Minggu, 09 Januari 2011

TEKNIK PELAKSANAAN PUNCTI LUMBAL PADA ANAK

a. Pengertian
Puncti lumbal adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan pada tingkat L3-L4 atau L4-L5 untuk menegakkan diagnostic.

b. Tujuan
Prosedur ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Diagnostik : untuk memperoleh cairan serebrospinal bagi pemerikasaan dalam kasus diduga adanya meningitis.
2. Untuk mengurangi tekanan cairan serebrospinal pada hidrosefalus dan meningitis.
3. Untuk memberikan obat, mosalnya penisilin.
4. Untuk memberikan anestesi spinal.
5. Untuk pemeriksaan X-ray dan ventrikel.

c. Indikasi
Indikasi tindakan ini pada :
 Meningitis
 Ensefalitis

d. Kontraindikasi
Kontraindikasi pada :
 Koagulapati
 Infeksi yang terlokalisir pada region lumbal
e. Persiapan alat
1. Alat-alat steril :
 Sarung tangan steril
 Jarum spinal dengan ukuran yang diperlukan
 Kasa steril
 Spuit 2,5 cc dan jarum
 Duk steril
 Lidokain 1%
 Masker dan pelindung mata
 4 selang steril
 Penampung cairan serebrospinal
 Manometer untuk pengelolaan tekanan
2. Alat-alat non steril :
 Betadine
 Bengkok
 Plester
 Korentang

f. Persiapan anak
Klien dan keluarga diberi penjelasan dan kaji persiapan untuk pelaksanaan prosedur
Mengatur posisi klien :
 Penting agar anak dicegah untuk tidak bergerak sementara tindakan ini dilakukan dan hal ini dapat dicapai dengan menempatkan anak pada satu sisi
 Punggung sejajar dengan tepi meja
 Lengan kanan perawat ditempatkan pada lutut anak dengan menggenggam lengan
 Tangan kiri perawat ditempatkan sekeliling leher dan melengkungkan punggung. Hal ini memperbesar ruang intravertebral
 Cara lin, anak dapat ditempatkan dalam posisi duduk dengan ditopang oleh perawat atau orang tua anak

g. Pelaksanaan
1. Jelaskan prosedur pelaksanaan pada klien dan keluarga
2. Atur posisi klien pada tempat tidur
3. Pilihlah dan berikan tanda pada vertebrata L3-L4 atau L4-L5
4. Pasang perlak pada tempat tidur
5. Dekatkan bengkok pada punggung klien
6. Mencuci tangan dan memasang sarung tangan, masker dan pelindung mata
7. Pasang duk bolong pada daerah yang akan ditusuk
8. Lakukan anestesi daerah tersebut dengan lidokain 1%
9. Jarum spinal ditusukkan diantara ruang dan memasuki subarachnoid, setelah jarum berada didalam spasium subarachnoid, maka lepaskan stilet dan pasanglah manometer untuk mengukur tekanan pembukaan. Jikan aliran cairan serebrospinal yang bebas tidak diperoleh, maka secara perlahan cobalah memutar jarum 180 derajat
10. Dapatkan contoh cairan serebrospinal (1 ml per selang) untuk pemeriksaan laboratorium dan pasang etiket pada specimen
11. Bila selesai lepaskan jarum dan pasanglah perban
12. Perhatikan keadaan umum pasien
13. Klien dibiarkan tengkurap selama kira-kira 4 jam untuk menghindari nyeri kepala post puncti lumbal. Jika nyeri kepala pasca puncti berat, maka kaki tempat tidur dapat dinaikkan dan diberikan cairan glucose dan oksigen. Jika terdapat nyeri di leher, tungkai atau punggung hal ini harus dilaporkan, kemungkinan disebabkan oleh perdarahan ke dalamm theca atau karena infeksi.
14. Alat-alat dibereskan dan mencuci tangan.

h. Evaluasi
Perhatikan keadaan umum dan kenyamanan anak

i. Dokumentasi
 Catat warna cairan serebrospinal
 Catat waktu pelaksanaan
 Catat perawat yang melakukan tindakan

DAFTAR PUSTAKA


Hudok & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis, EGC Jakarta.

Marc Dumas, 1996, Prosedur Kedaruratan, EGC Jakarta.

Rosa M. Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC Jakarta.

ASKEP DISLOKASI PANGGUL KONGENITAL

I. Konsep Medis

1. Definisi
Dislokasi panggul kongenital adalah deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada saat kelahiran. Kondisi ini bervariasi dari pergeseran minimal ke lateral sampai dislokasi komplet dari kaput femoris keluar asetabulum.
Ada tiga pola yang terlihat : (1) subluxation, kaput femoris berada di asetabulum dan dapat mengalami dislokasi parsial saat pemeriksaan; (2) dislocatable, pinggul dapat dislokasi seluruhnya dengan manipulasi tetapi berada pada lokasi normal pada saat bayi istirahat ; (3) dislocated, pinggul berada dalam posisi dislokasi (paling parah)

2. Etiologi
Etiologinya tak diketahui, faktor penyebab yang diduga berupa tekanan intrauterine abnormal terhadap ekstremitas, presentasi bokong dan laksitas ligamentosa

3. Insiden
 Dislokasi panggul congenital terdapat satu antara 1000 kelahiran
 Rasio perempuan laki-laki 7 : 1
 Insiden meningkat pada kelahiran sungsang
 Peningkatan insiden terdapat pula pada saudara kandung dari anak yang terkena
 Pinggul kiri lebih sering terkena daripada pinggul kanan
 Sering kali berhubungan dengan kondisi lain, seperti dengan spina bifida
 Peningkatan insiden terdapat pada Eskimo Kanada dan kelompok Indian Amerika yang menidurkan anak mereka pada ayunan selama bulan-bulan pertama kehidupan

