PENDAHULUAN.
Terapi Insulin.
Insulin adalah produk utama dari pankreas, disintesa pada sel B pulau Langerhans. Insulin sebagian besar berasal dari kelenjar pankreas babi (porcine) serta insulin manusia (human).
Sekresi insulin kira-kira 1 – 2 mg/hari, tetapi 40 % diinaktifkan oleh hati sebelum memasuki sirkulasi sistemik. Sekresi insulin terutama dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa darah.
Mekanisme kerja insulin :
Setelah disentesa insulin akan disekresi ke dalam sirkulasi dalam bentuk bebas, kemudian menuju sel target, dimana ia akan berikatan dengan reseptor spesifik dan akan bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukose oleh jaringan perifer, meningkatkan pembentukan glikogen pada hati dan otot, meningkatkan sintesa lemak dan protein, serta mengurangi lipolisis dan glukogeonesis.
Indikasi terapi insulin, antara lain digunakan pada DM tipe I, DM hamil, DM kurus, DM dengan stress berat (infeksi sistemik, operasi berat), gagal dengan OHO atau kontraindikasi dengan OHO. Preparat insulin; kini tersedia sejumlah preparat insulin dalam kemasan flakon 10 mL dengan konsentrasi 40,80 dan 100 unit insulin/mL (U-40, U-80, U-100). Serta spoit yang paling umum digunakan dapat memberikan maksimun 100 unit dalam 1 cc (spuit 1 cc). spuit insulin dapat digunakan lebih dari satu kali (sampai satu minggu) oleh klien yang sama.
Preprat insulin dapat dikelompokkan ke dalam 3 tipe berdasarkan awitan, puncak dan durasi kerja :
Short acting insulin (Actrapid, Humulin R) :
Daya kerja pendek/cepat 4 – 6 jam.
Pemberian 3 kali sehari, setiap ½ jam sebelum makan.
Tampak bening/jernih.
Untuk kasus terkendali anak yang aktif.
Intermediate acting insulin (Monotord, Humulin N, Insulitard) :
Daya kerja sedang 6 – 12 jam.
Pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore), setiap ½ jam sebelum makan.
Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
Untuk anak dengan diabetes yang relative ringan atau stabil.
Long acting insulin (Mixtard).
Daya kerja lama/panjang 18 – 24 jam.
Pemberiannya 1 kali sehari, setiap ½ jam sebelum atau sesudah makan.
Tampak berwarna putih serta menyerupai susu.
Insulin diberikan pada anak usia sekolah.
Penyimpanan insulin dalam lemari pendingin dengan suhu 2°C - 8°C (bukan di freezer). Pemberian insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kadar glukosa darah, diet dan tingkat aktivitas anak (ditentukan dengan slidding scale).
Lebih dari 98 % kasus anak adalah DM tipe I (IDDM). Anak penderita DM paling banyak ditemukan pada usia 11 – 14 tahun. Sedangkan penderita paling dini ditemukan pada umur satu tahun. Anak penderita DM dapat terhambat pertumbuhannya dan masa pubertasnya juga tertunda pula. Anak penderita DM juga mengalami kondisi yang sama dengan orang dewasa, cuman awitan pada anak biasanya labih cepat dan hanya saja anak tidak banyak mengeluh.
Tujuan pengobatan anak penderita DM yaitu agar si anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, mengalami perkembangan emosional yang baik, mampu mempertahankan kadar gula darah tanpa menimbulkan komplikasi dan bertanggunga jawab untuk mandiri sesuai dengan usia dan taraf intelegensinya.
Penanganan dan program pendidikan untuk diabetes anak sebaiknya direncanakan dalam jangka waktu yang panjang disesuaikan dengan tumbuh kembang fisik dan mental anak. Anak dengan diabetes, depresi orang tua merupakan faktor penghambat keberhasilan terapi.
Oleh karena itu peran serta, dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak utamanya dokter, perawat, psikolog, ahli gizi dan petugas sosial sangat diperlukan untuk keberhasilan terapi.
Metode Pemberian Insulin.
