A. Etiologi
Biasanya alasan immobilisasi pada anak atau pembatasan aktivitas pada anak tanpa disability adalah sakit atau injury. Bed rest atau penggunaan alat restraining mekanik merupakan tindakan yang paling sering dilakukan untuk penyembuhan dan pemulihan. Saat anak sakit mereka cenderung diam dan aktivitasnya berkurang. Anak terpaksa tidak active karena keterbatasan fisik/teraphy akan memberikan efek terhadap keterbatasan gerak.
Alasan yang paling banyak untuk terjadinya immobilisasi antara lain:
1. Congenital defect (spina bifida)
2. Degenerative disorder (muskular dystropi)
3. Infeksi/injury pada sistem integumen (luka baker)
4. Gangguan sistem muskuloskeletal (fraktur/osteomielitis)
5. Gangguan neurologic sistem (spinal cord injury, polyneuritis, head injury)
6. Therapi (traksi, spinal fussion)
B. Efek physiologi
1. Sistem Muskular
Otot yang tidak aktif akan mengalami kehilangan kekuatan 3% per hari, dan dalam hal ini tanpa defisit neuromuskular primer kadang-kadang memerlukan beberapa minggu/bulan untuk dapat berfungsi kembali.
Streching dapat terjadi seperti kehilangan tonus otot atau seperti exessive strain (wirst drop/foot drop) dapat terjadi karena kerusakan jaringan/atropi otot
Pada atropi otot yang general → penurunan kekuatan otot dan kekakuan pada persendian.
2. Skeletal sistem
Kondisi skeletal sehari-hari akan dipertahankan antara aktivitas formasi tulang (Osteoblastic activity) dan resporsi tulang (osteoclastic actinity).
Bila stressing pada tulang berkurang, aktivitas osteobalas menurun, akan dilanjutkan dengan destruksi tulang, calsium tulang akan berkurang, sedangkan serum nirogen dan phospor meningkat → deminralisasi tulang (osteopenia) → fraktur patologis dan peningkatan kalsium darah.
Pada anak yang tidak dapat bergerak, seperti anak dengan penurunan kesadaran, pergerakan menjadi terbatas → kontrkator persendian.
Kontraktor paling sering di hip, lutut, bahu, paintar, kaki.
3. Cardio vaskular sistem
Ada tiga efek yang dapat terjadi pada sistem kardio vaskuler:
a. Hypotensi ortostatik
b. Peningkatan kerja jantung
c. Trombus formation
4. Respiratory sistem
Basal metabolisme rate menurun karena adanya penurunan kebutuhan energi dalam sel → kebutuhan sel akan oksigen menurun → produksi CO2, berkurang → penurunan kebutuhan O2 dan CO2 menyebabkan respirasi menjadi lambat dan dalam.
Expansi dada terbatas karena adanya distensi abdomen akibat akumulasi feses, gas dan cairan atau karena penggunaan alat yang membatasi gerak seperti body cast, brace, tight bindes.
5. Gastro intestinal sistem
Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan balance nitrogen yang negatif yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas katabolisme → penurunan kontribusi energi → ingesti nutrisi menurun → nafsu makan menurun.
Penurunan aktivitas → efek gravitational pada pergerakan feses → fases menjadi keras → sulit untuk dikeluarkan → konstipasi.
6. Renal sistem
Struktur dalam sistem perkemihan dirancang untuk posisi tegak lurus sehingga bila terjadi perubahan posisi kontraksi peristaltik ureter akan memberikan tahanan terhadap kandung kemih → urine menjadi statis → merangsang pembentukan batu → batu dalam saluran kemih.
Batu dalm saluran kemih → urine statis → media untuk pertumbuhan mikro organisme → infeksi saluran kemih.
7. Integumentary sistem
Akibat immobilisasi dapat menyebabkan aliran darah menurun terutama pada daerah yang tertekan (sacrum, occiput, trokanter dan ankle) → distribusi O2 dan nutrisi menurun → ischemia jaringan → nekritic jaringan → ulcer (decubitus)
8. Neurosensory sistem
Menurut hasil penelitian efek immobilisasi terhadap sistem neurosensory tidak begitu terlihat.
Dua hal yang dapat terjadi : loss of innervation dan sensory and perceptual deprivation.
C. Efek psikologis
1. Tingkat kecemasan lebih tinggi
a. Resietness
b. Sulit melaksanakan problem solving
c. Depresi
d. Regresi
e. egosentris
2. Monotomy dapat mengakibatkan :
a. Sluggist intellectual response
b. Sluggist psychomotor response
c. Penurunan kemampuan komunikasi
d. Fantastis meningkat
e. Halusinasi
f. Disorentasi
g. Ketergantungan
h. Perilaku yang tidak biasa
D. Efek terhadap keluarga
1. Penurunan status finansial (sumber keuangan keluarga berkurang)
2. Fokus keluarga terhadap anak sakit, sehingga sibling merasa disia-siakan
3. Coping individu dan keluarga tidak efektif sehingga tidak dapat menanggulangi krisis keluarga yang terjadi
4. Orang tua selalu merasa bersalah atas sakit anaknya
E. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian fisik dilakukan terutama pada sistem yang mendapat efek terhadapa immobilisasi (sirkulasi, ginjal, integumen, muskuloskeletal, respirasi, gastrointestinal)
2. Diagnosa keperawatan
Perubahan mobilitas fisik b/d restriksi mekanik, physikal ability
Resiko terjadinya gangguan kulit b/d
Resiko injury b/d
Devisit aktivitas b/d
Tidak ada komentar:
Posting Komentar