4. Manifestasi klinis

Bayi
 Mungkin tanpa gejala yang nyata karena pergeseran femur pada bayi mungkin minimal
 Lipatan gluteal asimetris (posisi telungkup)
 Panjang kaki yang terkena lebih pendek dari kakinya yang normal
 Abduksi pinggul terbatas pada sisi yang sakit
 Tanda Galeazzi positif
 Manuver Barlow positif
 Manuver ortolani positif

Toddler atau anak yang lebih besar
 Gaya berjalan seperti bebek (dislokasi bilateral dari pinggul)
 Condong ke sisi badan yang menahan beban
 Peningkatan lordosis lumbal pada saat berdiri (dislokasi bilateral pada pinggul)
 Kaki yang sakit lebih pendek dari kaki yang sehat
 Tanda Trendelenburg

5. Komplikasi
 Displasia persisten
 Dislokasi kambuhan
 Nekrosis avaskular latrogenik pada kaput femoris

6. Penatalaksanaan medis
Pengobatan bervariasi berdasarkan beratnya manifestasi klinis dan usia anak. Jika dislokasi dapat dikoreksi dalam beberapa hari sampai minggu pertama kehidupan, displasia ini akan reversibel dengan sempurna dan akan terbentuk pinggul yang normal. Selama periode neonatal mengembalikan dan mempertahankan pinggul pada posisi fleksi dan abduksi didapat dengan menggunakan alat pengoreksi. Pada usia 2 bulan dan 12 sampai 18 bulan, traksi dilanjutkan dengan reduksi terbuka atau tertutup (tergantung pada terjadi tidaknya kontraktur pada otot-otot aduktor dan pergesaran kaput femoris) dan digunakan gips spica.

II. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan
 Kaji tanda-tanda iritasi kulit
 Kaji respon anak terhadap traksi dan imobilisasi dalam balutan gips
 Saat pascaoperasi, kaji tanda-tanda vital dan tanda-tanda drainase luka
 Kali tingkat perkembangan anak
 Kaji kesiapan orangtua untuk melakukan perawatan di rumah pada gips tersebut

2. Diagnosa Keperawatan
 Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
 Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
 Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
 Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips

3. Intervensi Keperawatan

 Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
KE : - Mempertahankan tingkat mobilitas pada tingkat yang memungkinkan
- Mempertahankan posisi fungsional
- Pinggul bayi anak tetap pada posisi yang diinginkan
Intervensi :
 Pantau respon anak terhadap pemasangan traksi/gips
R/ : Anak mungkin merasa tidak nyaman dengan pemasangan alat koreksi ini


 Pantau respon anak terhadap immobilisasi dengan gips
R/ : Anak mungkin dibatasi oleh pandangan tentang keterbatasan fisik, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
 Dorong anak untuk tetap melakukan aktivitas sehari-harinya
R/ : Dengan dilakukannya aktivitas sehari-hari memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan rasa kontrol
 Instruksikan orang tua untuk memberikan aktivitas perangsang sesuai usia
R/ : Menjaga anak untuk tetap bergerak dan menggunakan otot-ototnya
 Berikan posisi yang nyaman pada saat anak istirahat
R/ : Berguna untuk memeprtahankan posisi fungsional dan mencegaj komplikasi

 Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
KE : Kulit anak/bayi tetap utuh tanpa kemerahan atau luka
Intervensi :
 Lakukan perawatan kulit
R/ : Menjaga kulit anak/bayi tetap bersih dan nyaman dan mencegah iritasi
 Pantau adanya tanda-tanda iritasi kulit
R/ : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan pemasangan gips yang membutuhkan intervensi lebih lanjut
 Ganti popok sesering mungkin
R/ : Untuk mencegah kerusakan kulit dan agar mempertahankan kebersihan brace
 Jaga agar kulit di bawah gips tetap bersih dan kering setiap hari
R/ : Mencegah terjadinya iritasi atau lecet akibat pemasangan gips
 Periksa adanya tanda-tanda infeksi dan tekanan
R/ : Mencegah terjadinya edema atau komplikasi lainnya yang disebabkan pemasangan gips

 Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips
KE : orangtua mendemonstrasikan aktivitas perawatan untuk menyesuaikan diri dengan alat korektif atau gips yang dipakai bayi
Intervensi :
 Ajarkan orangtua tentang cara-cara memelihara dan merawat alat korektif
R/ : Pengetahuan mengenai pemeliharaan alat-alat korektif dapat menjaga anak dari resiko injury dan dapat memberikan kenyamanan pemakain alat korektif pada anak.
 Ajarkan orangtua tentang perawatan gips
R/ : Pada pemakaian gips perlu dimonitor setiap saat karena mencegah terjadinya iritasi dan komplikasi akibat pemakain gips ini.
 Ajarkan orangtua untuk perlunya modifikasi tempat duduk
R/ : menjaga anak agar tetap mendapatkan posisi yang nyaman walaupun dalam pemakain alat pengoreksi


 Instruksikan orangtua agar tetap mempertahankan aktivitas anak
R/ : menjaga aktivitas otot yang dipasangi alat pengoreksi agar tetap bekerja dan mencegah terjadinya imobilitas

 Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
KE : tidak terjadi injury pada anak
Intervensi :
 Diskusikan secara proaktif cara-cara keamanan dan keselamatan anak
R/ : Mengetahui kemampuan orangtua untuk dapat menjaga anaknya dan mendapat kan cara penanganan anak dengan baik
 Kaji dan identifikasi strategi untuk memindahkan anak secara aman dan nyaman, yang terdiri dari cara menggunakan roda dorong dan menempatkan ekstremitas anak yang dipasangi alat
R/ : mencegah terjadinya cedera pada anak atau terjadinya nyeri/ketidaknyamanan pada anak pada saat anak dipindahtempatkan
 Ajarkan orangtua cara-cara mengoreksi alat serta tekankan pentingnya penggunan alat pada anak
R/ : memberi pengetahuan pada orangtua tentang cara mengoreksi alat dengan baik dan mencegah terjadinya cedera
 Ajarkan orangtua tentang tanda-tanda infeksi, kelainan neurovaskuler
R/ : mengetahui terjadinya infeksi atau komplikasi lebih dini dan dapat diberikan penanganannya
 Jadwalkan follow up setelah anak meninggalkan rumah sakit
R/ : mengetahui perkembangan kesehatan anak setelah penggunaan alat pengoreksi

DAFTAR PUSTAKA



Aston, J N. 1999. Kapita selekta traumatologik dan ortopedik. EGC. Jakarta.

Behrman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta.

Betz, Cecily l. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatric. Egc. Jakarta.

Merenstein, Gerald B. 2001. Buku Pegangan Pediatrik. Widya Medika. Jakarta.

TEKNIK PEMBERIAN INSULIN PADA ANAK

PENDAHULUAN.

Terapi Insulin.
Insulin adalah produk utama dari pankreas, disintesa pada sel B pulau Langerhans. Insulin sebagian besar berasal dari kelenjar pankreas babi (porcine) serta insulin manusia (human).

Sekresi insulin kira-kira 1 – 2 mg/hari, tetapi 40 % diinaktifkan oleh hati sebelum memasuki sirkulasi sistemik. Sekresi insulin terutama dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa darah.

Mekanisme kerja insulin :
Setelah disentesa insulin akan disekresi ke dalam sirkulasi dalam bentuk bebas, kemudian menuju sel target, dimana ia akan berikatan dengan reseptor spesifik dan akan bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukose oleh jaringan perifer, meningkatkan pembentukan glikogen pada hati dan otot, meningkatkan sintesa lemak dan protein, serta mengurangi lipolisis dan glukogeonesis.

Indikasi terapi insulin, antara lain digunakan pada DM tipe I, DM hamil, DM kurus, DM dengan stress berat (infeksi sistemik, operasi berat), gagal dengan OHO atau kontraindikasi dengan OHO. Preparat insulin; kini tersedia sejumlah preparat insulin dalam kemasan flakon 10 mL dengan konsentrasi 40,80 dan 100 unit insulin/mL (U-40, U-80, U-100). Serta spoit yang paling umum digunakan dapat memberikan maksimun 100 unit dalam 1 cc (spuit 1 cc). spuit insulin dapat digunakan lebih dari satu kali (sampai satu minggu) oleh klien yang sama.

Preprat insulin dapat dikelompokkan ke dalam 3 tipe berdasarkan awitan, puncak dan durasi kerja :
 Short acting insulin (Actrapid, Humulin R) :
 Daya kerja pendek/cepat 4 – 6 jam.
 Pemberian 3 kali sehari, setiap ½ jam sebelum makan.
 Tampak bening/jernih.
 Untuk kasus terkendali  anak yang aktif.
 Intermediate acting insulin (Monotord, Humulin N, Insulitard) :
 Daya kerja sedang 6 – 12 jam.
 Pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore), setiap ½ jam sebelum makan.
 Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
 Untuk anak dengan diabetes yang relative ringan atau stabil.
 Long acting insulin (Mixtard).
 Daya kerja lama/panjang 18 – 24 jam.
 Pemberiannya 1 kali sehari, setiap ½ jam sebelum atau sesudah makan.
 Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
 Insulin diberikan pada anak usia sekolah.

Penyimpanan insulin dalam lemari pendingin dengan suhu 2°C - 8°C (bukan di freezer). Pemberian insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kadar glukosa darah, diet dan tingkat aktivitas anak (ditentukan dengan slidding scale).

Lebih dari 98 % kasus anak adalah DM tipe I (IDDM). Anak penderita DM paling banyak ditemukan pada usia 11 – 14 tahun. Sedangkan penderita paling dini ditemukan pada umur satu tahun. Anak penderita DM dapat terhambat pertumbuhannya dan masa pubertasnya juga tertunda pula. Anak penderita DM juga mengalami kondisi yang sama dengan orang dewasa, cuman awitan pada anak biasanya labih cepat dan hanya saja anak tidak banyak mengeluh.

Tujuan pengobatan anak penderita DM yaitu agar si anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, mengalami perkembangan emosional yang baik, mampu mempertahankan kadar gula darah tanpa menimbulkan komplikasi dan bertanggunga jawab untuk mandiri sesuai dengan usia dan taraf intelegensinya.

Penanganan dan program pendidikan untuk diabetes anak sebaiknya direncanakan dalam jangka waktu yang panjang disesuaikan dengan tumbuh kembang fisik dan mental anak. Anak dengan diabetes, depresi orang tua merupakan faktor penghambat keberhasilan terapi.

Oleh karena itu peran serta, dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak utamanya dokter, perawat, psikolog, ahli gizi dan petugas sosial sangat diperlukan untuk keberhasilan terapi.


Metode Pemberian Insulin.
 Suntikan : - Subkutan
- intramuskular
- intavena.
 Per rectal.
 Melalui alat mekanik.

Masalah yang timbul akibat insulin.
 Lipodistrofi.
 Lipoatrofi.
 Hipoglikemia.
 Reaksi alergi.
 Resistensi insulin.
 Lipohipertrofi.