Suntikan : - Subkutan
- intramuskular
- intavena.
Per rectal.
Melalui alat mekanik.
Masalah yang timbul akibat insulin.
Lipodistrofi.
Lipoatrofi.
Hipoglikemia.
Reaksi alergi.
Resistensi insulin.
Lipohipertrofi.
Prosedur penyuntikan insulin subkutan.
a. Persiapan alat dan bahan.
Spuit insulin + jarum steril (konsentrasi insulin sesuai dengan unit kalibrasi pada spuit insulin).
Desinfektan (kapas + etil alkohol 70 %)
Obat infeksi (Insulin tipe, konsentrasi dan expiry).
Nierbekken.
b. Persiapan klien.
1. Mengidentifikasi klien.
2. Menjelaskan prosedur tindakan.
3. Menyiapkan lingkungan.
c. Prosedur kerja.
1. Mencuci tangan dengan baik.
2. Menyiapkan dosis obat :
o Pilihlah flakon insulin (bukan dikocok) dalam telapak tangan untuk mencampur insulin dengan baik, (untuk semua insulin kecuali insulin kerja singkat).
o Usap bagian atas flakon insulin dengan kapas alkohol 70 %.
o Suntikan sejumlah udara yang sama dengan jumlah dosis insulin yang akan digunakan ke dalam falkon. Aspirasi insulin kerja singkat terlebih dahulu kemudian kerja sedang atau kerja lama, lalu putar-putar alat suntikan agar kedua tipe insulin benar-benar tercampur (bila diberikan insulin campuran) hati-hati agar tidak dimasukkan salah satu tipe insulin ke dalam botol yang berisi tipe insulin yang berbeda.
o Amati spuit terhadap adanya gelembung udara, periksa apakah dosis sudah tepat dan pasangkan kembali tutup spoit.
3. Menentukan lokasi injeksi :
o Ada empat daerah utama untuk penyuntikan insulin, yaitu abdomen, lengan (permukaan posterior), paha (permukaan anterior) dan bokong.
o Absorpsi tercepat di abdomen, sedang di lengan, paling lambat dip aha dan daerah bokong diantaranya.
o Lokasi pada abdomen : Hindari garis pinggang, tepat pada M. rectus abdominis dengan 2,5 cm mengitari umbilikus.
o Lokasi pada lengan : Mulai di bawah M. deltoid dan berakhir satu lebar tangan di atas siku. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan kearah luar secara lateral, dengan menggunakan hanya pemukaan eksternal (3 – 5 inc dari siku dorso lateral).
o Lokasi pada paha : Mulai satu lebar tangan di bawah panggul dan berakhir satu lebar tangan di atas lutut. Mulai pada garis tengah dan lanjutkan ke luar secara lateral, dengan hanya menggunakan permukaan luar (permukaan anterior).
o Lokasi pada bokong : Gunakan kuadran luar atas dari bokong.
4. Mengahapus hama lokasi injeksi dengan menggunakan kapas alcohol 70 %.
5. Meregangkan kulit membentuk suatu daerah yang cukup luas (cubit dan tahan lipatan kulit) dan menusukkan jarum injeksi dengan sudut 45° - 90°.
6. Menyuntikkan insulin, dengan menekan madrin sampai habis (obat dimasukkan perlahan-lahan).
7. Mencabut jarum injeksi dan menekan daerah penyuntikan selama 5 – 10 detik dengan menggunakan kapas alcohol 70 % sambil melakukan massage (untuk mencegah merembesnya darah/serum dan mempercepat absorpsi insulin dari daerah penyuntikan.
8. Membereskan alat-alat.
9. Mencuci tangan.
10. Mengobservasi reaksi klien.
11. Mencatat jam dan tanggal pemberian penyuntikan, serta dosis obat.
Prosedur penyuntikan insulin Intramuskular dan Intravena.
