips tersebut
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips
3. Intervensi Keperawatan
Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
KE : - Mempertahankan tingkat mobilitas pada tingkat yang memungkinkan
- Mempertahankan posisi fungsional
- Pinggul bayi anak tetap pada posisi yang diinginkan
Intervensi :
Pantau respon anak terhadap pemasangan traksi/gips
R/ : Anak mungkin merasa tidak nyaman dengan pemasangan alat koreksi ini
Pantau respon anak terhadap immobilisasi dengan gips
R/ : Anak mungkin dibatasi oleh pandangan tentang keterbatasan fisik, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Dorong anak untuk tetap melakukan aktivitas sehari-harinya
R/ : Dengan dilakukannya aktivitas sehari-hari memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan rasa kontrol
Instruksikan orang tua untuk memberikan aktivitas perangsang sesuai usia
R/ : Menjaga anak untuk tetap bergerak dan menggunakan otot-ototnya
Berikan posisi yang nyaman pada saat anak istirahat
R/ : Berguna untuk memeprtahankan posisi fungsional dan mencegaj komplikasi
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
KE : Kulit anak/bayi tetap utuh tanpa kemerahan atau luka
Intervensi :
Lakukan perawatan kulit
R/ : Menjaga kulit anak/bayi tetap bersih dan nyaman dan mencegah iritasi
Pantau adanya tanda-tanda iritasi kulit
R/ : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan pemasangan gips yang membutuhkan intervensi lebih lanjut
Ganti popok sesering mungkin
R/ : Untuk mencegah kerusakan kulit dan agar mempertahankan kebersihan brace
Jaga agar kulit di bawah gips tetap bersih dan kering setiap hari
R/ : Mencegah terjadinya iritasi atau lecet akibat pemasangan gips
Periksa adanya tanda-tanda infeksi dan tekanan
R/ : Mencegah terjadinya edema atau komplikasi lainnya yang disebabkan pemasangan gips
Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips
KE : orangtua mendemonstrasikan aktivitas perawatan untuk menyesuaikan diri dengan alat korektif atau gips yang dipakai bayi
Intervensi :
Ajarkan orangtua tentang cara-cara memelihara dan merawat alat korektif
R/ : Pengetahuan mengenai pemeliharaan alat-alat korektif dapat menjaga anak dari resiko injury dan dapat memberikan kenyamanan pemakain alat korektif pada anak.
Ajarkan orangtua tentang perawatan gips
R/ : Pada pemakaian gips perlu dimonitor setiap saat karena mencegah terjadinya iritasi dan komplikasi akibat pemakain gips ini.
Ajarkan orangtua untuk perlunya modifikasi tempat duduk
R/ : menjaga anak agar tetap mendapatkan posisi yang nyaman walaupun dalam pemakain alat pengoreksi
Instruksikan orangtua agar tetap mempertahankan aktivitas anak
R/ : menjaga aktivitas otot yang dipasangi alat pengoreksi agar tetap bekerja dan mencegah terjadinya imobilitas
Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
KE : tidak terjadi injury pada anak
Intervensi :
Diskusikan secara proaktif cara-cara keamanan dan keselamatan anak
R/ : Mengetahui kemampuan orangtua untuk dapat menjaga anaknya dan mendapat kan cara penanganan anak dengan baik
Kaji dan identifikasi strategi untuk memindahkan anak secara aman dan nyaman, yang terdiri dari cara menggunakan roda dorong dan menempatkan ekstremitas anak yang dipasangi alat
R/ : mencegah terjadinya cedera pada anak atau terjadinya nyeri/ketidaknyamanan pada anak pada saat anak dipindahtempatkan
Ajarkan orangtua cara-cara mengoreksi alat serta tekankan pentingnya penggunan alat pada anak
R/ : memberi pengetahuan pada orangtua tentang cara mengoreksi alat dengan baik dan mencegah terjadinya cedera
Ajarkan orangtua tentang tanda-tanda infeksi, kelainan neurovaskuler
R/ : mengetahui terjadinya infeksi atau komplikasi lebih dini dan dapat diberikan penanganannya
Jadwalkan follow up setelah anak meninggalkan rumah sakit
R/ : mengetahui perkembangan kesehatan anak setelah penggunaan alat pengoreksi
DAFTAR PUSTAKA
Aston, J N. 1999. Kapita selekta traumatologik dan ortopedik. EGC. Jakarta.
Behrman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta.
Betz, Cecily l. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatric. Egc. Jakarta.
Merenstein, Gerald B. 2001. Buku Pegangan Pediatrik. Widya Medika. Jakarta.
1. Definisi
Dislokasi panggul kongenital adalah deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada saat kelahiran. Kondisi ini bervariasi dari pergeseran minimal ke lateral sampai dislokasi komplet dari kaput femoris keluar asetabulum.
Ada tiga pola yang terlihat : (1) subluxation, kaput femoris berada di asetabulum dan dapat mengalami dislokasi parsial saat pemeriksaan; (2) dislocatable, pinggul dapat dislokasi seluruhnya dengan manipulasi tetapi berada pada lokasi normal pada saat bayi istirahat ; (3) dislocated, pinggul berada dalam posisi dislokasi (paling parah)
2. Etiologi
Etiologinya tak diketahui, faktor penyebab yang diduga berupa tekanan intrauterine abnormal terhadap ekstremitas, presentasi bokong dan laksitas ligamentosa
3. Insiden
Dislokasi panggul congenital terdapat satu antara 1000 kelahiran
Rasio perempuan laki-laki 7 : 1
Insiden meningkat pada kelahiran sungsang
Peningkatan insiden terdapat pula pada saudara kandung dari anak yang terkena
Pinggul kiri lebih sering terkena daripada pinggul kanan
Sering kali berhubungan dengan kondisi lain, seperti dengan spina bifida
Peningkatan insiden terdapat pada Eskimo Kanada dan kelompok Indian Amerika yang menidurkan anak mereka pada ayunan selama bulan-bulan pertama kehidupan
4. Manifestasi klinis
Bayi
Mungkin tanpa gejala yang nyata karena pergeseran femur pada bayi mungkin minimal
Lipatan gluteal asimetris (posisi telungkup)
Panjang kaki yang terkena lebih pendek dari kakinya yang normal
Abduksi pinggul terbatas pada sisi yang sakit
Tanda Galeazzi positif
Manuver Barlow positif
Manuver ortolani positif
Toddler atau anak yang lebih besar
Gaya berjalan seperti bebek (dislokasi bilateral dari pinggul)
Condong ke sisi badan yang menahan beban
Peningkatan lordosis lumbal pada saat berdiri (dislokasi bilateral pada pinggul)
Kaki yang sakit lebih pendek dari kaki yang sehat
Tanda Trendelenburg
5. Komplikasi
Displasia persisten
Dislokasi kambuhan
Nekrosis avaskular latrogenik pada kaput femoris
6. Penatalaksanaan medis
Pengobatan bervariasi berdasarkan beratnya manifestasi klinis dan usia anak. Jika dislokasi dapat dikoreksi dalam beberapa hari sampai minggu pertama kehidupan, displasia ini akan reversibel dengan sempurna dan akan terbentuk pinggul yang normal. Selama periode neonatal mengembalikan dan mempertahankan pinggul pada posisi fleksi dan abduksi didapat dengan menggunakan alat pengoreksi. Pada usia 2 bulan dan 12 sampai 18 bulan, traksi dilanjutkan dengan reduksi terbuka atau tertutup (tergantung pada terjadi tidaknya kontraktur pada otot-otot aduktor dan pergesaran kaput femoris) dan digunakan gips spica.
II. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Kaji tanda-tanda iritasi kulit
Kaji respon anak terhadap traksi dan imobilisasi dalam balutan gips
Saat pascaoperasi, kaji tanda-tanda vital dan tanda-tanda drainase luka
Kali tingkat perkembangan anak
Kaji kesiapan orangtua untuk melakukan perawatan di rumah pada gips tersebut
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips
3. Intervensi Keperawatan
Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
KE : - Mempertahankan tingkat mobilitas pada tingkat yang memungkinkan
- Mempertahankan posisi fungsional
- Pinggul bayi anak tetap pada posisi yang diinginkan
Intervensi :
Pantau respon anak terhadap pemasangan traksi/gips
R/ : Anak mungkin merasa tidak nyaman dengan pemasangan alat koreksi ini
Pantau respon anak terhadap immobilisasi dengan gips
R/ : Anak mungkin dibatasi oleh pandangan tentang keterbatasan fisik, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
Dorong anak untuk tetap melakukan aktivitas sehari-harinya
R/ : Dengan dilakukannya aktivitas sehari-hari memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan rasa kontrol
Instruksikan orang tua untuk memberikan aktivitas perangsang sesuai usia
R/ : Menjaga anak untuk tetap bergerak dan menggunakan otot-ototnya
Berikan posisi yang nyaman pada saat anak istirahat
R/ : Berguna untuk memeprtahankan posisi fungsional dan mencegaj komplikasi
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
KE : Kulit anak/bayi tetap utuh tanpa kemerahan atau luka
Intervensi :
Lakukan perawatan kulit
R/ : Menjaga kulit anak/bayi tetap bersih dan nyaman dan mencegah iritasi
Pantau adanya tanda-tanda iritasi kulit
R/ : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan pemasangan gips yang membutuhkan intervensi lebih lanjut
Ganti popok sesering mungkin
R/ : Untuk mencegah kerusakan kulit dan agar mempertahankan kebersihan brace
Jaga agar kulit di bawah gips tetap bersih dan kering setiap hari
R/ : Mencegah terjadinya iritasi atau lecet akibat pemasangan gips
Periksa adanya tanda-tanda infeksi dan tekanan
R/ : Mencegah terjadinya edema atau komplikasi lainnya yang disebabkan pemasangan gips
Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips
KE : orangtua mendemonstrasikan aktivitas perawatan untuk menyesuaikan diri dengan alat korektif atau gips yang dipakai bayi
Intervensi :
Ajarkan orangtua tentang cara-cara memelihara dan merawat alat korektif
R/ : Pengetahuan mengenai pemeliharaan alat-alat korektif dapat menjaga anak dari resiko injury dan dapat memberikan kenyamanan pemakain alat korektif pada anak.