Prosedur penyuntikan insulin subkutan.

a. Persiapan alat dan bahan.
 Spuit insulin + jarum steril (konsentrasi insulin sesuai dengan unit kalibrasi pada spuit insulin).
 Desinfektan (kapas + etil alkohol 70 %)
 Obat infeksi (Insulin  tipe, konsentrasi dan expiry).
 Nierbekken.
b. Persiapan klien.
1. Mengidentifikasi klien.
2. Menjelaskan prosedur tindakan.
3. Menyiapkan lingkungan.
c. Prosedur kerja.
1. Mencuci tangan dengan baik.
2. Menyiapkan dosis obat :
o Pilihlah flakon insulin (bukan dikocok) dalam telapak tangan untuk mencampur insulin dengan baik, (untuk semua insulin kecuali insulin kerja singkat).
o Usap bagian atas flakon insulin dengan kapas alkohol 70 %.
o Suntikan sejumlah udara yang sama dengan jumlah dosis insulin yang akan digunakan ke dalam falkon. Aspirasi insulin kerja singkat terlebih dahulu kemudian kerja sedang atau kerja lama, lalu putar-putar alat suntikan agar kedua tipe insulin benar-benar tercampur (bila diberikan insulin campuran)  hati-hati agar tidak dimasukkan salah satu tipe insulin ke dalam botol yang berisi tipe insulin yang berbeda.
o Amati spuit terhadap adanya gelembung udara, periksa apakah dosis sudah tepat dan pasangkan kembali tutup spoit.
3. Menentukan lokasi injeksi :
o Ada empat daerah utama untuk penyuntikan insulin, yaitu abdomen, lengan (permukaan posterior), paha (permukaan anterior) dan bokong.
o Absorpsi tercepat di abdomen, sedang di lengan, paling lambat dip aha dan daerah bokong diantaranya.
o Lokasi pada abdomen : Hindari garis pinggang, tepat pada M. rectus abdominis dengan 2,5 cm mengitari umbilikus.
o Lokasi pada lengan : Mulai di bawah M. deltoid dan berakhir satu lebar tangan di atas siku. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan kearah luar secara lateral, dengan menggunakan hanya pemukaan eksternal (3 – 5 inc dari siku  dorso lateral).
o Lokasi pada paha : Mulai satu lebar tangan di bawah panggul dan berakhir satu lebar tangan di atas lutut. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan ke luar secara lateral, dengan hanya menggunakan permukaan luar (permukaan anterior).
o Lokasi pada bokong : Gunakan kuadran luar atas dari bokong.
4. Mengahapus hama lokasi injeksi dengan menggunakan kapas alcohol 70 %.
5. Meregangkan kulit membentuk suatu daerah yang cukup luas (cubit dan tahan lipatan kulit) dan menusukkan jarum injeksi dengan sudut 45° - 90°.
6. Menyuntikkan insulin, dengan menekan madrin sampai habis (obat dimasukkan perlahan-lahan).
7. Mencabut jarum injeksi dan menekan daerah penyuntikan selama 5 – 10 detik dengan menggunakan kapas alcohol 70 % sambil melakukan massage (untuk mencegah merembesnya darah/serum dan mempercepat absorpsi insulin dari daerah penyuntikan.
8. Membereskan alat-alat.
9. Mencuci tangan.
10. Mengobservasi reaksi klien.
11. Mencatat jam dan tanggal pemberian penyuntikan, serta dosis obat.


Prosedur penyuntikan insulin Intramuskular dan Intravena.
Prosedur penyuntikan insulin secara intramuskular dan intravena hampir sama dengan prosedur penyuntikan insulin secara subkutan, dengan sedikit perbedaan yaitu pada penyuntikan secara intramuskular, dilakukan aspirasi setelah penusukan jarum injeksi untuk memeriksa apakah ada darah yang terisap masuk ke dalam spoit  hal ini menandakan bahwa jarum injeksi mengenai pembuluh darah/syaraf, dalam hal ini mencegah kelumpuhan pada syaraf dan syok anfilaktik. Sedangkan pada penyuntikan secara intravena dilakukan pembendungan sebelum pemasukan jarum injeksi untuk lokalisasi penusukan jarum injeksi.


Prosedur pemberian insulin per rectal.

1. Persiapan alat dan bahan.
 Obat insulin Suppositoria 100 µ (indikasi DM tipe II, 15 menit sesudah makan dan diberikan 3 kali sehari).
 Nierbekken.
 Handschoen steril.
2. Persiapan klien
o Menjelaskan kepada klien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
o Memasang sampiran/tabir disekeliling tempat tidur.
3. Prosedur kerja.
o Menawarkan klien untuk BAB atau BAK.
o Membebaskan pakaian bagian bawah.
o Mengatur posisi klien, dengan dimiringkan kekanan atau kekiri seperti letak sinus.
o Meletakkan nierbekken di bawah anus.
o Perawat memakai handschoen steril.
o Memasukkan obat ke dalam rectum sambil menyuruh klien menarik nafas panjang.
o Anjurkan klien istirahat baring selama 20 menit.
o Melepaskan handschoen dan meletakkan pada nierbekken.
o Merapikan pakaian klien dan lingkungannya.
o Membereskan alat-alat.
o Mencuci tangan.
o Mengobservasi reaksi klien.
o Mencatat jam dan tanggal pemberian obat.


Prosedur pemberian insulin melalui alat mekanik.