Prosedur penyuntikan insulin secara intramuskular dan intravena hampir sama dengan prosedur penyuntikan insulin secara subkutan, dengan sedikit perbedaan yaitu pada penyuntikan secara intramuskular, dilakukan aspirasi setelah penusukan jarum injeksi untuk memeriksa apakah ada darah yang terisap masuk ke dalam spoit hal ini menandakan bahwa jarum injeksi mengenai pembuluh darah/syaraf, dalam hal ini mencegah kelumpuhan pada syaraf dan syok anfilaktik. Sedangkan pada penyuntikan secara intravena dilakukan pembendungan sebelum pemasukan jarum injeksi untuk lokalisasi penusukan jarum injeksi.
Prosedur pemberian insulin per rectal.
1. Persiapan alat dan bahan.
Obat insulin Suppositoria 100 µ (indikasi DM tipe II, 15 menit sesudah makan dan diberikan 3 kali sehari).
Nierbekken.
Handschoen steril.
2. Persiapan klien
o Menjelaskan kepada klien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
o Memasang sampiran/tabir disekeliling tempat tidur.
3. Prosedur kerja.
o Menawarkan klien untuk BAB atau BAK.
o Membebaskan pakaian bagian bawah.
o Mengatur posisi klien, dengan dimiringkan kekanan atau kekiri seperti letak sinus.
o Meletakkan nierbekken di bawah anus.
o Perawat memakai handschoen steril.
o Memasukkan obat ke dalam rectum sambil menyuruh klien menarik nafas panjang.
o Anjurkan klien istirahat baring selama 20 menit.
o Melepaskan handschoen dan meletakkan pada nierbekken.
o Merapikan pakaian klien dan lingkungannya.
o Membereskan alat-alat.
o Mencuci tangan.
o Mengobservasi reaksi klien.
o Mencatat jam dan tanggal pemberian obat.
Prosedur pemberian insulin melalui alat mekanik.
1. Persiapan alat dan bahan.
Obat insulin (insulin regular) + spuit insulin.
Set mikrodips steril.
Standar infus + infusion pump/sharing pump.
Abocath steril dengan nomor yang sesuai.
Cairan infus steril (Dex 5 %, NaCl 0,9 %, Maltosa 10 %).
Nierbekken.
Kapas alkohol 70 % + kasa steril.
Plester + gunting.
Bethadine 10 %.
Tourniquet.
Bidai dan pembalut (K/P).
Perlak kecil.
Handschoen steril.
2. Persiapan klien.
o Mengidentifikasi klien.
o Menjelaskan prosedur tindakan pada klien (jika klien dalam keadaan sadar).
o Menyiapkan lingkungan.
3. Mengisi Mikrodips.
a. Mencuci tangan.
b. Memeriksa etiket.
c. Menggantungkan botol/cairan infuse.
d. Mengahapus hama karet penitip botol.
e. Pengatur tetesan ditutup, jaraknya 2 – 4 cm.
f. Menusukkan set mikrodips ke dalam botol infus, pengatur tetesan dibuka.
g. Ruang mikrodips diisi sampai tanda 100 cc dan masukkan obat insulin (sesuai instruksi).
h. Ruang tetesan diisi setengah (jangan sampai terendam).
i. Slang mikrodips diisi dan udara dikeluarkan, kemudian pengatur tetesan ditutup.
j. Slang mikrodips dipasang pada infusion pump/shering pump.
4. Melakukan vena punksi.
a. Menentukan lokasi.
b. Meletakkan perlak kecil di bawah bagian yang akan di punksi.
c. Melakukan pembendungan.
d. Memakai handschoen steril.
e. Menghapus hama lokasi punksi.
f. Memasukkan kateter abocath ke dalam vena yang dimaksud.
g. Buka pembendung, sambungkan kateter abocath dengan salng mikrodips dan pengatur dibuka.
h. Menilai ada/tidaknya pembengkakan.
i. Kateter abocath ditambatkan dengan plester.
j. Daerah punksi diberi bethadine dan ditutup kasa steril lalu diplester.
k. Pasang bidai dan dibalut (K/P).
l. Mengatur tetesan pada kode D. Rate di infusion pump/sharing pump (sesuai instruksi).
m. Merapikan klien.
n. Membereskan alat-alat.
o. Mengobservasi reaksi klien.
p. Mencatat tanggal dan jam pemberian, serta dosis obat dan macam cairan.
q. Mencuci tangan.