Ajarkan orangtua tentang perawatan gips
R/ : Pada pemakaian gips perlu dimonitor setiap saat karena mencegah terjadinya iritasi dan komplikasi akibat pemakain gips ini.
Ajarkan orangtua untuk perlunya modifikasi tempat duduk
R/ : menjaga anak agar tetap mendapatkan posisi yang nyaman walaupun dalam pemakain alat pengoreksi
Instruksikan orangtua agar tetap mempertahankan aktivitas anak
R/ : menjaga aktivitas otot yang dipasangi alat pengoreksi agar tetap bekerja dan mencegah terjadinya imobilitas
Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
KE : tidak terjadi injury pada anak
Intervensi :
Diskusikan secara proaktif cara-cara keamanan dan keselamatan anak
R/ : Mengetahui kemampuan orangtua untuk dapat menjaga anaknya dan mendapat kan cara penanganan anak dengan baik
Kaji dan identifikasi strategi untuk memindahkan anak secara aman dan nyaman, yang terdiri dari cara menggunakan roda dorong dan menempatkan ekstremitas anak yang dipasangi alat
R/ : mencegah terjadinya cedera pada anak atau terjadinya nyeri/ketidaknyamanan pada anak pada saat anak dipindahtempatkan
Ajarkan orangtua cara-cara mengoreksi alat serta tekankan pentingnya penggunan alat pada anak
R/ : memberi pengetahuan pada orangtua tentang cara mengoreksi alat dengan baik dan mencegah terjadinya cedera
Ajarkan orangtua tentang tanda-tanda infeksi, kelainan neurovaskuler
R/ : mengetahui terjadinya infeksi atau komplikasi lebih dini dan dapat diberikan penanganannya
Jadwalkan follow up setelah anak meninggalkan rumah sakit
R/ : mengetahui perkembangan kesehatan anak setelah penggunaan alat pengoreksi
DAFTAR PUSTAKA
Aston, J N. 1999. Kapita selekta traumatologik dan ortopedik. EGC. Jakarta.
Behrman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta.
Betz, Cecily l. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatric. Egc. Jakarta.
Merenstein, Gerald B. 2001. Buku Pegangan Pediatrik. Widya Medika. Jakarta.
TEKNIK PEMBERIAN INSULIN PADA ANAK
PENDAHULUAN.
Terapi Insulin.
Insulin adalah produk utama dari pankreas, disintesa pada sel B pulau Langerhans. Insulin sebagian besar berasal dari kelenjar pankreas babi (porcine) serta insulin manusia (human).
Sekresi insulin kira-kira 1 – 2 mg/hari, tetapi 40 % diinaktifkan oleh hati sebelum memasuki sirkulasi sistemik. Sekresi insulin terutama dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa darah.
Mekanisme kerja insulin :
Setelah disentesa insulin akan disekresi ke dalam sirkulasi dalam bentuk bebas, kemudian menuju sel target, dimana ia akan berikatan dengan reseptor spesifik dan akan bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukose oleh jaringan perifer, meningkatkan pembentukan glikogen pada hati dan otot, meningkatkan sintesa lemak dan protein, serta mengurangi lipolisis dan glukogeonesis.
Indikasi terapi insulin, antara lain digunakan pada DM tipe I, DM hamil, DM kurus, DM dengan stress berat (infeksi sistemik, operasi berat), gagal dengan OHO atau kontraindikasi dengan OHO. Preparat insulin; kini tersedia sejumlah preparat insulin dalam kemasan flakon 10 mL dengan konsentrasi 40,80 dan 100 unit insulin/mL (U-40, U-80, U-100). Serta spoit yang paling umum digunakan dapat memberikan maksimun 100 unit dalam 1 cc (spuit 1 cc). spuit insulin dapat digunakan lebih dari satu kali (sampai satu minggu) oleh klien yang sama.
Preprat insulin dapat dikelompokkan ke dalam 3 tipe berdasarkan awitan, puncak dan durasi kerja :
Short acting insulin (Actrapid, Humulin R) :
Daya kerja pendek/cepat 4 – 6 jam.
Pemberian 3 kali sehari, setiap ½ jam sebelum makan.
Tampak bening/jernih.
Untuk kasus terkendali anak yang aktif.
Intermediate acting insulin (Monotord, Humulin N, Insulitard) :
Daya kerja sedang 6 – 12 jam.
Pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore), setiap ½ jam sebelum makan.
Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
Untuk anak dengan diabetes yang relative ringan atau stabil.
Long acting insulin (Mixtard).
Daya kerja lama/panjang 18 – 24 jam.
Pemberiannya 1 kali sehari, setiap ½ jam sebelum atau sesudah makan.
Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
Insulin diberikan pada anak usia sekolah.
Penyimpanan insulin dalam lemari pendingin dengan suhu 2°C - 8°C (bukan di freezer). Pemberian insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kadar glukosa darah, diet dan tingkat aktivitas anak (ditentukan dengan slidding scale).
Lebih dari 98 % kasus anak adalah DM tipe I (IDDM). Anak penderita DM paling banyak ditemukan pada usia 11 – 14 tahun. Sedangkan penderita paling dini ditemukan pada umur satu tahun. Anak penderita DM dapat terhambat pertumbuhannya dan masa pubertasnya juga tertunda pula. Anak penderita DM juga mengalami kondisi yang sama dengan orang dewasa, cuman awitan pada anak biasanya labih cepat dan hanya saja anak tidak banyak mengeluh.
Tujuan pengobatan anak penderita DM yaitu agar si anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, mengalami perkembangan emosional yang baik, mampu mempertahankan kadar gula darah tanpa menimbulkan komplikasi dan bertanggunga jawab untuk mandiri sesuai dengan usia dan taraf intelegensinya.
Penanganan dan program pendidikan untuk diabetes anak sebaiknya direncanakan dalam jangka waktu yang panjang disesuaikan dengan tumbuh kembang fisik dan mental anak. Anak dengan diabetes, depresi orang tua merupakan faktor penghambat keberhasilan terapi.
Oleh karena itu peran serta, dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak utamanya dokter, perawat, psikolog, ahli gizi dan petugas sosial sangat diperlukan untuk keberhasilan terapi.
Metode Pemberian Insulin.
Suntikan : - Subkutan
- intramuskular
- intavena.
Per rectal.
Melalui alat mekanik.
Masalah yang timbul akibat insulin.
Lipodistrofi.
Lipoatrofi.
Hipoglikemia.
Reaksi alergi.
Resistensi insulin.
Lipohipertrofi.
Prosedur penyuntikan insulin subkutan.
a. Persiapan alat dan bahan.
Spuit insulin + jarum steril (konsentrasi insulin sesuai dengan unit kalibrasi pada spuit insulin).
Desinfektan (kapas + etil alkohol 70 %)
Obat infeksi (Insulin tipe, konsentrasi dan expiry).
Nierbekken.
b. Persiapan klien.
1. Mengidentifikasi klien.
2. Menjelaskan prosedur tindakan.
3. Menyiapkan lingkungan.
c. Prosedur kerja.
1. Mencuci tangan dengan baik.
2. Menyiapkan dosis obat :
o Pilihlah flakon insulin (bukan dikocok) dalam telapak tangan untuk mencampur insulin dengan baik, (untuk semua insulin kecuali insulin kerja singkat).
o Usap bagian atas flakon insulin dengan kapas alkohol 70 %.
o Suntikan sejumlah udara yang sama dengan jumlah dosis insulin yang akan digunakan ke dalam falkon. Aspirasi insulin kerja singkat terlebih dahulu kemudian kerja sedang atau kerja lama, lalu putar-putar alat suntikan agar kedua tipe insulin benar-benar tercampur (bila diberikan insulin campuran) hati-hati agar tidak dimasukkan salah satu tipe insulin ke dalam botol yang berisi tipe insulin yang berbeda.
o Amati spuit terhadap adanya gelembung udara, periksa apakah dosis sudah tepat dan pasangkan kembali tutup spoit.
3. Menentukan lokasi injeksi :
o Ada empat daerah utama untuk penyuntikan insulin, yaitu abdomen, lengan (permukaan posterior), paha (permukaan anterior) dan bokong.
o Absorpsi tercepat di abdomen, sedang di lengan, paling lambat dip aha dan daerah bokong diantaranya.
o Lokasi pada abdomen : Hindari garis pinggang, tepat pada M. rectus abdominis dengan 2,5 cm mengitari umbilikus.
o Lokasi pada lengan : Mulai di bawah M. deltoid dan berakhir satu lebar tangan di atas siku. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan kearah luar secara lateral, dengan menggunakan hanya pemukaan eksternal (3 – 5 inc dari siku dorso lateral).
o Lokasi pada paha : Mulai satu lebar tangan di bawah panggul dan berakhir satu lebar tangan di atas lutut. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan ke luar secara lateral, dengan hanya menggunakan permukaan luar (permukaan anterior).
o Lokasi pada bokong : Gunakan kuadran luar atas dari bokong.
4. Mengahapus hama lokasi injeksi dengan menggunakan kapas alcohol 70 %.
5. Meregangkan kulit membentuk suatu daerah yang cukup luas (cubit dan tahan lipatan kulit) dan menusukkan jarum injeksi dengan sudut 45° - 90°.
6. Menyuntikkan insulin, dengan menekan madrin sampai habis (obat dimasukkan perlahan-lahan).
7. Mencabut jarum injeksi dan menekan daerah penyuntikan selama 5 – 10 detik dengan menggunakan kapas alcohol 70 % sambil melakukan massage (untuk mencegah merembesnya darah/serum dan mempercepat absorpsi insulin dari daerah penyuntikan.
8. Membereskan alat-alat.
9. Mencuci tangan.
10. Mengobservasi reaksi klien.
11. Mencatat jam dan tanggal pemberian penyuntikan, serta dosis obat.
Prosedur penyuntikan insulin Intramuskular dan Intravena.
Prosedur penyuntikan insulin secara intramuskular dan intravena hampir sama dengan prosedur penyuntikan insulin secara subkutan, dengan sedikit perbedaan yaitu pada penyuntikan secara intramuskular, dilakukan aspirasi setelah penusukan jarum injeksi untuk memeriksa apakah ada darah yang terisap masuk ke dalam spoit hal ini menandakan bahwa jarum injeksi mengenai pembuluh darah/syaraf, dalam hal ini mencegah kelumpuhan pada syaraf dan syok anfilaktik. Sedangkan pada penyuntikan secara intravena dilakukan pembendungan sebelum pemasukan jarum injeksi untuk lokalisasi penusukan jarum injeksi.
Prosedur pemberian insulin per rectal.
1. Persiapan alat dan bahan.
Obat insulin Suppositoria 100 µ (indikasi DM tipe II, 15 menit sesudah makan dan diberikan 3 kali sehari).
Nierbekken.
Handschoen steril.
2. Persiapan klien
o Menjelaskan kepada klien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
o Memasang sampiran/tabir disekeliling tempat tidur.
3. Prosedur kerja.
o Menawarkan klien untuk BAB atau BAK.
o Membebaskan pakaian bagian bawah.
o Mengatur posisi klien, dengan dimiringkan kekanan atau kekiri seperti letak sinus.
o Meletakkan nierbekken di bawah anus.
o Perawat memakai handschoen steril.
o Memasukkan obat ke dalam rectum sambil menyuruh klien menarik nafas panjang.
o Anjurkan klien istirahat baring selama 20 menit.
o Melepaskan handschoen dan meletakkan pada nierbekken.
o Merapikan pakaian klien dan lingkungannya.
o Membereskan alat-alat.
o Mencuci tangan.
o Mengobservasi reaksi klien.
o Mencatat jam dan tanggal pemberian obat.
Prosedur pemberian insulin melalui alat mekanik.
1. Persiapan alat dan bahan.
Obat insulin (insulin regular) + spuit insulin.
Set mikrodips steril.
Standar infus + infusion pump/sharing pump.
Abocath steril dengan nomor yang sesuai.
Cairan infus steril (Dex 5 %, NaCl 0,9 %, Maltosa 10 %).
Nierbekken.
Kapas alkohol 70 % + kasa steril.
Plester + gunting.
Bethadine 10 %.
Tourniquet.
Bidai dan pembalut (K/P).
Perlak kecil.
Handschoen steril.
2. Persiapan klien.
o Mengidentifikasi klien.
o Menjelaskan prosedur tindakan pada klien (jika klien dalam keadaan sadar).
o Menyiapkan lingkungan.
3. Mengisi Mikrodips.
a. Mencuci tangan.
b. Memeriksa etiket.
c. Menggantungkan botol/cairan infuse.
d. Mengahapus hama karet penitip botol.
e. Pengatur tetesan ditutup, jaraknya 2 – 4 cm.
f. Menusukkan set mikrodips ke dalam botol infus, pengatur tetesan dibuka.
g. Ruang mikrodips diisi sampai tanda 100 cc dan masukkan obat insulin (sesuai instruksi).
h. Ruang tetesan diisi setengah (jangan sampai terendam).
i. Slang mikrodips diisi dan udara dikeluarkan, kemudian pengatur tetesan ditutup.
j. Slang mikrodips dipasang pada infusion pump/shering pump.
4. Melakukan vena punksi.
a. Menentukan lokasi.
b. Meletakkan perlak kecil di bawah bagian yang akan di punksi.
c. Melakukan pembendungan.
d. Memakai handschoen steril.
e. Menghapus hama lokasi punksi.
f. Memasukkan kateter abocath ke dalam vena yang dimaksud.
g. Buka pembendung, sambungkan kateter abocath dengan salng mikrodips dan pengatur dibuka.
h. Menilai ada/tidaknya pembengkakan.
i. Kateter abocath ditambatkan dengan plester.
j. Daerah punksi diberi bethadine dan ditutup kasa steril lalu diplester.
k. Pasang bidai dan dibalut (K/P).
l. Mengatur tetesan pada kode D. Rate di infusion pump/sharing pump (sesuai instruksi).
m. Merapikan klien.
n. Membereskan alat-alat.
o. Mengobservasi reaksi klien.
p. Mencatat tanggal dan jam pemberian, serta dosis obat dan macam cairan.
q. Mencuci tangan.
Jadwal pemberian insulin :
Sebelum makan pagi.
Sebelum makan siang.
2 jam setelah makan.
Jam 6 pagi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam terapi insulin pada anak :
Ajarkan orang tua/klien mengenai teknik penyuntikan insulin secara mandiri.
Jelaskan peralatan yang harus dibeli orang tua untuk penggunaan insulin di rumah.
Jelaskan informasi tentang tanda/gejala dan pencegahan komplikasi DM (Hipoglikemia, Hyperglikemia, DKA) pada orang tua dan anak.
Gunakan hanya insulin regular dalam infus insulin intravena, karena insulin ini kurang antigenik.
Short acting insulin dapat diberikan secara IV, IM, SC dan dapat ditambahkan dalam cairan infuse seperti a. amino, glokosa, elektrolit serta sebaiknya tidak diberikan bersama produk darah karena mengandung enzim yang dapat menyebabkan degradasi insulin.
Intermediate dan long acting insulin tak dapat diberikan secara IV karena bahaya emboli.
Anjurkan orang tua/klien untuk memantau daerah injeksi insulin.
Bantu anak mengontrol rasa takut terhadap injeksi melalui bermain interaktif dan partisipasi dalam prosedur.
Pada klien kurus yang memiliki sedikit jaringan adiposity, dipakai sudut 45º - 60º.
Kebutuhan akan insulin menurun disebabkan interaksi obat seperti aspirin, antikoagulansia dan antidepressant yang akan menurunkan gula darah.
Jelaskan rotasi tempat penyuntikan dalam suatu daerah anatomis pada orang tua/klien. (Pada daerah yang sama injeksi pertama dan beikutnya harus berjarak 1 ½ cm/satu ruas jari tangan).
Insulin yang berasal dari kelenjar pankreas sapi dan insulin manusia lebih banyak memberikan efek samping (alergi), oleh karena itu sebelum diinjeksikan harus dilakukan skin test.
Normalnya ketika anak makan, pasti memproduksi insulin. Sebaliknya, apabila anak tidak makan makan maka insulin tidak dibutuhkan.
Bagi penderita diabetes yang selalu menggunakan dosis insulin secara tetap setiap pagi, lalu insulin bekerja, tidak peduli penderita tersebut makan atau tidak.
Jadi apabila anak tersebut terlambat makan siang, sementara insulin sudah mulai bekerja maka kadar gula I dalam darah akan lebih rendah lagi, sehingga anak akan mengalami hipoglikemia.
Jika kadar glukosa darah normal dan stabil, namun bekerja terlampau berat, sehingga menggunakan glukosa dalam darah, karena pasokan insulin eksogen maka akibatnya akan mengalami juga yang dinamakan hipoglikemia.
Kecepatan absorpsi di tempat suntikan bergantung pada beberapa faktor, antara lain lokasi suntikan, latihan, massage, suhu, dalamnya suntikan, konsentrasi/kekuatan insulin, campuran insulin, degradasi insulin pada tempat suntikan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rosa M. Sacharis, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta.
2. Hudak & Gallo, 1994, Keperawatan Kritis, Vol. II, Ed. VI, EGC, Jakarta.
3. Arcole Margatan, 2001, Yang Manis Jangan Pipis, CV. Aneka, Solo.
4. Askandar T, 1996, Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi DM, Ed. 3, PT. Gramedia, Jakarta.
5. Dr. A. Bloom, 1990, Seri Kesehatan kluarga Diabetes, PT. Dian Rakyat, Jakarta.
6. http:/www.Suplemen Pikiran Rakyat HIKMAH, Invalet, Sabtu 2 Nov. 2002.
7. Koran Pak Oles, Rubrik Kesehatan, Ed. 47, Minggu ke-1, Desember 2003.
8. Prof. dr. H.M.Syaifullah Noer, 1996, Buku Ajar I Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. 3, Balai Pustaka FK-UI, Jakarta.
Terapi Insulin.
Insulin adalah produk utama dari pankreas, disintesa pada sel B pulau Langerhans. Insulin sebagian besar berasal dari kelenjar pankreas babi (porcine) serta insulin manusia (human).
Sekresi insulin kira-kira 1 – 2 mg/hari, tetapi 40 % diinaktifkan oleh hati sebelum memasuki sirkulasi sistemik. Sekresi insulin terutama dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa darah.
Mekanisme kerja insulin :
Setelah disentesa insulin akan disekresi ke dalam sirkulasi dalam bentuk bebas, kemudian menuju sel target, dimana ia akan berikatan dengan reseptor spesifik dan akan bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukose oleh jaringan perifer, meningkatkan pembentukan glikogen pada hati dan otot, meningkatkan sintesa lemak dan protein, serta mengurangi lipolisis dan glukogeonesis.
Indikasi terapi insulin, antara lain digunakan pada DM tipe I, DM hamil, DM kurus, DM dengan stress berat (infeksi sistemik, operasi berat), gagal dengan OHO atau kontraindikasi dengan OHO. Preparat insulin; kini tersedia sejumlah preparat insulin dalam kemasan flakon 10 mL dengan konsentrasi 40,80 dan 100 unit insulin/mL (U-40, U-80, U-100). Serta spoit yang paling umum digunakan dapat memberikan maksimun 100 unit dalam 1 cc (spuit 1 cc). spuit insulin dapat digunakan lebih dari satu kali (sampai satu minggu) oleh klien yang sama.
Preprat insulin dapat dikelompokkan ke dalam 3 tipe berdasarkan awitan, puncak dan durasi kerja :
Short acting insulin (Actrapid, Humulin R) :
Daya kerja pendek/cepat 4 – 6 jam.
Pemberian 3 kali sehari, setiap ½ jam sebelum makan.
Tampak bening/jernih.
Untuk kasus terkendali anak yang aktif.
Intermediate acting insulin (Monotord, Humulin N, Insulitard) :
Daya kerja sedang 6 – 12 jam.
Pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore), setiap ½ jam sebelum makan.
Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
Untuk anak dengan diabetes yang relative ringan atau stabil.
Long acting insulin (Mixtard).
Daya kerja lama/panjang 18 – 24 jam.
Pemberiannya 1 kali sehari, setiap ½ jam sebelum atau sesudah makan.
Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
Insulin diberikan pada anak usia sekolah.
Penyimpanan insulin dalam lemari pendingin dengan suhu 2°C - 8°C (bukan di freezer). Pemberian insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kadar glukosa darah, diet dan tingkat aktivitas anak (ditentukan dengan slidding scale).
Lebih dari 98 % kasus anak adalah DM tipe I (IDDM). Anak penderita DM paling banyak ditemukan pada usia 11 – 14 tahun. Sedangkan penderita paling dini ditemukan pada umur satu tahun. Anak penderita DM dapat terhambat pertumbuhannya dan masa pubertasnya juga tertunda pula. Anak penderita DM juga mengalami kondisi yang sama dengan orang dewasa, cuman awitan pada anak biasanya labih cepat dan hanya saja anak tidak banyak mengeluh.
Tujuan pengobatan anak penderita DM yaitu agar si anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, mengalami perkembangan emosional yang baik, mampu mempertahankan kadar gula darah tanpa menimbulkan komplikasi dan bertanggunga jawab untuk mandiri sesuai dengan usia dan taraf intelegensinya.
Penanganan dan program pendidikan untuk diabetes anak sebaiknya direncanakan dalam jangka waktu yang panjang disesuaikan dengan tumbuh kembang fisik dan mental anak. Anak dengan diabetes, depresi orang tua merupakan faktor penghambat keberhasilan terapi.
Oleh karena itu peran serta, dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak utamanya dokter, perawat, psikolog, ahli gizi dan petugas sosial sangat diperlukan untuk keberhasilan terapi.
Metode Pemberian Insulin.
Suntikan : - Subkutan
- intramuskular
- intavena.
Per rectal.
Melalui alat mekanik.
Masalah yang timbul akibat insulin.
Lipodistrofi.
Lipoatrofi.
Hipoglikemia.
Reaksi alergi.
Resistensi insulin.
Lipohipertrofi.
Prosedur penyuntikan insulin subkutan.
a. Persiapan alat dan bahan.
Spuit insulin + jarum steril (konsentrasi insulin sesuai dengan unit kalibrasi pada spuit insulin).
Desinfektan (kapas + etil alkohol 70 %)
Obat infeksi (Insulin tipe, konsentrasi dan expiry).
Nierbekken.
b. Persiapan klien.
1. Mengidentifikasi klien.
2. Menjelaskan prosedur tindakan.
3. Menyiapkan lingkungan.
c. Prosedur kerja.
1. Mencuci tangan dengan baik.
2. Menyiapkan dosis obat :
o Pilihlah flakon insulin (bukan dikocok) dalam telapak tangan untuk mencampur insulin dengan baik, (untuk semua insulin kecuali insulin kerja singkat).
o Usap bagian atas flakon insulin dengan kapas alkohol 70 %.
o Suntikan sejumlah udara yang sama dengan jumlah dosis insulin yang akan digunakan ke dalam falkon. Aspirasi insulin kerja singkat terlebih dahulu kemudian kerja sedang atau kerja lama, lalu putar-putar alat suntikan agar kedua tipe insulin benar-benar tercampur (bila diberikan insulin campuran) hati-hati agar tidak dimasukkan salah satu tipe insulin ke dalam botol yang berisi tipe insulin yang berbeda.
o Amati spuit terhadap adanya gelembung udara, periksa apakah dosis sudah tepat dan pasangkan kembali tutup spoit.
3. Menentukan lokasi injeksi :
o Ada empat daerah utama untuk penyuntikan insulin, yaitu abdomen, lengan (permukaan posterior), paha (permukaan anterior) dan bokong.
o Absorpsi tercepat di abdomen, sedang di lengan, paling lambat dip aha dan daerah bokong diantaranya.
o Lokasi pada abdomen : Hindari garis pinggang, tepat pada M. rectus abdominis dengan 2,5 cm mengitari umbilikus.
o Lokasi pada lengan : Mulai di bawah M. deltoid dan berakhir satu lebar tangan di atas siku. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan kearah luar secara lateral, dengan menggunakan hanya pemukaan eksternal (3 – 5 inc dari siku dorso lateral).
o Lokasi pada paha : Mulai satu lebar tangan di bawah panggul dan berakhir satu lebar tangan di atas lutut. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan ke luar secara lateral, dengan hanya menggunakan permukaan luar (permukaan anterior).
o Lokasi pada bokong : Gunakan kuadran luar atas dari bokong.
4. Mengahapus hama lokasi injeksi dengan menggunakan kapas alcohol 70 %.
5. Meregangkan kulit membentuk suatu daerah yang cukup luas (cubit dan tahan lipatan kulit) dan menusukkan jarum injeksi dengan sudut 45° - 90°.
6. Menyuntikkan insulin, dengan menekan madrin sampai habis (obat dimasukkan perlahan-lahan).
7. Mencabut jarum injeksi dan menekan daerah penyuntikan selama 5 – 10 detik dengan menggunakan kapas alcohol 70 % sambil melakukan massage (untuk mencegah merembesnya darah/serum dan mempercepat absorpsi insulin dari daerah penyuntikan.
8. Membereskan alat-alat.
9. Mencuci tangan.
10. Mengobservasi reaksi klien.
11. Mencatat jam dan tanggal pemberian penyuntikan, serta dosis obat.
Prosedur penyuntikan insulin Intramuskular dan Intravena.
Prosedur penyuntikan insulin secara intramuskular dan intravena hampir sama dengan prosedur penyuntikan insulin secara subkutan, dengan sedikit perbedaan yaitu pada penyuntikan secara intramuskular, dilakukan aspirasi setelah penusukan jarum injeksi untuk memeriksa apakah ada darah yang terisap masuk ke dalam spoit hal ini menandakan bahwa jarum injeksi mengenai pembuluh darah/syaraf, dalam hal ini mencegah kelumpuhan pada syaraf dan syok anfilaktik. Sedangkan pada penyuntikan secara intravena dilakukan pembendungan sebelum pemasukan jarum injeksi untuk lokalisasi penusukan jarum injeksi.
Prosedur pemberian insulin per rectal.
1. Persiapan alat dan bahan.
Obat insulin Suppositoria 100 µ (indikasi DM tipe II, 15 menit sesudah makan dan diberikan 3 kali sehari).
Nierbekken.
Handschoen steril.
2. Persiapan klien
o Menjelaskan kepada klien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
o Memasang sampiran/tabir disekeliling tempat tidur.
3. Prosedur kerja.
o Menawarkan klien untuk BAB atau BAK.
o Membebaskan pakaian bagian bawah.
o Mengatur posisi klien, dengan dimiringkan kekanan atau kekiri seperti letak sinus.
o Meletakkan nierbekken di bawah anus.
o Perawat memakai handschoen steril.
o Memasukkan obat ke dalam rectum sambil menyuruh klien menarik nafas panjang.
o Anjurkan klien istirahat baring selama 20 menit.
o Melepaskan handschoen dan meletakkan pada nierbekken.
o Merapikan pakaian klien dan lingkungannya.
o Membereskan alat-alat.
o Mencuci tangan.
o Mengobservasi reaksi klien.
o Mencatat jam dan tanggal pemberian obat.
Prosedur pemberian insulin melalui alat mekanik.
1. Persiapan alat dan bahan.
Obat insulin (insulin regular) + spuit insulin.
Set mikrodips steril.
Standar infus + infusion pump/sharing pump.
Abocath steril dengan nomor yang sesuai.
Cairan infus steril (Dex 5 %, NaCl 0,9 %, Maltosa 10 %).
Nierbekken.
Kapas alkohol 70 % + kasa steril.
Plester + gunting.
Bethadine 10 %.
Tourniquet.
Bidai dan pembalut (K/P).
Perlak kecil.
Handschoen steril.
2. Persiapan klien.
o Mengidentifikasi klien.
o Menjelaskan prosedur tindakan pada klien (jika klien dalam keadaan sadar).
o Menyiapkan lingkungan.
3. Mengisi Mikrodips.
a. Mencuci tangan.
b. Memeriksa etiket.
c. Menggantungkan botol/cairan infuse.
d. Mengahapus hama karet penitip botol.
e. Pengatur tetesan ditutup, jaraknya 2 – 4 cm.
f. Menusukkan set mikrodips ke dalam botol infus, pengatur tetesan dibuka.
g. Ruang mikrodips diisi sampai tanda 100 cc dan masukkan obat insulin (sesuai instruksi).
h. Ruang tetesan diisi setengah (jangan sampai terendam).
i. Slang mikrodips diisi dan udara dikeluarkan, kemudian pengatur tetesan ditutup.
j. Slang mikrodips dipasang pada infusion pump/shering pump.
4. Melakukan vena punksi.
a. Menentukan lokasi.
b. Meletakkan perlak kecil di bawah bagian yang akan di punksi.
c. Melakukan pembendungan.
d. Memakai handschoen steril.
e. Menghapus hama lokasi punksi.
f. Memasukkan kateter abocath ke dalam vena yang dimaksud.
g. Buka pembendung, sambungkan kateter abocath dengan salng mikrodips dan pengatur dibuka.
h. Menilai ada/tidaknya pembengkakan.
i. Kateter abocath ditambatkan dengan plester.
j. Daerah punksi diberi bethadine dan ditutup kasa steril lalu diplester.
k. Pasang bidai dan dibalut (K/P).
l. Mengatur tetesan pada kode D. Rate di infusion pump/sharing pump (sesuai instruksi).
m. Merapikan klien.
n. Membereskan alat-alat.
o. Mengobservasi reaksi klien.
p. Mencatat tanggal dan jam pemberian, serta dosis obat dan macam cairan.
q. Mencuci tangan.
Jadwal pemberian insulin :
Sebelum makan pagi.
Sebelum makan siang.
2 jam setelah makan.
Jam 6 pagi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam terapi insulin pada anak :
Ajarkan orang tua/klien mengenai teknik penyuntikan insulin secara mandiri.
Jelaskan peralatan yang harus dibeli orang tua untuk penggunaan insulin di rumah.
Jelaskan informasi tentang tanda/gejala dan pencegahan komplikasi DM (Hipoglikemia, Hyperglikemia, DKA) pada orang tua dan anak.
Gunakan hanya insulin regular dalam infus insulin intravena, karena insulin ini kurang antigenik.
Short acting insulin dapat diberikan secara IV, IM, SC dan dapat ditambahkan dalam cairan infuse seperti a. amino, glokosa, elektrolit serta sebaiknya tidak diberikan bersama produk darah karena mengandung enzim yang dapat menyebabkan degradasi insulin.
Intermediate dan long acting insulin tak dapat diberikan secara IV karena bahaya emboli.
Anjurkan orang tua/klien untuk memantau daerah injeksi insulin.
Bantu anak mengontrol rasa takut terhadap injeksi melalui bermain interaktif dan partisipasi dalam prosedur.
Pada klien kurus yang memiliki sedikit jaringan adiposity, dipakai sudut 45º - 60º.
Kebutuhan akan insulin menurun disebabkan interaksi obat seperti aspirin, antikoagulansia dan antidepressant yang akan menurunkan gula darah.
Jelaskan rotasi tempat penyuntikan dalam suatu daerah anatomis pada orang tua/klien. (Pada daerah yang sama injeksi pertama dan beikutnya harus berjarak 1 ½ cm/satu ruas jari tangan).
Insulin yang berasal dari kelenjar pankreas sapi dan insulin manusia lebih banyak memberikan efek samping (alergi), oleh karena itu sebelum diinjeksikan harus dilakukan skin test.
Normalnya ketika anak makan, pasti memproduksi insulin. Sebaliknya, apabila anak tidak makan makan maka insulin tidak dibutuhkan.
Bagi penderita diabetes yang selalu menggunakan dosis insulin secara tetap setiap pagi, lalu insulin bekerja, tidak peduli penderita tersebut makan atau tidak.
Jadi apabila anak tersebut terlambat makan siang, sementara insulin sudah mulai bekerja maka kadar gula I dalam darah akan lebih rendah lagi, sehingga anak akan mengalami hipoglikemia.
Jika kadar glukosa darah normal dan stabil, namun bekerja terlampau berat, sehingga menggunakan glukosa dalam darah, karena pasokan insulin eksogen maka akibatnya akan mengalami juga yang dinamakan hipoglikemia.
Kecepatan absorpsi di tempat suntikan bergantung pada beberapa faktor, antara lain lokasi suntikan, latihan, massage, suhu, dalamnya suntikan, konsentrasi/kekuatan insulin, campuran insulin, degradasi insulin pada tempat suntikan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rosa M. Sacharis, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta.
2. Hudak & Gallo, 1994, Keperawatan Kritis, Vol. II, Ed. VI, EGC, Jakarta.
3. Arcole Margatan, 2001, Yang Manis Jangan Pipis, CV. Aneka, Solo.
4. Askandar T, 1996, Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi DM, Ed. 3, PT. Gramedia, Jakarta.
5. Dr. A. Bloom, 1990, Seri Kesehatan kluarga Diabetes, PT. Dian Rakyat, Jakarta.
6. http:/www.Suplemen Pikiran Rakyat HIKMAH, Invalet, Sabtu 2 Nov. 2002.
7. Koran Pak Oles, Rubrik Kesehatan, Ed. 47, Minggu ke-1, Desember 2003.
8. Prof. dr. H.M.Syaifullah Noer, 1996, Buku Ajar I Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. 3, Balai Pustaka FK-UI, Jakarta.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN IMMOBILISASI
A. Etiologi
Biasanya alasan immobilisasi pada anak atau pembatasan aktivitas pada anak tanpa disability adalah sakit atau injury. Bed rest atau penggunaan alat restraining mekanik merupakan tindakan yang paling sering dilakukan untuk penyembuhan dan pemulihan. Saat anak sakit mereka cenderung diam dan aktivitasnya berkurang. Anak terpaksa tidak active karena keterbatasan fisik/teraphy akan memberikan efek terhadap keterbatasan gerak.
Alasan yang paling banyak untuk terjadinya immobilisasi antara lain:
1. Congenital defect (spina bifida)
2. Degenerative disorder (muskular dystropi)
3. Infeksi/injury pada sistem integumen (luka baker)
4. Gangguan sistem muskuloskeletal (fraktur/osteomielitis)
5. Gangguan neurologic sistem (spinal cord injury, polyneuritis, head injury)
6. Therapi (traksi, spinal fussion)
B. Efek physiologi
1. Sistem Muskular
Otot yang tidak aktif akan mengalami kehilangan kekuatan 3% per hari, dan dalam hal ini tanpa defisit neuromuskular primer kadang-kadang memerlukan beberapa minggu/bulan untuk dapat berfungsi kembali.
Streching dapat terjadi seperti kehilangan tonus otot atau seperti exessive strain (wirst drop/foot drop) dapat terjadi karena kerusakan jaringan/atropi otot
Pada atropi otot yang general → penurunan kekuatan otot dan kekakuan pada persendian.
2. Skeletal sistem
Kondisi skeletal sehari-hari akan dipertahankan antara aktivitas formasi tulang (Osteoblastic activity) dan resporsi tulang (osteoclastic actinity).
Bila stressing pada tulang berkurang, aktivitas osteobalas menurun, akan dilanjutkan dengan destruksi tulang, calsium tulang akan berkurang, sedangkan serum nirogen dan phospor meningkat → deminralisasi tulang (osteopenia) → fraktur patologis dan peningkatan kalsium darah.
Pada anak yang tidak dapat bergerak, seperti anak dengan penurunan kesadaran, pergerakan menjadi terbatas → kontrkator persendian.
Kontraktor paling sering di hip, lutut, bahu, paintar, kaki.
3. Cardio vaskular sistem
Ada tiga efek yang dapat terjadi pada sistem kardio vaskuler:
a. Hypotensi ortostatik
b. Peningkatan kerja jantung
c. Trombus formation
4. Respiratory sistem
Basal metabolisme rate menurun karena adanya penurunan kebutuhan energi dalam sel → kebutuhan sel akan oksigen menurun → produksi CO2, berkurang → penurunan kebutuhan O2 dan CO2 menyebabkan respirasi menjadi lambat dan dalam.
Expansi dada terbatas karena adanya distensi abdomen akibat akumulasi feses, gas dan cairan atau karena penggunaan alat yang membatasi gerak seperti body cast, brace, tight bindes.
5. Gastro intestinal sistem
Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan balance nitrogen yang negatif yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas katabolisme → penurunan kontribusi energi → ingesti nutrisi menurun → nafsu makan menurun.
Penurunan aktivitas → efek gravitational pada pergerakan feses → fases menjadi keras → sulit untuk dikeluarkan → konstipasi.
6. Renal sistem
Struktur dalam sistem perkemihan dirancang untuk posisi tegak lurus sehingga bila terjadi perubahan posisi kontraksi peristaltik ureter akan memberikan tahanan terhadap kandung kemih → urine menjadi statis → merangsang pembentukan batu → batu dalam saluran kemih.
Batu dalm saluran kemih → urine statis → media untuk pertumbuhan mikro organisme → infeksi saluran kemih.
7. Integumentary sistem
Akibat immobilisasi dapat menyebabkan aliran darah menurun terutama pada daerah yang tertekan (sacrum, occiput, trokanter dan ankle) → distribusi O2 dan nutrisi menurun → ischemia jaringan → nekritic jaringan → ulcer (decubitus)
8. Neurosensory sistem
Menurut hasil penelitian efek immobilisasi terhadap sistem neurosensory tidak begitu terlihat.
Dua hal yang dapat terjadi : loss of innervation dan sensory and perceptual deprivation.
C. Efek psikologis
1. Tingkat kecemasan lebih tinggi
a. Resietness
b. Sulit melaksanakan problem solving
c. Depresi
d. Regresi
e. egosentris
2. Monotomy dapat mengakibatkan :
a. Sluggist intellectual response
b. Sluggist psychomotor response
c. Penurunan kemampuan komunikasi
d. Fantastis meningkat
e. Halusinasi
f. Disorentasi
g. Ketergantungan
h. Perilaku yang tidak biasa
D. Efek terhadap keluarga
1. Penurunan status finansial (sumber keuangan keluarga berkurang)
2. Fokus keluarga terhadap anak sakit, sehingga sibling merasa disia-siakan
3. Coping individu dan keluarga tidak efektif sehingga tidak dapat menanggulangi krisis keluarga yang terjadi
4. Orang tua selalu merasa bersalah atas sakit anaknya
E. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian fisik dilakukan terutama pada sistem yang mendapat efek terhadapa immobilisasi (sirkulasi, ginjal, integumen, muskuloskeletal, respirasi, gastrointestinal)
2. Diagnosa keperawatan
Perubahan mobilitas fisik b/d restriksi mekanik, physikal ability
Resiko terjadinya gangguan kulit b/d
Resiko injury b/d
Devisit aktivitas b/d
Biasanya alasan immobilisasi pada anak atau pembatasan aktivitas pada anak tanpa disability adalah sakit atau injury. Bed rest atau penggunaan alat restraining mekanik merupakan tindakan yang paling sering dilakukan untuk penyembuhan dan pemulihan. Saat anak sakit mereka cenderung diam dan aktivitasnya berkurang. Anak terpaksa tidak active karena keterbatasan fisik/teraphy akan memberikan efek terhadap keterbatasan gerak.
Alasan yang paling banyak untuk terjadinya immobilisasi antara lain:
1. Congenital defect (spina bifida)
2. Degenerative disorder (muskular dystropi)
3. Infeksi/injury pada sistem integumen (luka baker)
4. Gangguan sistem muskuloskeletal (fraktur/osteomielitis)
5. Gangguan neurologic sistem (spinal cord injury, polyneuritis, head injury)
6. Therapi (traksi, spinal fussion)
B. Efek physiologi
1. Sistem Muskular
Otot yang tidak aktif akan mengalami kehilangan kekuatan 3% per hari, dan dalam hal ini tanpa defisit neuromuskular primer kadang-kadang memerlukan beberapa minggu/bulan untuk dapat berfungsi kembali.
Streching dapat terjadi seperti kehilangan tonus otot atau seperti exessive strain (wirst drop/foot drop) dapat terjadi karena kerusakan jaringan/atropi otot
Pada atropi otot yang general → penurunan kekuatan otot dan kekakuan pada persendian.
2. Skeletal sistem
Kondisi skeletal sehari-hari akan dipertahankan antara aktivitas formasi tulang (Osteoblastic activity) dan resporsi tulang (osteoclastic actinity).
Bila stressing pada tulang berkurang, aktivitas osteobalas menurun, akan dilanjutkan dengan destruksi tulang, calsium tulang akan berkurang, sedangkan serum nirogen dan phospor meningkat → deminralisasi tulang (osteopenia) → fraktur patologis dan peningkatan kalsium darah.
Pada anak yang tidak dapat bergerak, seperti anak dengan penurunan kesadaran, pergerakan menjadi terbatas → kontrkator persendian.
Kontraktor paling sering di hip, lutut, bahu, paintar, kaki.
3. Cardio vaskular sistem
Ada tiga efek yang dapat terjadi pada sistem kardio vaskuler:
a. Hypotensi ortostatik
b. Peningkatan kerja jantung
c. Trombus formation
4. Respiratory sistem
Basal metabolisme rate menurun karena adanya penurunan kebutuhan energi dalam sel → kebutuhan sel akan oksigen menurun → produksi CO2, berkurang → penurunan kebutuhan O2 dan CO2 menyebabkan respirasi menjadi lambat dan dalam.
Expansi dada terbatas karena adanya distensi abdomen akibat akumulasi feses, gas dan cairan atau karena penggunaan alat yang membatasi gerak seperti body cast, brace, tight bindes.
5. Gastro intestinal sistem
Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan balance nitrogen yang negatif yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas katabolisme → penurunan kontribusi energi → ingesti nutrisi menurun → nafsu makan menurun.
Penurunan aktivitas → efek gravitational pada pergerakan feses → fases menjadi keras → sulit untuk dikeluarkan → konstipasi.
6. Renal sistem
Struktur dalam sistem perkemihan dirancang untuk posisi tegak lurus sehingga bila terjadi perubahan posisi kontraksi peristaltik ureter akan memberikan tahanan terhadap kandung kemih → urine menjadi statis → merangsang pembentukan batu → batu dalam saluran kemih.
Batu dalm saluran kemih → urine statis → media untuk pertumbuhan mikro organisme → infeksi saluran kemih.
7. Integumentary sistem
Akibat immobilisasi dapat menyebabkan aliran darah menurun terutama pada daerah yang tertekan (sacrum, occiput, trokanter dan ankle) → distribusi O2 dan nutrisi menurun → ischemia jaringan → nekritic jaringan → ulcer (decubitus)
8. Neurosensory sistem
Menurut hasil penelitian efek immobilisasi terhadap sistem neurosensory tidak begitu terlihat.
Dua hal yang dapat terjadi : loss of innervation dan sensory and perceptual deprivation.
C. Efek psikologis
1. Tingkat kecemasan lebih tinggi
a. Resietness
b. Sulit melaksanakan problem solving
c. Depresi
d. Regresi
e. egosentris
2. Monotomy dapat mengakibatkan :
a. Sluggist intellectual response
b. Sluggist psychomotor response
c. Penurunan kemampuan komunikasi
d. Fantastis meningkat
e. Halusinasi
f. Disorentasi
g. Ketergantungan
h. Perilaku yang tidak biasa
D. Efek terhadap keluarga
1. Penurunan status finansial (sumber keuangan keluarga berkurang)
2. Fokus keluarga terhadap anak sakit, sehingga sibling merasa disia-siakan
3. Coping individu dan keluarga tidak efektif sehingga tidak dapat menanggulangi krisis keluarga yang terjadi
4. Orang tua selalu merasa bersalah atas sakit anaknya
E. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian fisik dilakukan terutama pada sistem yang mendapat efek terhadapa immobilisasi (sirkulasi, ginjal, integumen, muskuloskeletal, respirasi, gastrointestinal)
2. Diagnosa keperawatan
Perubahan mobilitas fisik b/d restriksi mekanik, physikal ability
Resiko terjadinya gangguan kulit b/d
Resiko injury b/d
Devisit aktivitas b/d
TUMOR ADNEKSA
I. KONSEP MEDIS
A. Pengertian.
Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara ototnom, lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya.
Tumor adneksa adalah tumbuhnya jaringan pada sistem reproduksi yaitu pada tuba fallopi, kemudian pada uterus dan ovarium biasanya terjadi bersamaan.
Tumor adneksa adalah tumor ganas di tuba fallopi, lebih sekunder berasal dari tumor ganas ovarium, uterus, kolorectal dan payudara.
B. Etiologi.
Tumor adneksia kebanyakan diakibatkan oleh infeksi yang menjalar ke atas dari uterus. Peradangan ini menyebar ke ovarium, peritoneum, pembuluh darah pelviks, dimana kuman itu masuk ke dalam rongga pelviks selama hubunga seksual, persalinan, aborsi sebagai akibat dari tindakan (mis. Kerokan & leparatomi)
Organ-organ tadi akan mengalami peradangan dan bersarang di tuba fallopi. Cairan purulent dapat berkumpul dalam tubuh menyebabkan perlengketan sehingga terjadi penyempitan dan mengakibatkan berbagai gangguan. Pada tuba, infeksi dapat disebabkan oleh kuman seperti streptokokkus, staphilokokkus, clostridium welche dll.
C. Patologi.
HU Taymor & Hertig membagi tumor ini menjadi 3 (tiga) jenis menurut keganasannya, yaitu :
o Jenis tumor dengan pertumbuhan papiler, tumor belum mencapai otot tuba dan deferiensiasi sel masih baik, batas daerah normal dengan tumor masih dapat ditunjukkan.
o Jenis tumor dengan pertumbuhan papiolaveolar (adenomatosa), dimana tumor telah memasuki jaringan otot dan terlihat gambaran kelenjar.
o Jenis tumor dengan pertumbuhan alveomedular : terlihat motosisi yang atopik dan investasi sel ganas ke dalam saluran limfe tuba.
D. Patogenesis.
Tumor ganas pada alat reproduksi wanita dijumpai pada semua umur (18 – 80 tahun) dengan rat-rata puncaknya pada usia 50 tahun. Kejadian paling sering pada kelompok umur 30 – 40 tahun.
E. Gejala Klinik.
Gejala yang timbul pada tumor adneksia adalah gejala perdarahan pervagina. Pada masa reproduksi, perdarahan tersebur biasanya terjadi antara 2 masa haid dan jumlahnya haya sedikit tetapi dapat berlangsung terus-menerus setiap hari.
Gejala ke-2 setelah perdarahan adalah perasaan nyeri di perut. Perasaan sakit dapat timbul sebagai akibat distensi dinding tumor.
F. Tes Diagnostik.
a. Pemeriksaan pelviks.
Digunakan untuk melihat perubahan pada vulva, vagina dan serviks dengan palpasi organ-organ dalam khususnya ovarium dan permukaan uterus.
b. Test papanicolau.
Merupakan pemeriksaan sylogis yang memungkimkan adanya sel-sel abnormal mendeteksi keganasan tumor pada tahap awal.
c. Ultrasonografi.
Merupakan alat diagnostik yang sangat berguna bagi masalah-masalah ginekologi, untuk menentukan lokasi masa tumor.
d. Endoscopy.
Dengan enoscopy dapat melihat pelviks dan jaringan sekitarnya secara langsung.
o Colposcopy vagina dan serviks di bawah kekuatan magnet yang rendah.
o Culdoscopy :
Pemasukan culdoscopy melalui vagina bagian belakang ke dalam culdecor untuk melihat tuba fallopi dan ovarium.
o Hysteroscopy :
Pemasukan hysteroscopy melalui serviks untuk melihat bagian dalam uterus.
o Laparoscopy :
Pemasukan melalui insisi kecil pada dinding abdomen.
G. Penatalaksanaan Medis.
o Pembedahan .
Total heroscopy Abdominal (TNA) dan tanpa Bilateral Salpingo Opporectomy (BSO) adalah penanganan yang sangat umum dilakukan pada tumor/kanker ginekologi.
o Radio terapy.
Radiasi ulang intra cervical saat pra bedah untuk mengecilkan tumor sehingga dapat menjamin tingkat keamanan saat dilakukan pembedahan.
II. KONSEP KEPERAWATAN.
A. Pengertian Keperawatan.
Adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan asuhan keperawatan yang mempunyai 4 (empat) tahapan, yaitu pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Tujuan perawatan :
o Membantu individu menentukan masalah kesehatan/keperawatan yang dirasakan dengan mengajak individu dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi meningkatkan kesehatan.
o Membantu individu untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.
o Membantu individu mengembangkan potensinya, memelihara kesehatannya secara optimal mungkin, agar tidak selalu tergantung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.
B. Proses Keperawatan Pada Klien dengan Tumor Adneksia.
Penkajian.
a. Biodata Klien.
o Identitas klien yaitu nama, umur, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, lamanya menikah, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk RS dan tanggal pengkajian.
o Identitas suami/penanggung.
b. Data Biologis/Fisiologis.
o Keluhan utama : Benjolan pada daerah abdomen.
o Riwayat keluhan utama :
Dipaparkan tentang awal terjadinya tumor adneksia dengan menggunakan analisa symptom PQRST, dilengkapi dengan keluhan lain dan pengaruh keluhan terhadap aktifitas/fungsi tubuh serta usaha klien serta usaha klien untuk mengatasi keluhan.
o Riwayat kesehatan masa lalu:
Yang dikaji adalah riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat opname, trauma, operasi, transfuse darah, alergi dan keiasaan spesifik klien lainnya.
o Riwayat kesehatan keluarga :
Yang dikaji adalah tiga generasi dengan mencamtumkan genogram dimana klien berada pada generasi ketiga, riwayat penyakit keturunan apakah ada anggota keluarga yang menderita tumor adneksa atau ada penyakit keturunan lainnya.
o Riwayat reproduksi :
Riwayat haid klien meliputi monorhe, siklus haid, durasi haid, atau perlangsungan haid (dismenore, polimenore, oligomenore, amenore atau menometroragia).
Riwayat obstetri meliputi kehamilan, persalinan dan nifas lalu, riwayat ginekologi dan KB.
c. Riwayat ADL.
Dikaji pola kegiatan sehari-hari sebelum dan pada saat sakit.
o Makanan : jenis makanan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan dan kesukaan klien.
o Minuman : jenis dan jumlah minuman.
o Eliminasi : BAB ; frekuensi, warna, konsistensi.
BAK ; frekuensi, jumlah, warna, bau.
o Istirahat/tidur : waktu serta jumlah jam tidur malam maupun siang.
o Kebersihan diri : penampilan diri, kebersihan rambut, badan, gigi/mulut, genitalia/anus, kuku tangan/kaki serta pakaian.
o Oksigenasi : pola nafas, ada/tidaknya adanya perubahan dalam pernafasan.
o Olahraga /aktivitas : kegiatan olahraga dan aktivitas yang dilakukan klien.
d. Pemeriksaan Fisik.
1. Penampilan ibu.
2. Tingkat kesadaran.
3. Tinggi badan/berat badan.
4. Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, denyut nadi, suhu badan dan frekuensi pernafasan.
5. Kepala dan rambut : bentuk wajah, keadaan/kebersihan rambut,keadaan/kebersihan kulit kepala.
6. Wajah/muka : ekepresi wajah, ada tidaknya edema wajah/muka.
7. Mata : kebersihan, konjuntiva dan sclera.
8. Hidung : kesimetrisan, secret hidung.
9. Mulut : mukosa bibir, lidah, ada tidaknya caries.
10. Telinga : kebersihab telinga, secret telinga, keadaan luar telinga.
11. Leher : ada tidaknya pembesaran kel. gondok, vena jugularis, dan arteri carotis.
12. Dada :
Inspeksi : bentuk dada, payudara, ekspansi paru.
Palpasi : nyeri tekan, massa, ekspansi paru, tactil vremitus, ictus cordis.
Perkusi : bunyi perkusi paru/jantung, pembesaran jantung.
Auskultasi : bunyi jantung dan bunyi nafas normal serta ada tidaknya bunyi tambahan.
13. Abdomen :
Inspeksi : pembesaran abdomen, ada tidaknya striae, dilatasi vena.
Auskultasi : bunyi peristaltik usus, ada tidaknya bising usus/pembuluh darah.
Perkusi : bunyi perkusi.
Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan, massa abdomen.
14. Genitalia (vulva/anus) : kebersihannya, ada tidaknya flour albus, varices, kondilomata, ada tidaknya massa atau lesi antara rectum dan vagina.
15. tungkai bawah : kesimetrisan, ada tidaknya edema pretobial atau varices.
e. Data Psikologis/Sosiologis :
Pada klien dengan tumor adneksa biasanya ditemukan adanya perasaan cemas.
o Dikaji reaksi emosional (respon ibu/suami) setelah penyakit didiagnosa/diketahui, begitupun dengan respon anaknya.
o Dikaji jenis pertolongan yang diingingkan oleh klien.
o Dikaji peranan ibu dalam keluarga.
o Dibahas tentang hubungan klien dengan orang lain.
f. Data Spiritual.
Pada klien dengan tumor adneksia dikaji tentang :
o Usaha ibu berdoa terhadap penyakitnya.
o Pantangan menurut keyakinan ibu selama di RS.
o Kaharusan menurut keyakinan ibu selama di RS.
g. Data Penunjang :
Dikaji tentang jenis-jenis pemeriksaan penunjang, meliputi :
o Pemeriksaan laboratorium.
o Pemeriksaan radiologi
III. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Diagnosa yang dapat diambil berdasarkan penyimpangan KDM, yaitu :
1. Kecemasan b/d ancaman kematian.
2. Perubahan pola nafas b/d pembesaran abdomen.
3. Resti kerusakan integritas kulit b/d bedrest total.
4. Perubahan pola eliminasi ; BAB b/d penurunan peristaltic usus.
5. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b/d kelemahan fisik.
IV. INTERVENSI DAN RASIONAL.
Diagnosa yang diambil pada intervensi ini adalah kecemasan b/d ancaman kematian.
a) Tinjau ulang pengalaman pasien/orang terdekat sebelumnya.
R/ membantu dalam identifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pada pengalaman dengan tumor.
b) Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
R/ memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnostik.
c) Pertahankan kontak sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien bila tepat.
R/ memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak; berikan respek dan penerimaan individu, mengembangkan kepercayaan.
d) Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut untuk memulai mengembangkan strategi koping untuk menghadapi rasa takut ini.
R/ keterampilan koping sering dirusak setelah diagnosis dan selama fase pengobatan yang berbeda. Dukungan dan konseling sering perlu untuk memungkinkan individu mengenal dan menghadapi rasa takut dan untk meyakini bahwa strategi kontrol/koping tersedia.
e) Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis. Hindari memperdebatkan tentang persepsi pasien terhadap situasi.
R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.
f) Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan mayor akan dibuat.
R/ menjamin system pendukung untuk pasien dan memungkinkan orang terdekat terlibat dengan tepat.
A. Pengertian.
Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara ototnom, lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya.
Tumor adneksa adalah tumbuhnya jaringan pada sistem reproduksi yaitu pada tuba fallopi, kemudian pada uterus dan ovarium biasanya terjadi bersamaan.
Tumor adneksa adalah tumor ganas di tuba fallopi, lebih sekunder berasal dari tumor ganas ovarium, uterus, kolorectal dan payudara.
B. Etiologi.
Tumor adneksia kebanyakan diakibatkan oleh infeksi yang menjalar ke atas dari uterus. Peradangan ini menyebar ke ovarium, peritoneum, pembuluh darah pelviks, dimana kuman itu masuk ke dalam rongga pelviks selama hubunga seksual, persalinan, aborsi sebagai akibat dari tindakan (mis. Kerokan & leparatomi)
Organ-organ tadi akan mengalami peradangan dan bersarang di tuba fallopi. Cairan purulent dapat berkumpul dalam tubuh menyebabkan perlengketan sehingga terjadi penyempitan dan mengakibatkan berbagai gangguan. Pada tuba, infeksi dapat disebabkan oleh kuman seperti streptokokkus, staphilokokkus, clostridium welche dll.
C. Patologi.
HU Taymor & Hertig membagi tumor ini menjadi 3 (tiga) jenis menurut keganasannya, yaitu :
o Jenis tumor dengan pertumbuhan papiler, tumor belum mencapai otot tuba dan deferiensiasi sel masih baik, batas daerah normal dengan tumor masih dapat ditunjukkan.
o Jenis tumor dengan pertumbuhan papiolaveolar (adenomatosa), dimana tumor telah memasuki jaringan otot dan terlihat gambaran kelenjar.
o Jenis tumor dengan pertumbuhan alveomedular : terlihat motosisi yang atopik dan investasi sel ganas ke dalam saluran limfe tuba.
D. Patogenesis.
Tumor ganas pada alat reproduksi wanita dijumpai pada semua umur (18 – 80 tahun) dengan rat-rata puncaknya pada usia 50 tahun. Kejadian paling sering pada kelompok umur 30 – 40 tahun.
E. Gejala Klinik.
Gejala yang timbul pada tumor adneksia adalah gejala perdarahan pervagina. Pada masa reproduksi, perdarahan tersebur biasanya terjadi antara 2 masa haid dan jumlahnya haya sedikit tetapi dapat berlangsung terus-menerus setiap hari.
Gejala ke-2 setelah perdarahan adalah perasaan nyeri di perut. Perasaan sakit dapat timbul sebagai akibat distensi dinding tumor.
F. Tes Diagnostik.
a. Pemeriksaan pelviks.
Digunakan untuk melihat perubahan pada vulva, vagina dan serviks dengan palpasi organ-organ dalam khususnya ovarium dan permukaan uterus.
b. Test papanicolau.
Merupakan pemeriksaan sylogis yang memungkimkan adanya sel-sel abnormal mendeteksi keganasan tumor pada tahap awal.
c. Ultrasonografi.
Merupakan alat diagnostik yang sangat berguna bagi masalah-masalah ginekologi, untuk menentukan lokasi masa tumor.
d. Endoscopy.
Dengan enoscopy dapat melihat pelviks dan jaringan sekitarnya secara langsung.
o Colposcopy vagina dan serviks di bawah kekuatan magnet yang rendah.
o Culdoscopy :
Pemasukan culdoscopy melalui vagina bagian belakang ke dalam culdecor untuk melihat tuba fallopi dan ovarium.
o Hysteroscopy :
Pemasukan hysteroscopy melalui serviks untuk melihat bagian dalam uterus.
o Laparoscopy :
Pemasukan melalui insisi kecil pada dinding abdomen.
G. Penatalaksanaan Medis.
o Pembedahan .
Total heroscopy Abdominal (TNA) dan tanpa Bilateral Salpingo Opporectomy (BSO) adalah penanganan yang sangat umum dilakukan pada tumor/kanker ginekologi.
o Radio terapy.
Radiasi ulang intra cervical saat pra bedah untuk mengecilkan tumor sehingga dapat menjamin tingkat keamanan saat dilakukan pembedahan.
II. KONSEP KEPERAWATAN.
A. Pengertian Keperawatan.
Adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan asuhan keperawatan yang mempunyai 4 (empat) tahapan, yaitu pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Tujuan perawatan :
o Membantu individu menentukan masalah kesehatan/keperawatan yang dirasakan dengan mengajak individu dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi meningkatkan kesehatan.
o Membantu individu untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.
o Membantu individu mengembangkan potensinya, memelihara kesehatannya secara optimal mungkin, agar tidak selalu tergantung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.
B. Proses Keperawatan Pada Klien dengan Tumor Adneksia.
Penkajian.
a. Biodata Klien.
o Identitas klien yaitu nama, umur, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, lamanya menikah, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk RS dan tanggal pengkajian.
o Identitas suami/penanggung.
b. Data Biologis/Fisiologis.
o Keluhan utama : Benjolan pada daerah abdomen.
o Riwayat keluhan utama :
Dipaparkan tentang awal terjadinya tumor adneksia dengan menggunakan analisa symptom PQRST, dilengkapi dengan keluhan lain dan pengaruh keluhan terhadap aktifitas/fungsi tubuh serta usaha klien serta usaha klien untuk mengatasi keluhan.
o Riwayat kesehatan masa lalu:
Yang dikaji adalah riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat opname, trauma, operasi, transfuse darah, alergi dan keiasaan spesifik klien lainnya.
o Riwayat kesehatan keluarga :
Yang dikaji adalah tiga generasi dengan mencamtumkan genogram dimana klien berada pada generasi ketiga, riwayat penyakit keturunan apakah ada anggota keluarga yang menderita tumor adneksa atau ada penyakit keturunan lainnya.
o Riwayat reproduksi :
Riwayat haid klien meliputi monorhe, siklus haid, durasi haid, atau perlangsungan haid (dismenore, polimenore, oligomenore, amenore atau menometroragia).
Riwayat obstetri meliputi kehamilan, persalinan dan nifas lalu, riwayat ginekologi dan KB.
c. Riwayat ADL.
Dikaji pola kegiatan sehari-hari sebelum dan pada saat sakit.
o Makanan : jenis makanan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan dan kesukaan klien.
o Minuman : jenis dan jumlah minuman.
o Eliminasi : BAB ; frekuensi, warna, konsistensi.
BAK ; frekuensi, jumlah, warna, bau.
o Istirahat/tidur : waktu serta jumlah jam tidur malam maupun siang.
o Kebersihan diri : penampilan diri, kebersihan rambut, badan, gigi/mulut, genitalia/anus, kuku tangan/kaki serta pakaian.
o Oksigenasi : pola nafas, ada/tidaknya adanya perubahan dalam pernafasan.
o Olahraga /aktivitas : kegiatan olahraga dan aktivitas yang dilakukan klien.
d. Pemeriksaan Fisik.
1. Penampilan ibu.
2. Tingkat kesadaran.
3. Tinggi badan/berat badan.
4. Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, denyut nadi, suhu badan dan frekuensi pernafasan.
5. Kepala dan rambut : bentuk wajah, keadaan/kebersihan rambut,keadaan/kebersihan kulit kepala.
6. Wajah/muka : ekepresi wajah, ada tidaknya edema wajah/muka.
7. Mata : kebersihan, konjuntiva dan sclera.
8. Hidung : kesimetrisan, secret hidung.
9. Mulut : mukosa bibir, lidah, ada tidaknya caries.
10. Telinga : kebersihab telinga, secret telinga, keadaan luar telinga.
11. Leher : ada tidaknya pembesaran kel. gondok, vena jugularis, dan arteri carotis.
12. Dada :
Inspeksi : bentuk dada, payudara, ekspansi paru.
Palpasi : nyeri tekan, massa, ekspansi paru, tactil vremitus, ictus cordis.
Perkusi : bunyi perkusi paru/jantung, pembesaran jantung.
Auskultasi : bunyi jantung dan bunyi nafas normal serta ada tidaknya bunyi tambahan.
13. Abdomen :
Inspeksi : pembesaran abdomen, ada tidaknya striae, dilatasi vena.
Auskultasi : bunyi peristaltik usus, ada tidaknya bising usus/pembuluh darah.
Perkusi : bunyi perkusi.
Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan, massa abdomen.
14. Genitalia (vulva/anus) : kebersihannya, ada tidaknya flour albus, varices, kondilomata, ada tidaknya massa atau lesi antara rectum dan vagina.
15. tungkai bawah : kesimetrisan, ada tidaknya edema pretobial atau varices.
e. Data Psikologis/Sosiologis :
Pada klien dengan tumor adneksa biasanya ditemukan adanya perasaan cemas.
o Dikaji reaksi emosional (respon ibu/suami) setelah penyakit didiagnosa/diketahui, begitupun dengan respon anaknya.
o Dikaji jenis pertolongan yang diingingkan oleh klien.
o Dikaji peranan ibu dalam keluarga.
o Dibahas tentang hubungan klien dengan orang lain.
f. Data Spiritual.
Pada klien dengan tumor adneksia dikaji tentang :
o Usaha ibu berdoa terhadap penyakitnya.
o Pantangan menurut keyakinan ibu selama di RS.
o Kaharusan menurut keyakinan ibu selama di RS.
g. Data Penunjang :
Dikaji tentang jenis-jenis pemeriksaan penunjang, meliputi :
o Pemeriksaan laboratorium.
o Pemeriksaan radiologi
III. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Diagnosa yang dapat diambil berdasarkan penyimpangan KDM, yaitu :
1. Kecemasan b/d ancaman kematian.
2. Perubahan pola nafas b/d pembesaran abdomen.
3. Resti kerusakan integritas kulit b/d bedrest total.
4. Perubahan pola eliminasi ; BAB b/d penurunan peristaltic usus.
5. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b/d kelemahan fisik.
IV. INTERVENSI DAN RASIONAL.
Diagnosa yang diambil pada intervensi ini adalah kecemasan b/d ancaman kematian.
a) Tinjau ulang pengalaman pasien/orang terdekat sebelumnya.
R/ membantu dalam identifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pada pengalaman dengan tumor.
b) Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
R/ memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnostik.
c) Pertahankan kontak sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien bila tepat.
R/ memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak; berikan respek dan penerimaan individu, mengembangkan kepercayaan.
d) Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut untuk memulai mengembangkan strategi koping untuk menghadapi rasa takut ini.
R/ keterampilan koping sering dirusak setelah diagnosis dan selama fase pengobatan yang berbeda. Dukungan dan konseling sering perlu untuk memungkinkan individu mengenal dan menghadapi rasa takut dan untk meyakini bahwa strategi kontrol/koping tersedia.
e) Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis. Hindari memperdebatkan tentang persepsi pasien terhadap situasi.
R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.
f) Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan mayor akan dibuat.
R/ menjamin system pendukung untuk pasien dan memungkinkan orang terdekat terlibat dengan tepat.
Langganan:
Postingan (Atom)