1. Persiapan alat dan bahan.
 Obat insulin (insulin regular) + spuit insulin.
 Set mikrodips steril.
 Standar infus + infusion pump/sharing pump.
 Abocath steril dengan nomor yang sesuai.
 Cairan infus steril (Dex 5 %, NaCl 0,9 %, Maltosa 10 %).
 Nierbekken.
 Kapas alkohol 70 % + kasa steril.
 Plester + gunting.
 Bethadine 10 %.
 Tourniquet.
 Bidai dan pembalut (K/P).
 Perlak kecil.
 Handschoen steril.
2. Persiapan klien.
o Mengidentifikasi klien.
o Menjelaskan prosedur tindakan pada klien (jika klien dalam keadaan sadar).
o Menyiapkan lingkungan.
3. Mengisi Mikrodips.
a. Mencuci tangan.
b. Memeriksa etiket.
c. Menggantungkan botol/cairan infuse.
d. Mengahapus hama karet penitip botol.
e. Pengatur tetesan ditutup, jaraknya 2 – 4 cm.
f. Menusukkan set mikrodips ke dalam botol infus, pengatur tetesan dibuka.
g. Ruang mikrodips diisi sampai tanda 100 cc dan masukkan obat insulin (sesuai instruksi).
h. Ruang tetesan diisi setengah (jangan sampai terendam).
i. Slang mikrodips diisi dan udara dikeluarkan, kemudian pengatur tetesan ditutup.
j. Slang mikrodips dipasang pada infusion pump/shering pump.
4. Melakukan vena punksi.
a. Menentukan lokasi.
b. Meletakkan perlak kecil di bawah bagian yang akan di punksi.
c. Melakukan pembendungan.
d. Memakai handschoen steril.
e. Menghapus hama lokasi punksi.
f. Memasukkan kateter abocath ke dalam vena yang dimaksud.
g. Buka pembendung, sambungkan kateter abocath dengan salng mikrodips dan pengatur dibuka.
h. Menilai ada/tidaknya pembengkakan.
i. Kateter abocath ditambatkan dengan plester.
j. Daerah punksi diberi bethadine dan ditutup kasa steril lalu diplester.
k. Pasang bidai dan dibalut (K/P).
l. Mengatur tetesan pada kode D. Rate di infusion pump/sharing pump (sesuai instruksi).
m. Merapikan klien.
n. Membereskan alat-alat.
o. Mengobservasi reaksi klien.
p. Mencatat tanggal dan jam pemberian, serta dosis obat dan macam cairan.
q. Mencuci tangan.


Jadwal pemberian insulin :
 Sebelum makan pagi.
 Sebelum makan siang.
 2 jam setelah makan.
 Jam 6 pagi.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam terapi insulin pada anak :
 Ajarkan orang tua/klien mengenai teknik penyuntikan insulin secara mandiri.
 Jelaskan peralatan yang harus dibeli orang tua untuk penggunaan insulin di rumah.
 Jelaskan informasi tentang tanda/gejala dan pencegahan komplikasi DM (Hipoglikemia, Hyperglikemia, DKA) pada orang tua dan anak.
 Gunakan hanya insulin regular dalam infus insulin intravena, karena insulin ini kurang antigenik.
 Short acting insulin dapat diberikan secara IV, IM, SC dan dapat ditambahkan dalam cairan infuse seperti a. amino, glokosa, elektrolit serta sebaiknya tidak diberikan bersama produk darah karena mengandung enzim yang dapat menyebabkan degradasi insulin.
 Intermediate dan long acting insulin tak dapat diberikan secara IV karena bahaya emboli.
 Anjurkan orang tua/klien untuk memantau daerah injeksi insulin.
 Bantu anak mengontrol rasa takut terhadap injeksi melalui bermain interaktif dan partisipasi dalam prosedur.
 Pada klien kurus yang memiliki sedikit jaringan adiposity, dipakai sudut 45º - 60º.
 Kebutuhan akan insulin menurun disebabkan interaksi obat seperti aspirin, antikoagulansia dan antidepressant yang akan menurunkan gula darah.
 Jelaskan rotasi tempat penyuntikan dalam suatu daerah anatomis pada orang tua/klien. (Pada daerah yang sama injeksi pertama dan beikutnya harus berjarak 1 ½ cm/satu ruas jari tangan).
 Insulin yang berasal dari kelenjar pankreas sapi dan insulin manusia lebih banyak memberikan efek samping (alergi), oleh karena itu sebelum diinjeksikan harus dilakukan skin test.
 Normalnya ketika anak makan, pasti memproduksi insulin. Sebaliknya, apabila anak tidak makan makan maka insulin tidak dibutuhkan.
 Bagi penderita diabetes yang selalu menggunakan dosis insulin secara tetap setiap pagi, lalu insulin bekerja, tidak peduli penderita tersebut makan atau tidak.
 Jadi apabila anak tersebut terlambat makan siang, sementara insulin sudah mulai bekerja maka kadar gula I dalam darah akan lebih rendah lagi, sehingga anak akan mengalami hipoglikemia.
 Jika kadar glukosa darah normal dan stabil, namun bekerja terlampau berat, sehingga menggunakan glukosa dalam darah, karena pasokan insulin eksogen maka akibatnya akan mengalami juga yang dinamakan hipoglikemia.
 Kecepatan absorpsi di tempat suntikan bergantung pada beberapa faktor, antara lain lokasi suntikan, latihan, massage, suhu, dalamnya suntikan, konsentrasi/kekuatan insulin, campuran insulin, degradasi insulin pada tempat suntikan.



































DAFTAR PUSTAKA


1. Rosa M. Sacharis, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta.
2. Hudak & Gallo, 1994, Keperawatan Kritis, Vol. II, Ed. VI, EGC, Jakarta.
3. Arcole Margatan, 2001, Yang Manis Jangan Pipis, CV. Aneka, Solo.
4. Askandar T, 1996, Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi DM, Ed. 3, PT. Gramedia, Jakarta.
5. Dr. A. Bloom, 1990, Seri Kesehatan kluarga Diabetes, PT. Dian Rakyat, Jakarta.
6. http:/www.Suplemen Pikiran Rakyat HIKMAH, Invalet, Sabtu 2 Nov. 2002.
7. Koran Pak Oles, Rubrik Kesehatan, Ed. 47, Minggu ke-1, Desember 2003.
8. Prof. dr. H.M.Syaifullah Noer, 1996, Buku Ajar I Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. 3, Balai Pustaka FK-UI, Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN IMMOBILISASI

A. Etiologi
Biasanya alasan immobilisasi pada anak atau pembatasan aktivitas pada anak tanpa disability adalah sakit atau injury. Bed rest atau penggunaan alat restraining mekanik merupakan tindakan yang paling sering dilakukan untuk penyembuhan dan pemulihan. Saat anak sakit mereka cenderung diam dan aktivitasnya berkurang. Anak terpaksa tidak active karena keterbatasan fisik/teraphy akan memberikan efek terhadap keterbatasan gerak.

Alasan yang paling banyak untuk terjadinya immobilisasi antara lain:
1. Congenital defect (spina bifida)
2. Degenerative disorder (muskular dystropi)
3. Infeksi/injury pada sistem integumen (luka baker)
4. Gangguan sistem muskuloskeletal (fraktur/osteomielitis)
5. Gangguan neurologic sistem (spinal cord injury, polyneuritis, head injury)
6. Therapi (traksi, spinal fussion)


B. Efek physiologi
1. Sistem Muskular
 Otot yang tidak aktif akan mengalami kehilangan kekuatan 3% per hari, dan dalam hal ini tanpa defisit neuromuskular primer kadang-kadang memerlukan beberapa minggu/bulan untuk dapat berfungsi kembali.
 Streching dapat terjadi seperti kehilangan tonus otot atau seperti exessive strain (wirst drop/foot drop) dapat terjadi karena kerusakan jaringan/atropi otot
 Pada atropi otot yang general → penurunan kekuatan otot dan kekakuan pada persendian.
2. Skeletal sistem
 Kondisi skeletal sehari-hari akan dipertahankan antara aktivitas formasi tulang (Osteoblastic activity) dan resporsi tulang (osteoclastic actinity).
 Bila stressing pada tulang berkurang, aktivitas osteobalas menurun, akan dilanjutkan dengan destruksi tulang, calsium tulang akan berkurang, sedangkan serum nirogen dan phospor meningkat → deminralisasi tulang (osteopenia) → fraktur patologis dan peningkatan kalsium darah.
 Pada anak yang tidak dapat bergerak, seperti anak dengan penurunan kesadaran, pergerakan menjadi terbatas → kontrkator persendian.
 Kontraktor paling sering di hip, lutut, bahu, paintar, kaki.
3. Cardio vaskular sistem
Ada tiga efek yang dapat terjadi pada sistem kardio vaskuler:
a. Hypotensi ortostatik
b. Peningkatan kerja jantung
c. Trombus formation

4. Respiratory sistem
 Basal metabolisme rate menurun karena adanya penurunan kebutuhan energi dalam sel → kebutuhan sel akan oksigen menurun → produksi CO2, berkurang → penurunan kebutuhan O2 dan CO2 menyebabkan respirasi menjadi lambat dan dalam.
 Expansi dada terbatas karena adanya distensi abdomen akibat akumulasi feses, gas dan cairan atau karena penggunaan alat yang membatasi gerak seperti body cast, brace, tight bindes.

5. Gastro intestinal sistem
 Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan balance nitrogen yang negatif yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas katabolisme → penurunan kontribusi energi → ingesti nutrisi menurun → nafsu makan menurun.
 Penurunan aktivitas → efek gravitational pada pergerakan feses → fases menjadi keras → sulit untuk dikeluarkan → konstipasi.

6. Renal sistem
 Struktur dalam sistem perkemihan dirancang untuk posisi tegak lurus sehingga bila terjadi perubahan posisi kontraksi peristaltik ureter akan memberikan tahanan terhadap kandung kemih → urine menjadi statis → merangsang pembentukan batu → batu dalam saluran kemih.
 Batu dalm saluran kemih → urine statis → media untuk pertumbuhan mikro organisme → infeksi saluran kemih.

7. Integumentary sistem
Akibat immobilisasi dapat menyebabkan aliran darah menurun terutama pada daerah yang tertekan (sacrum, occiput, trokanter dan ankle) → distribusi O2 dan nutrisi menurun → ischemia jaringan → nekritic jaringan → ulcer (decubitus)

8. Neurosensory sistem
 Menurut hasil penelitian efek immobilisasi terhadap sistem neurosensory tidak begitu terlihat.
 Dua hal yang dapat terjadi : loss of innervation dan sensory and perceptual deprivation.
C. Efek psikologis
1. Tingkat kecemasan lebih tinggi
a. Resietness
b. Sulit melaksanakan problem solving
c. Depresi
d. Regresi
e. egosentris
2. Monotomy dapat mengakibatkan :
a. Sluggist intellectual response
b. Sluggist psychomotor response
c. Penurunan kemampuan komunikasi
d. Fantastis meningkat
e. Halusinasi
f. Disorentasi
g. Ketergantungan
h. Perilaku yang tidak biasa


D. Efek terhadap keluarga
1. Penurunan status finansial (sumber keuangan keluarga berkurang)
2. Fokus keluarga terhadap anak sakit, sehingga sibling merasa disia-siakan
3. Coping individu dan keluarga tidak efektif sehingga tidak dapat menanggulangi krisis keluarga yang terjadi
4. Orang tua selalu merasa bersalah atas sakit anaknya


E. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian fisik dilakukan terutama pada sistem yang mendapat efek terhadapa immobilisasi (sirkulasi, ginjal, integumen, muskuloskeletal, respirasi, gastrointestinal)
2. Diagnosa keperawatan
 Perubahan mobilitas fisik b/d restriksi mekanik, physikal ability
 Resiko terjadinya gangguan kulit b/d
 Resiko injury b/d
 Devisit aktivitas b/d

TUMOR ADNEKSA

I. KONSEP MEDIS
A. Pengertian.
Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara ototnom, lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya.
Tumor adneksa adalah tumbuhnya jaringan pada sistem reproduksi yaitu pada tuba fallopi, kemudian pada uterus dan ovarium biasanya terjadi bersamaan.
Tumor adneksa adalah tumor ganas di tuba fallopi, lebih sekunder berasal dari tumor ganas ovarium, uterus, kolorectal dan payudara.

B. Etiologi.
Tumor adneksia kebanyakan diakibatkan oleh infeksi yang menjalar ke atas dari uterus. Peradangan ini menyebar ke ovarium, peritoneum, pembuluh darah pelviks, dimana kuman itu masuk ke dalam rongga pelviks selama hubunga seksual, persalinan, aborsi sebagai akibat dari tindakan (mis. Kerokan & leparatomi)
Organ-organ tadi akan mengalami peradangan dan bersarang di tuba fallopi. Cairan purulent dapat berkumpul dalam tubuh menyebabkan perlengketan sehingga terjadi penyempitan dan mengakibatkan berbagai gangguan. Pada tuba, infeksi dapat disebabkan oleh kuman seperti streptokokkus, staphilokokkus, clostridium welche dll.

C. Patologi.
HU Taymor & Hertig membagi tumor ini menjadi 3 (tiga) jenis menurut keganasannya, yaitu :
o Jenis tumor dengan pertumbuhan papiler, tumor belum mencapai otot tuba dan deferiensiasi sel masih baik, batas daerah normal dengan tumor masih dapat ditunjukkan.
o Jenis tumor dengan pertumbuhan papiolaveolar (adenomatosa), dimana tumor telah memasuki jaringan otot dan terlihat gambaran kelenjar.
o Jenis tumor dengan pertumbuhan alveomedular : terlihat motosisi yang atopik dan investasi sel ganas ke dalam saluran limfe tuba.

D. Patogenesis.
Tumor ganas pada alat reproduksi wanita dijumpai pada semua umur (18 – 80 tahun) dengan rat-rata puncaknya pada usia 50 tahun. Kejadian paling sering pada kelompok umur 30 – 40 tahun.

E. Gejala Klinik.
Gejala yang timbul pada tumor adneksia adalah gejala perdarahan pervagina. Pada masa reproduksi, perdarahan tersebur biasanya terjadi antara 2 masa haid dan jumlahnya haya sedikit tetapi dapat berlangsung terus-menerus setiap hari.
Gejala ke-2 setelah perdarahan adalah perasaan nyeri di perut. Perasaan sakit dapat timbul sebagai akibat distensi dinding tumor.

F. Tes Diagnostik.
a. Pemeriksaan pelviks.
Digunakan untuk melihat perubahan pada vulva, vagina dan serviks dengan palpasi organ-organ dalam khususnya ovarium dan permukaan uterus.
b. Test papanicolau.
Merupakan pemeriksaan sylogis yang memungkimkan adanya sel-sel abnormal mendeteksi keganasan tumor pada tahap awal.
c. Ultrasonografi.
Merupakan alat diagnostik yang sangat berguna bagi masalah-masalah ginekologi, untuk menentukan lokasi masa tumor.
d. Endoscopy.
Dengan enoscopy dapat melihat pelviks dan jaringan sekitarnya secara langsung.
o Colposcopy vagina dan serviks di bawah kekuatan magnet yang rendah.
o Culdoscopy :
Pemasukan culdoscopy melalui vagina bagian belakang ke dalam culdecor untuk melihat tuba fallopi dan ovarium.
o Hysteroscopy :
Pemasukan hysteroscopy melalui serviks untuk melihat bagian dalam uterus.
o Laparoscopy :
Pemasukan melalui insisi kecil pada dinding abdomen.

G. Penatalaksanaan Medis.
o Pembedahan .
Total heroscopy Abdominal (TNA) dan tanpa Bilateral Salpingo Opporectomy (BSO) adalah penanganan yang sangat umum dilakukan pada tumor/kanker ginekologi.
o Radio terapy.
Radiasi ulang intra cervical saat pra bedah untuk mengecilkan tumor sehingga dapat menjamin tingkat keamanan saat dilakukan pembedahan.


II. KONSEP KEPERAWATAN.
A. Pengertian Keperawatan.
Adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan asuhan keperawatan yang mempunyai 4 (empat) tahapan, yaitu pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Tujuan perawatan :
o Membantu individu menentukan masalah kesehatan/keperawatan yang dirasakan dengan mengajak individu dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi meningkatkan kesehatan.
o Membantu individu untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.
o Membantu individu mengembangkan potensinya, memelihara kesehatannya secara optimal mungkin, agar tidak selalu tergantung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.

B. Proses Keperawatan Pada Klien dengan Tumor Adneksia.
Penkajian.
a. Biodata Klien.
o Identitas klien yaitu nama, umur, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, lamanya menikah, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk RS dan tanggal pengkajian.
o Identitas suami/penanggung.
b. Data Biologis/Fisiologis.
o Keluhan utama : Benjolan pada daerah abdomen.
o Riwayat keluhan utama :
Dipaparkan tentang awal terjadinya tumor adneksia dengan menggunakan analisa symptom PQRST, dilengkapi dengan keluhan lain dan pengaruh keluhan terhadap aktifitas/fungsi tubuh serta usaha klien serta usaha klien untuk mengatasi keluhan.
o Riwayat kesehatan masa lalu:
Yang dikaji adalah riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat opname, trauma, operasi, transfuse darah, alergi dan keiasaan spesifik klien lainnya.
o Riwayat kesehatan keluarga :
Yang dikaji adalah tiga generasi dengan mencamtumkan genogram dimana klien berada pada generasi ketiga, riwayat penyakit keturunan apakah ada anggota keluarga yang menderita tumor adneksa atau ada penyakit keturunan lainnya.
o Riwayat reproduksi :
 Riwayat haid klien meliputi monorhe, siklus haid, durasi haid, atau perlangsungan haid (dismenore, polimenore, oligomenore, amenore atau menometroragia).
 Riwayat obstetri meliputi kehamilan, persalinan dan nifas lalu, riwayat ginekologi dan KB.
c. Riwayat ADL.
Dikaji pola kegiatan sehari-hari sebelum dan pada saat sakit.
o Makanan : jenis makanan, frekuensi makan, nafsu makan, makanan pantangan dan kesukaan klien.
o Minuman : jenis dan jumlah minuman.
o Eliminasi : BAB ; frekuensi, warna, konsistensi.
BAK ; frekuensi, jumlah, warna, bau.
o Istirahat/tidur : waktu serta jumlah jam tidur malam maupun siang.
o Kebersihan diri : penampilan diri, kebersihan rambut, badan, gigi/mulut, genitalia/anus, kuku tangan/kaki serta pakaian.
o Oksigenasi : pola nafas, ada/tidaknya adanya perubahan dalam pernafasan.
o Olahraga /aktivitas : kegiatan olahraga dan aktivitas yang dilakukan klien.
d. Pemeriksaan Fisik.
1. Penampilan ibu.
2. Tingkat kesadaran.
3. Tinggi badan/berat badan.
4. Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, denyut nadi, suhu badan dan frekuensi pernafasan.
5. Kepala dan rambut : bentuk wajah, keadaan/kebersihan rambut,keadaan/kebersihan kulit kepala.
6. Wajah/muka : ekepresi wajah, ada tidaknya edema wajah/muka.
7. Mata : kebersihan, konjuntiva dan sclera.
8. Hidung : kesimetrisan, secret hidung.
9. Mulut : mukosa bibir, lidah, ada tidaknya caries.
10. Telinga : kebersihab telinga, secret telinga, keadaan luar telinga.
11. Leher : ada tidaknya pembesaran kel. gondok, vena jugularis, dan arteri carotis.
12. Dada :
 Inspeksi : bentuk dada, payudara, ekspansi paru.
 Palpasi : nyeri tekan, massa, ekspansi paru, tactil vremitus, ictus cordis.
 Perkusi : bunyi perkusi paru/jantung, pembesaran jantung.
 Auskultasi : bunyi jantung dan bunyi nafas normal serta ada tidaknya bunyi tambahan.
13. Abdomen :
 Inspeksi : pembesaran abdomen, ada tidaknya striae, dilatasi vena.
 Auskultasi : bunyi peristaltik usus, ada tidaknya bising usus/pembuluh darah.
 Perkusi : bunyi perkusi.
 Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan, massa abdomen.
14. Genitalia (vulva/anus) : kebersihannya, ada tidaknya flour albus, varices, kondilomata, ada tidaknya massa atau lesi antara rectum dan vagina.
15. tungkai bawah : kesimetrisan, ada tidaknya edema pretobial atau varices.
e. Data Psikologis/Sosiologis :
Pada klien dengan tumor adneksa biasanya ditemukan adanya perasaan cemas.
o Dikaji reaksi emosional (respon ibu/suami) setelah penyakit didiagnosa/diketahui, begitupun dengan respon anaknya.
o Dikaji jenis pertolongan yang diingingkan oleh klien.
o Dikaji peranan ibu dalam keluarga.
o Dibahas tentang hubungan klien dengan orang lain.
f. Data Spiritual.
Pada klien dengan tumor adneksia dikaji tentang :
o Usaha ibu berdoa terhadap penyakitnya.
o Pantangan menurut keyakinan ibu selama di RS.
o Kaharusan menurut keyakinan ibu selama di RS.
g. Data Penunjang :
Dikaji tentang jenis-jenis pemeriksaan penunjang, meliputi :
o Pemeriksaan laboratorium.
o Pemeriksaan radiologi


III. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Diagnosa yang dapat diambil berdasarkan penyimpangan KDM, yaitu :
1. Kecemasan b/d ancaman kematian.
2. Perubahan pola nafas b/d pembesaran abdomen.
3. Resti kerusakan integritas kulit b/d bedrest total.
4. Perubahan pola eliminasi ; BAB b/d penurunan peristaltic usus.
5. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b/d kelemahan fisik.


IV. INTERVENSI DAN RASIONAL.
Diagnosa yang diambil pada intervensi ini adalah kecemasan b/d ancaman kematian.
a) Tinjau ulang pengalaman pasien/orang terdekat sebelumnya.
R/ membantu dalam identifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pada pengalaman dengan tumor.
b) Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
R/ memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnostik.
c) Pertahankan kontak sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien bila tepat.
R/ memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak; berikan respek dan penerimaan individu, mengembangkan kepercayaan.
d) Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut untuk memulai mengembangkan strategi koping untuk menghadapi rasa takut ini.
R/ keterampilan koping sering dirusak setelah diagnosis dan selama fase pengobatan yang berbeda. Dukungan dan konseling sering perlu untuk memungkinkan individu mengenal dan menghadapi rasa takut dan untk meyakini bahwa strategi kontrol/koping tersedia.
e) Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis. Hindari memperdebatkan tentang persepsi pasien terhadap situasi.
R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.
f) Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan mayor akan dibuat.
R/ menjamin system pendukung untuk pasien dan memungkinkan orang terdekat terlibat dengan tepat.