Jadwal pemberian insulin :
Sebelum makan pagi.
Sebelum makan siang.
2 jam setelah makan.
Jam 6 pagi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam terapi insulin pada anak :
Ajarkan orang tua/klien mengenai teknik penyuntikan insulin secara mandiri.
Jelaskan peralatan yang harus dibeli orang tua untuk penggunaan insulin di rumah.
Jelaskan informasi tentang tanda/gejala dan pencegahan komplikasi DM (Hipoglikemia, Hyperglikemia, DKA) pada orang tua dan anak.
Gunakan hanya insulin regular dalam infus insulin intravena, karena insulin ini kurang antigenik.
Short acting insulin dapat diberikan secara IV, IM, SC dan dapat ditambahkan dalam cairan infuse seperti a. amino, glokosa, elektrolit serta sebaiknya tidak diberikan bersama produk darah karena mengandung enzim yang dapat menyebabkan degradasi insulin.
Intermediate dan long acting insulin tak dapat diberikan secara IV karena bahaya emboli.
Anjurkan orang tua/klien untuk memantau daerah injeksi insulin.
Bantu anak mengontrol rasa takut terhadap injeksi melalui bermain interaktif dan partisipasi dalam prosedur.
Pada klien kurus yang memiliki sedikit jaringan adiposity, dipakai sudut 45º - 60º.
Kebutuhan akan insulin menurun disebabkan interaksi obat seperti aspirin, antikoagulansia dan antidepressant yang akan menurunkan gula darah.
Jelaskan rotasi tempat penyuntikan dalam suatu daerah anatomis pada orang tua/klien. (Pada daerah yang sama injeksi pertama dan beikutnya harus berjarak 1 ½ cm/satu ruas jari tangan).
Insulin yang berasal dari kelenjar pankreas sapi dan insulin manusia lebih banyak memberikan efek samping (alergi), oleh karena itu sebelum diinjeksikan harus dilakukan skin test.
Normalnya ketika anak makan, pasti memproduksi insulin. Sebaliknya, apabila anak tidak makan makan maka insulin tidak dibutuhkan.
Bagi penderita diabetes yang selalu menggunakan dosis insulin secara tetap setiap pagi, lalu insulin bekerja, tidak peduli penderita tersebut makan atau tidak.
Jadi apabila anak tersebut terlambat makan siang, sementara insulin sudah mulai bekerja maka kadar gula I dalam darah akan lebih rendah lagi, sehingga anak akan mengalami hipoglikemia.
Jika kadar glukosa darah normal dan stabil, namun bekerja terlampau berat, sehingga menggunakan glukosa dalam darah, karena pasokan insulin eksogen maka akibatnya akan mengalami juga yang dinamakan hipoglikemia.
Kecepatan absorpsi di tempat suntikan bergantung pada beberapa faktor, antara lain lokasi suntikan, latihan, massage, suhu, dalamnya suntikan, konsentrasi/kekuatan insulin, campuran insulin, degradasi insulin pada tempat suntikan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rosa M. Sacharis, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta.
2. Hudak & Gallo, 1994, Keperawatan Kritis, Vol. II, Ed. VI, EGC, Jakarta.
3. Arcole Margatan, 2001, Yang Manis Jangan Pipis, CV. Aneka, Solo.
4. Askandar T, 1996, Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi DM, Ed. 3, PT. Gramedia, Jakarta.
5. Dr. A. Bloom, 1990, Seri Kesehatan kluarga Diabetes, PT. Dian Rakyat, Jakarta.
6. http:/www.Suplemen Pikiran Rakyat HIKMAH, Invalet, Sabtu 2 Nov. 2002.
7. Koran Pak Oles, Rubrik Kesehatan, Ed. 47, Minggu ke-1, Desember 2003.
8. Prof. dr. H.M.Syaifullah Noer, 1996, Buku Ajar I Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. 3, Balai Pustaka FK-UI, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar